Meningkatkan Nilai Arang Tempurung Jadi Karbon Aktif

Posted on August 23, 2010

0


Arang tempurung kelapa selama ini lebih sering kita kenal sebagai bahan bakar untuk pemanggangan ikan atau makanan lain. Di balik kehitaman arang tempurung kelapa itu, ternyata menyimpan nilai ekonomis yang lebih tinggi lagi.

Tempurung kelapa yang dijadikan arang dapat ditingkatkan nilai ekonomisnya dengan menjadikannya karbon aktif. Cara membuat karbon aktif dari tempurung kelapa juga relatif lebih mudah.

Karbon aktif berfungsi sebagai filter untuk menjernihkan air, pemurnian gas, industri minuman, farmasi, katalisator, dan berbagai macam penggunaan lain. Tempurung kelapa adalah salah satu bahan karbon aktif yang kualitasnya cukup baik dijadikan karbon aktif.

Bentuk dan ukuran, dan kualitas tempurung kelapa harus diperhatikan ketika membuat karbon aktif. Tempurung kelapa yang akan dijadikan bahan pembuat karbon aktif, sebaiknya bebentuk setengah atau seperempat ukuran tempurung.

Jika ukurannya terlalu hancur, maka tempurung itu kurang baik dijadikan bahan pembuat karbon aktif. Dari segi kualitas, tempurung kelapa yang memenuhi syarat dijadikan bahan karbon aktif adalah kelapa yang benar-benar tua hingga warnanya hitam mengkilap dan keras.

Tempurung yang dijadikan bahan pembuat karbon aktif umumnya dari kelapa yang dijadikan kopra. Batok kelapa yang dihasilkan merupakan belahan dua dari satu buah kelapa utuh. Untuk membuat karbon aktif yang benar-benar berkualitas, tempurung harus bersih dan terpisah dari sabutnya.

Ada dua tahapan membuat karbon aktif yang berkualitas dari tempurung kelapa. Tahap pertama yang harus dilakukan adalah tempurung dibuat arang dengan peralatan drum berpenutup.

Tahap kedua, melalui proses penggilingan arang tempurung hingga menghasilkan karbon aktif dan serbuk arang. Serbuk arang ini masih bisa diproses menjadi briket arang tempurung. Penggilingan itu dilakukan dengan mesin sederhana berpenggerak listrik, diesel, atau bensin.

Kualitas tempurung dan proses pembakaran akan sangat menentukan rendemen karbon aktif yang dihasilkan. Kualitas tempurung kelapa biasa lebih baik dibanding kelapa hibrida.

Agar dapat memperoleh rendemen karbon aktif yang lebih baik, langkah-langkah proses pembakaran dengan cara drum diberi empat lubang di bagian bawah. Agar selama pembakaran udara bisa masuk, drum harus diganjal tiga potongan batu bata.

Pembakaran arang dilakukan lapis demi lapis tempurung. Memulai pembakaran bisa dengan menggunakan kertas atau daun kelapa kering yang ditaruh di atas satu lapis tempurung di dasar drum. Setelah tempurung lapisan pertama terbakar, sedikit demi sedikit satu lapisan ditaruh diatasnya. Langkah ini terus dilakukan sampai drum penuh.

Ketika tempurung lapisan atas mulai terbakar, batu bata yang menjadi ganjalan drum perlahan-lahan diambil, sehingga dasar drum langsung menyentuh tanah dan menutup lubang. Kemudian drum ditutup rapat-rapat dan jangan sampai ada udara yang masuk.

Jika ada udara yang masuk, maka arang yang ada dalam drum akan menjadi abu. Tetapi kalau drum ditutup rapat sebelum seluruh tempurung terbakar, tempurung tidak akan menjadi arang.

Keesokan harinya, setelah drum dingin, tutupnya dibuka, kemudian drum dibaringkan. Arang tempurung kemudian dibongkar secara perlahan-lahan. Arang tempurung yang tampak hitam, mengkilap, utuh, keras, dan mudah dipatahkan menunjukkan kualitasnya baik. kadar air dalam arang tempurung kelapa antara 50-70 persen.

Karbon Aktif dan Komposisinya

Karbon atau arang aktif adalah material yang berbentuk butiran atau bubuk yang berasal dari material yang mengandung karbon misalnya batubara, kulit kelapa, dan sebagainya. Dengan pengolahan tertentu yaitu proses aktivasi seperti perlakuan dengan tekanan dan suhu tinggi, dapat diperoleh karbon aktif yang memiliki permukaan dalam yang luas.

Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Ketika pemanasan berlangsung, diusahakan agar tidak terjadi kebocoran udara didalam ruangan pemanasan sehingga bahan yang mengandung karbon tersebut hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi. Arang selain digunakan sebagai bahan bakar, juga dapat digunakan sebagai adsorben (penyerap). Daya serap ditentukan oleh luas permukaan partikel dan kemampuan ini dapat menjadi lebih tinggi jika terhadap arang tersebut dilakukan aktifasi dengan bahan-bahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur tinggi. Dengan demikian, arang akan mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan kimia. Arang yang demikian disebut sebagai arang aktif.

Dalam satu gram karbon aktif, pada umumnya memiliki luas permukaan seluas 500-1500 m2, sehingga sangat efektif dalam menangkap partikel-partikel yang sangat halus berukuran 0.01-0.0000001 mm. Karbon aktif bersifat sangat aktif dan akan menyerap apa saja yang kontak dengan karbon tersebut. Dalam waktu 60 jam biasanya karbon aktif tersebut manjadi jenuh dan tidak aktif lagi. Oleh karena itu biasanya arang aktif di kemas dalam kemasan yang kedap udara. Sampai tahap tertentu beberapa jenis arang aktif dapat di reaktivasi kembali, meskipun demikian tidak jarang yang disarankan untuk sekali pakai. Reaktifasi karbon aktif sangat tergantung dari metode aktivasi sebelumnya, oleh karena itu perlu diperhatikan keterangan pada kemasan produk tersebut.

Karbon aktif tersedia dalam berbagai bentuk misalnya gravel, pelet (0.8-5 mm) lembaran fiber, bubuk (PAC : powder active carbon, 0.18 mm atau US mesh 80) dan butiran-butiran kecil (GAC : Granular Active carbon, 0.2-5 mm) dsb. Serbuk karbon aktif PAC lebih mudah digunakan dalam pengolahan air dengan sistem pembubuhan yang sederhana.

Serbuk (powder) Butiran (granule) Bongkahan (gravel) Pelet

Bahan baku yang berasal dari hewan, tumbuh-tumbuhan, limbah ataupun mineral yang mengandung karbon dapat dibuat menjadi arang aktif, bahan tersebut antara lain: tulang, kayu lunak, sekam, tongkol jagung, tempurung kelapa, sabut kelapa, ampas penggilingan tebu, ampas pembuatan kertas, serbuk gergaji, kayu keras dan batubara.

Di negara tropis masih dijumpai arang yang dihasilkan secara tradisional yaitu dengan menggunakan drum atau lubang dalam tanah, dengan tahap pengolahan sebagai berikut: bahan yang akan dibakar dimasukkan dalam lubang atau drum yang terbuat dari plat besi. Kemudian dinyalakan sehingga bahan baku tersebut terbakar, pada saat pembakaran, drum atau lubang ditutup sehingga hanya ventilasi yang dibiarkan terbuka. lni bertujuan sebagai jalan keluarnya asap. Ketika asap yang keluar berwarna kebiru-biruan, ventilasi ditutup dan dibiarkan selama kurang lebih kurang 8 jam atau satu malam. Dengan hati-hati lubang atau dibuka dan dicek apakah masih ada bara yang menyala. Jika masih ada yang atau drum ditutup kembali. Tidak dibenarkan mengggunakan air untuk mematikan bara yang sedang menyala, karena dapat menurunkan kwalitas arang. Akan tetapi secara umum proses pembuatan arang aktif dapat dibagi dua yaitu:

1. Proses Kimia.

Bahan baku dicampur dengan bahan-bahan kimia tertentu, kemudian dibuat padat. Selanjutnya padatan tersebut dibentuk menjadi batangan dan dikeringkan serta dipotong-potong. Aktifasi dilakukan pada temperatur 100 °C. Arang aktif yang dihasilkan, dicuci dengan air selanjutnya dikeringkan pada temperatur 300 °C. Dengan proses kimia, bahan baku dapat dikarbonisasi terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan bahan-bahan kimia.

2. Proses Fisika

Bahan baku terlebih dahulu dibuat arang. Selanjutnya arang tersebut digiling, diayak untuk selanjutnya diaktifasi dengan cara pemanasan pada temperatur 1000 °C yang disertai pengaliran uap. Proses fisika banyak digunakan dalam aktifasi arang antara lain :

a. Proses Briket: bahan baku atau arang terlebih dahulu dibuat briket, dengan cara mencampurkan bahan baku atau arang halus dengan “ter”. Kemudian, briket yang dihasilkan dikeringkan pada 550 °C untuk selanjutnya diaktifasi dengan uap.

b. Destilasi kering: merupakan suatu proses penguraian suatu bahan akibat adanya pemanasan pada temperatur tinggi dalam keadaan sedikit maupun tanpa udara. Hasil yang diperoleh berupa residu yaitu arang dan destilat yang terdiri dari campuran metanol dan asam asetat. Residu yang dihasilkan bukan merupakan karbon murni, tetapi masih mengandung abu dan “ter”. Hasil yang diperoleh seperti metanol, asam asetat dan arang tergantung pada bahan baku yang digunakan dan metoda destilasi. Diharapkan daya serap arang aktif yang dihasilkan dapat menyerupai atau lebih baik dari pada daya serap arang aktif yang diaktifkan dengan menyertakan bahan-bahan kimia. Juga dengan cara ini, pencemaran lingkungan sebagai akibat adanya penguraian senyawa-lenyawa kimia dari bahan-bahan pada saat proses pengarangan dapat diihindari. Selain itu, dapat dihasilkan asap cair sebagai hasil pengembunan uap hasil penguraian senyawa-senyawa organik dari bahan baku.

Ada empat hal yang dapat dijadikan batasan dari penguraian komponen kayu yang terjadi karena pemanasan pada proses destilasi kering, yaitu:

1. Batasan A adalah suhu pemanasan sampai 200 °C. Air yang terkandung dalam bahan baku keluar menjadi uap, sehingga kayu menjadi kering, retak-retak dan bengkok. Kandungan karbon lebih kurang 60 %.

2. Batasan B adalah suhu pemanasan antara 200-280 °C. Kayu secara perlahan – lahan menjadi arang dan destilat mulai dihasilkan. Warna arang menjadi coklat gelap serta kandungan karbonnya lebih kurang 700%.

3. Batasan C adalah suhu pemanasan antara 280-500 °C. Pada suhu ini akan terjadi karbonisasi selulosa, penguraian lignin dan menghasilkan “ter”. Arang yang terbentuk berwarna hitam serta kandungan karbonnya meningkat menjadi 80%. Proses pengarangan secara praktis berhenti pada suhu 400 °C.

4. Batasan D adalah suhu pemanasan 500 °C, terjadi proses pemurnian arang, dimana pembentukan “ter” masih terus berlangsung. Kadar karbon akan meningkat mencapai 90%. Pemanasan diatas 700 °C, hanya menghasilkan gas hidrogen.

Namun secara umum dan sederhana proses pembuatan arang aktif terdiri dari tiga tahap yaitu:

1. Dehidrasi : proses penghilangan air dimana bahan baku dipanaskan sampai temperatur 170 °C.

2. Karbonisasi : pemecahan bahan-bahan organik menjadi karbon. Suhu diatas 170°C akan menghasilkan CO, CO2 dan asam asetat. Pada suhu 275°C, dekomposisi menghasilkan “ter”, metanol dan hasil samping lainnya. Pembentukan karbon terjadi pada temperatur 400 – 600 0C

3. Aktifasi : dekomposisi tar dan perluasan pori-pori. Dapat dilakukan dengan uap atau CO2 sebagai aktifator.

Proses aktifasi merupakan hal yang penting diperhatikan disamping bahan baku yang digunakan. Yang dimaksud dengan aktifasi adalah suatu perlakuan terhadap arang yang bertujuan untuk memperbesar pori yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon atau mengoksidasi molekul – molekul permukaan sehingga arang mengalami perubahan sifat, baik fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah besar dan berpengaruh terhadap daya adsorpsi. Metoda aktifasi yang umum digunakan dalam pembuatan arang aktif adalah:

1. Aktifasi Kimia.

Aktifasi ini merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan pemakian bahan-bahan kimia. Aktifator yang digunakan adalah bahan-bahan kimia seperti: hidroksida logam alkali garam-garam karbonat, klorida, sulfat, fosfat dari logam alkali tanah dan khususnya ZnCl2, asam-asam anorganik seperti H2SO4 dan H3PO4.

2. Aktifasi Fisika.

Aktifasi ini merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan bantuan panas, uap dan CO2. Umumnya arang dipanaskan didalam tanur pada temperatur 800-900°C. Oksidasi dengan udara pada temperatur rendah merupakan reaksi eksoterm sehingga sulit untuk mengontrolnya. Sedangkan pemanasan dengan uap atau CO2 pada temperatur tinggi merupakan reaksi endoterm, sehingga lebih mudah dikontrol dan paling umum digunakan.

Beberapa bahan baku lebih mudah untuk diaktifasi jika diklorinasi terlebih dahulu. Selanjutnya dikarbonisasi untuk menghilangkan hidrokarbon yang terklorinasi dan akhimya diaktifasi dengan uap. Juga memungkinkan untuk memperlakukan arang kayu dengan uap belerang pada temperatur 500°C dan kemudian desulfurisasi dengan H2 untuk mendapatkan arang dengan aktifitas tinggi. Dalam beberapa bahan barang yang diaktifasi dengan percampuran bahan kimia, diberikan aktifasi kedua dengan uap untuk memberikan sifat fisika tertentu.

Dengan bertambah lamanya destilasi serta bertambah tingginya temperatur destilasi, mengakibatkan jumlah arang yang dihasilkan semakin kecil, sedangkan destilasi dan daya serap makin besar. Meskipun dengan semakin bertambahnya temperatur destilasi, daya serap arang aktif semakin baik, masih diperlukan pembatasan temperatur yaitu tidak melebihi 1000 0C, karena banyak terbentuk abu sehingga menutupi pori-pori yang berfungsi untuk mengadsorpsi. Sebagai akibatnya daya serap arang aktif akan menurun. Selanjutnya campuran arang dan aktifator dipanaskan pada temperatur dan waktu tertentu. Hasil yang diperoleh, diuji daya serapnya terhadap larutan Iodium.

Menurut SII No.0258 -79, arang aktif yang baik mempunyai persyaratan seperti yang tercantum pada tabel berikut ini:

Tabel. 1 Spesifikasi karbon aktif.

Jenis Persyaratan
Bagian yang hilang pada pemanasan 950 oC. Maksimum 15%
Air Maksimum 10%
Abu Maksimum 2,5%
Bagian yang tidak diperarang Tidak nyata
Daya serap terhadap larutan I Minimum 20%

Karbon aktif terbagi atas 2 tipe yaitu arang aktif sebagai pemucat dan arang aktif sebagai penyerap uap.

1. Arang aktif sebagai pemucat.

Biasanya berbentuk serbuk yang sangat halus dengan diameter pori mencapai 1000 A0 yang digunakan dalam fase cair. Umumnya berfungsi untuk memindahkan zat-zat penganggu yang menyebabkan warna dan bau yang tidak diharapkan dan membebaskan pelarut dari zat – zat penganggu dan kegunaan yang lainnya pada industri kimia dan industri baru. Arang aktif ini diperoleh dari serbuk – serbuk gergaji, ampas pembuatan kertas atau dari bahan baku yang mempunyai densitas kecil dan mempunyai struktur yang lemah.

2. Arang aktif sebagai penyerap uap.

Biasanya berbentuk granula atau pellet yang sangat keras dengan diameter pori berkisar antara 10-200 A0. Tipe porinya lebih halus dan digunakan dalam fase gas yang berfungsi untuk memperoleh kembali pelarut atau katalis pada pemisahan dan pemurnian gas. Umumnya arang ini dapat diperoleh dari tempurung kelapa, tulang, batu bata atau bahan baku yang mempunyai struktur keras.

Sehubungan dengan bahan baku yang digunakan dalam pembuatan arang aktif untuk masing- masing tipe, pernyataan diatas bukan merupakan suatu keharusan.

Dengan proses oksidasi karbon aktif yang dihasilkan terdiri dari dua jenis, yaitu :

1. L-karbon (L-AC)

Karbon aktif yang dibuat dengan oksidasi pada suhu 300oC – 400oC (570o-750oF) dengan menggunakan udara atau oksidasi kimia. L-AC sangat cocok dalam mengadsorbsi ion terlarut dari logam berat basa seperti Pb2+, Cu2+, Cd2+, Hg2+. Karakter permukaannya yang bersifat asam akan berinteraksi dengan logam basa. Regenerasi dari L-AC dapat dilakukan menggunakan asam atau garam seperti NaCl yang hampir sama perlakuannya pada pertukaran ion.

2. H-karbon (H-AC)

Karbon aktif yang dihasilkan dari proses pemasakan pada suhu 800o-1000oC (1470o-1830oF) kemudian didinginkan pada atmosfer inersial. H-AC memiliki permukaan yang bersifat basa sehingga tidak efektif dalam mengadsorbsi logam berat alkali pada suatu larutan air tetapi sangat lebih effisien dalam mengadsorbsi kimia organik, partikulat hidrofobik, dan senyawa kimia yang mempunyai kelarutan yang rendah dalam air. Akan tetapi H-AC dapat dimodifikasi dengan menaikan angka asiditas. Permukaan yang netral akan mengakibatkan tidak efektifnya dalam mereduksi dan mengadsorbsi kimia organik sehingga efektif mengadsorbsi ion logam berat dengan kompleks khelat zat organik alami maupun sintetik dengan menetralkannya.

Dalam aplikasi karbon aktif baik yang digunakan sebagai media adsorbsi, pemberat atau media filtrasi dengan titik injeksi tertentu, maka kriteria desain titik pembubuhan karbon aktif perlu diperhatikan, yaitu :

1. Karbon yang terdapat didalam kantong langsung dimasukkan kedalam tangki penyimpanan dan dicampur dengan air untuk disiapkan menjadi larutan yang mengandung 0,1 kg karbon aktif bubuk per 1 liter larutan. Lebih baik lagi apabila suatu instalasi memiliki 2 tangki larutan, maka persediaan larutan karbon aktif untuk dibubuhkan dapat ditempatkan dalam 2 tangki, jika larutan didalam satu tangki sudah kosong, maka sudah tersedia larutan didalam tangki yang lain untuk dibubuhkan, tanpa harus menunggu persiapan larutan karbon aktif yang baru.

2. Agitator mekanik harus disediakan dalam tangki penyimpanan untuk menjaga larutan karbon aktif tetap “tersuspensi” didalam larutan atau menjaga larutan agar tidak memadat

3. Larutan biasanya dipompakan kedalam tangki yang menampung sejumlah larutan dan akan diumpankan untuk lebih dari beberapa jam berikutnya. Tanki tersebut harus mudah dibersihkan dan dipelihara. Tangki ini harus mempunyai lapisan anti karat seperti cat epoxy atau bitumastik untuk melindunginya dari pengkaratan.

4. Pipa pembawa larutan karbon aktif bubuk harus dipasang menurun/landai menuju tempat pembubuhan, dengan perlengkapan untuk mendorong karbon yang mungkin mengendap dan menyumbat didalam pipa. Pipa harus terbuat dari bahan bebas karat dan bebas erosi seperti karet, plastik dan besi baja. Pendorong pipa dan mata pisau pencampur dalam tangki penyimpanan dan tangki harus terbuat dari besi baja untuk menahan karat dan erosi.

5. Masalah yang paling umum dalam pengoperasian karbon aktif bubuk adalah penanganan bahan kimia. Karena berbentuk bubuk, maka debu merupakan masalah utama, khususnya jika sistem pencampuran kering digunakan.

6. Jika karbon aktif bubuk digunakan secara terus menerus atau jika sejumlah besar digunakan dalam waktu tertentu, pengalihan ke sistem basah harus dipertimbangkan

7. Pada instalasi pengolahan air, karbon aktif yang mengalir melewati saringan dan memasuki sistem distribusi dapat menghasilkan “air hitam”. Air hitam biasanya disebabkan oleh koagulasi yang tidak sempurna atau dosis karbon aktif yang tinggi ditambahkan sesaat sebelum penyaringan. Untuk memecahkan masalah tersebut, titik pembubuhan harus dipindahkan ke sistem penyadap air baku atau ke dalam bak pengadukan cepat

Arang aktif yang merupakan adsorben adalah suatu padatan berpori, yang sebagian besar terdiri dari unsur karbon bebas dan masing- masing berikatan secara kovalen. Dengan demikian, permukaan arang aktif bersifat non polar. Selain komposisi dan polaritas, struktur pori juga merupakan faktor yang penting diperhatikan. Struktur pori berhubungan dengan luas permukaan, semakin kecil pori-pori arang aktif, mengakibatkan luas permukaan semakin besar. Dengan demikian kecepatan adsorpsi bertambah. Untuk meningkatkan kecepatan adsorpsi, dianjurkan agar menggunakan arang aktif yang telah dihaluskan. Sifat arang aktif yang paling penting adalah daya serap. Dalam hal ini, ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya serap adsorpsi, yaitu :

1. Sifat Serapan

Banyak senyawa yang dapat diadsorpsi oleh arang aktif, tetapi kemampuannya untuk mengadsorpsi berbeda untuk masing- masing senyawa. Adsorpsi akan bertambah besar sesuai dengan bertambahnya ukuran molekul serapan dari sturktur yang sama, seperti dalam deret homolog. Adsorbsi juga dipengaruhi oleh gugus fungsi, posisi gugus fungsi, ikatan rangkap, struktur rantai dari senyawa serapan.

2. Temperatur

Dalam pemakaian arang aktif dianjurkan untuk mengamati temperatur pada saat berlangsungnya proses. Faktor yang mempengaruhi temperatur proses adsoprsi adalah viskositas dan stabilitas thermal senyawa serapan. Jika pemanasan tidak mempengaruhi sifat-sifat senyawa serapan, seperti terjadi perubahan warna maupun dekomposisi, maka perlakuan dilakukan pada titik didihnya. Untuk senyawa volatil, adsorpsi dilakukan pada temperatur kamar atau bila memungkinkan pada temperatur yang lebih rendah.

3. pH (Derajat Keasaman).

Untuk asam-asam organik, adsorpsi akan meningkat bila pH diturunkan, yaitu dengan penambahan asam-asam mineral. Ini disebabkan karena kemampuan asam mineral untuk mengurangi ionisasi asam organik tersebut. Sebaliknya bila pH asam organik dinaikkan yaitu dengan menambahkan alkali, adsorpsi akan berkurang sebagai akibat terbentuknya garam.

4. Waktu Singgung

Bila arang aktif ditambahkan dalam suatu cairan, dibutuhkan waktu untuk mencapai kesetimbangan. Waktu yang dibutuhkan berbanding terbalik dengan jumlah arang yang digunakan. Selisih ditentukan oleh dosis arang aktif, pengadukan juga mempengaruhi waktu singgung. Pengadukan dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada partikel arang aktif untuk bersinggungan dengan senyawa serapan. Untuk larutan yang mempunyai viskositas tinggi, dibutuhkan waktu singgung yang lebih lama.

Karbon aktif merupakan bahan yang multifungsi dimana hampir sebagian besar telah dipakai penggunaannya oleh berbagai macam jenis industri. Aplikasi terhadap penggunaan karbon aktif dapat dilihat dari tabel dibawah ini:

Tabel.2 Aplikasi penggunaan karbon aktif dalam industri.

Tabel.2 Aplikasi penggunaan karbon aktif dalam industri.

No. Pemakai Kegunaan Jenis/ Mesh
1. Industri obat dan makanan Menyaring, penghilangan bau dan rasa 8×30, 325
2. Minuman keras dan ringan Penghilangan warna, bau pada minuman 4×8, 4×12
3. Kimia perminyakan Penyulingan bahan mentah 4×8, 4×12, 8×30
4. Pembersih air Penghilangan warna, bau penghilangan resin
5. Budi daya udang Pemurnian, penghilangan ammonia, nitrit, penol, dan logam berat 4×8, 4×12
6. Industri gula Penghilagan zat-zat warna, menyerap proses penyaringan menjadi lebih sempurna 4×8, 4×12
7. Pelarut yang digunakan kembali Penarikan kembali berbagai pelarut 4×8, 4×12, 8×30
8. Pemurnian gas Menghilangkan sulfur, gas beracun, bau busuk asap. 4×8, 4×12
9. Katalisator Reaksi katalisator pengangkut vinil khlorida, vinil asetat 4×8, 4×30
10. Pengolahan pupuk Pemurnian, penghilangan bau 8×30

Diolah dari berbagai sumber.

Masukan ini dipos pada Juni 4, 2008 5:01 pm dan disimpan pada Bisnis dengan kaitan (tags) arang tempurung, karbon aktif, kualitas tempurung. Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan, atau trackback dari situs anda.

http://aryafatta.wordpress.com/2008/06/04/meningkatkan-nilai-arang-tempurung-jadi-karbon-aktif/ 11.49

Pusat Informasi Obat Universitas Gadjah Mada


Arang Aktif si Penjerap Racun

Arang aktif

Sering kali kita tidak memperhatikan apakah makanan yang kita konsumsi setiap hari sudah cukup aman dari kuman dan jamur sehingga gejala keracunan seperti pusing, mual, diare, dan kram perut tidak dapat dihindari. Ada beberapa obat yang dapat digunakan untuk mengatasi dan mengurangi keluhan yang diderita akibat keracunan, salah satunya adalah arang aktif atau norit. Norit  terbuat dari arang yang telah diaktifkan, tetapi bukan arang yang biasa digunakan untuk membakar sate. Pembuatan norit melalui suatu proses dengan bahan baku berupa kayu, batu bara, kulit kacang, atau serbuk gergaji yang diolah dengan cara kimia, yaitu dengan mencampurnya dengan asam, atau dengan cara mengukusnya menggunakan uap atau gas pada temperatur tinggi.

Jika arang aktif diperiksa dibawah Scanning Electron Microscopy, akan terlihat pori-pori dalam jumlah yang sangat besar. Dengan gaya Van der Walls yang dimilikinya, pori-pori tersebut mampu menangkap berbagai macam bahan, termasuk bahan beracun. Oleh karena itu arang aktif dapat digunakan pada kasus overdosis obat, keracunan makanan, atau tertelan bahan beracun lainnya. Kemampuan arang aktif dalam  menangkap racun  hanya terjadi di lambung dan usus, ketika zat beracun belum terserap dan masuk ke dalam peredaran darah. Sehingga, semakin cepat diberikan, semakin banyak racun yang dapat diserap. Namun, tidak semua bahan dapat diserap oleh arang aktif. Beberapa di antaranya yang tidak dapat diserap adalah litium, asam atau basa kuat, logam dan bahan inorganik (misalnya, natrium, besi, timah, arsen, yodium, fluorin, dan asam borat), alkohol (misalnya etanol, metanol, isoprofil alkohol, glikol, dan aseton), dan hidrokarbon (seperti minyak tanah, bensin, oli, dan hidrokarbon tumbuhan seperti minyak pinus).

Norit relatif aman dan tidak mengiritasi dinding salurang pencernaan. Tapi sebaiknya digunakan atas nasehat dokter Anda. Efek samping tersering adalah konstipasi (buang air besar tidak lancar). Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kemampuannya yang dapat juga mengadsorbsi zat gizi dan vitamin yang diperlukan tubuh sehingga arang aktif tidak boleh terlalu sering digunakan. (NANDA)

Posted in Buletin 2007, September 2007 – Keracunan, Swamedikasi.

By PIOGAMA

9 February2009

http://piogama.ugm.ac.id/index.php/2009/02/arang-aktif-si-penjerap-racun/ 11.50

ARANG AKTIF

DARI TEMPURUNG KELAPA

Proyek Sistem Informasi Iptek Nasional
Guna Menunjang Pembangunan

Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
1998/1999

Pendahuluan

Pemanfaatan buah kelapa umumnya hanya daging buahnya saja untuk dijadikan kopra, minyak dan santan untuk keperluan rumah tangga, sedangkan hasil sampingan lainnya seperti tempurung kelapa belum begitu banyak dimanfaatkan. Penggunaan tempurung kelapa, sebagian kecil sebagai bahan bakar untuk keperluan rumah tangga, pengasapan kopra, dan lain-lain.

Salah satu produk yang bemilai ekonomi yang dibuat dan tempurung kelapa adalah arang aktif. Pembuatan arang aktif belum banyak yang melakukannya, padahal potensi bahan baku, dan penggunaan dan arang aktif ini serta potensi pasar cukup besar.

Arang aktif adalah arang yang diproses sedemikian rupa sehingga mempunyai daya serap/adsorpsi yang tinggi terhadap bahan yang berbentuk larutan atau uap.

Arang aktif dapat dibuat dan bahan yang mengandung karbon baik organik atau anorganik, tetapi yang biasa beredar di pasaran berasal dan tempurung kelapa, kayu, dan batubara.

KEGUNAAN ARANG AKTIF

Saat ini, arang aktif telah digunakan secara luas dalam industri kimia, makanan/minuman dan farmasi. Pada umumnya arang aktif digunakan sebagai bahan penyerap, dan penjernih. Dalam jumlah kecil digunakan juga sebagai katalisator (lihat tabel 1).

Maksud/Tujuan Pemakaian
I. UNTUK GAS
1. Pemurnian gas Desulfurisasi, menghilangkan gas beracun, bau busuk, asap, menyerap racun
2. Pengolahan LNG Desulfurisasi dan penyaringan berbagai bahan mentah dan reaksi gas
3. Katalisator Reaksi katalisator atau pengangkut vinil kiorida, dan vinil acetat
4. Lain-lain Menghilangkan bau dalam kamar pendingin dan mobil

II. UNTUK ZAT CAIR
1. Industri obat dan makanan Menyaring dan menghilangkan warna, bau, rasa yang tidak enak pada makanan
2. Minuman ringan, minuman keras Menghilangkan warna, bau pada arak/ minuman keras dan minuman ringan
3. Kimia perminyakan Penyulingan bahan mentah, zat perantara
4. Pembersih air Menyaring/menghilangkan bau, warna, zat pencemar dalam air, sebagai pelindung dan penukaran resin dalam alat/penyulingan air
5. Pembersih air buangan Mengatur dan membersihkan air buangan dan pencemar, warna, bau, logam berat.
6. Penambakan udang dan benur Pemurnian, menghilangkan ban, dan warna
7. Pelarut yang digunakan kembali Penarikan kembali berbagai pelarut, sisa metanol, etil acetat dan lain-lain

III. LAIN-LAIN
1. Pengolahan pulp Pemumian, menghilangkan bau
2. Pengolahan pupuk Pemurnian
3. Pengolahan emas Pemurnian
4. Penyaringan minyak makan dan glukosa Menghilangkan bau, warna, dan rasa tidak enak

SYARAT MUTU ARANG AKTIF

Menurut Standard Industri Indonesia (SlI No. 0258-79) persyaratan arang aktif adalah sebagai berikut :

Jenis Uji Satuan Persyaratan
1. Bagian yang hilang pada pemanasan 950°C % Maksimum 15
2. Air % Maksimum 10
3. Abu % Maksimum 2,5
4. Bagian yang tidak mengarang % Tidak ternyata
5. Daya serap terhadap larutan I2 % Maksimum 20

PROSES PEMBUATAN

Pembuatan arang aktif dari tempurung kelapa terdiri dari 2 tahapan, yaitu :
I. Proses pembuatan arang dari tempurung kelapa
II. Proses pembuatan arang aktif dari arang

Rendemen arang aktif dari tempurung kelapa sekitar 25% dan tar 6%

1. Pembuatan arang dari tempurung kelapa Bahan baku:
Kebutuhan tempurung kelapa 1 ton/hari. Tempurung kelapa harus yang sudah tua, kayunya keras, kadar air rendah, sehingga dalam proses pengarangan, pematangannya akan berlangsung baik dan merata. Jika kadar air tinggi berarti kelapa belum cukup tua, proses pengarangan akan berlangsung lebih lama.

2. Proses pembuatan arang aktif dari arang Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan cara “Destilasi kering” yaitu pembakaran tanpa adanya oksigen pada temperatur tinggi. Untuk kegiatan ini dibutuhkan prototype tungku aktivasi (alat destilasi) yang merupakan kisi-kisi tempat arang yang diaktifkan dengan kapasitas 250 kg arang. Proses aktivasi dilakukan hanya dengan mengontrol temperatur selama waktu tertentu.

Bahan : arang batok

Alat :

Nama alat Jumlah Kapasitas
· Tungku aktivasi *) 2 set 250 kg
· Gilingan 1 buah -
· Ayakan 10 mesh 1 buah -
· Pompa air 1 buah -
· Menara air 1 buah 5 m3
· Kunci 2 set -
· Thermocouple 2 buah -

*) Tungku aktivasi (alat destilasi) lengkap dengan alat pendingin dan penampung destilat

Cara Kerja

  1. Arang dimasukkan ke dalam tungku (aktivasi), kemudian ditutup rapat sampai tidak terdapat kebocoran.
  2. Hubungan pipa pengeluaran hasil suling dari tungku aktivasi dengan pendingin yang ujungnya dicelupkan kedalam air. Tujuannya adalah agar oksigen tidak masuk kedalam tungku aktivasi sewaktu dilakukan pendinginan dan sekaligus menampung hasil sulingnya (destilat).
  3. Pasang thermocouple untuk mengamati temperatur selama proses aktivasi berlangsung.
  4. Air pendingin dialirkan, kemudian dilakukan pembakaran dengan menggunakan minyak tanah yang disemprotkan. Mula-mula dengan api kecil, kemudian api dibesarkan dengan jalan menambah bahan bakar dan menaikkan tekanan kompresor.
  5. Lakukan pengamatan terhadap kerja dari tungku aktivasi dengan mengamati kenaikan temperatur. Temperatur selama proses sekitar 600°C apabila temperatur telah mencapai 600°C dan juga terlihat pada ujung pendingin tidak adanya tar (cairan berwarna coklat) yang keluar, ditandai dengan adanya gelembung air, maka pembakaran dipertahankan selama 3 jam. Setelah waktu tersebut proses telah selesai.
  6. Api dimatikan dan tungku aktivasi (alat destilasi) dibiarkan masih tertutup dan sampai dingin. Setelah dingin tungku dibuka dan arang yang telah diaktifkan dikeluarkan. Lakukan penggilingan untuk mendapatkan partikel yang lebih halus, kemudian diayak dan dikemas.

Alat :

Nama alat Jumlah Kapasitas
- Drum minyak tanah 0,75 m 20 buah*) -
- Sekop 4 buah -
- Timbangan 1 buah 500 kg
- Roda dorong 1 buah -
- Minyak tanah (bahan bakar) 10 buah -
- Tabung/silinder minyak tanah 3 buah -

*)10 tungku bekerja bergantian

Cara pembuatan/persiapan peralatan

  1. Tungku pengarangan dibuat dari drum minyak tanah. Bagian drum yang tidak berlobang dipotong sekelilingnya dan dipisahkan. Tutup yang ada lubangnya ditambah dua lubang lagi dengan ukuran 2 x 2,5 inci.
  2. Waktu pengarangan, drum diletakkan diatas dua buah pipa dengan bagian yang ada lubangnya berada dibawah. Sebelum pengarangan, pada lantai drum diberi bahan bakar seperti daun kering, jerami, sabut kelapa secara merata atau menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya, dengan pertolongan alat brander.
  3. Tempurung kelapa disusun tegak atau vertical didalam drum. Api dinyalakan, lubang-lubang udara dibiarkan terbuka.Selama karbonisasi (pengarang) perlu diperhatikan asap yang terbentuk :
    • Jika asap tebal dan putih, berarti tempurung sedang mongering.
    • Jika asap tebal dan kuning, berarti pengkarbonan sedang berlangsung. Pada fase ini sebaiknya tungku ditutup dengan maksud agar oksigen pada ruang pengarangan serendah-rendahnya sehingga diperoleh hasil arang yang baik. Untuk pengaturan udara di dalam tungku bias diatur dengan melepaskan atau memasang pipa dibawah drum.
    • Jika asap semakin menipis dan berwarna biru, berarti pengarangan hampir selesai. Kemudian drum dibalik dan proses pembakaran selesai.
    • Tunggu samapi arang menjadi dingin. Setelah dingin arang bisa di bongkar.

Pustaka

  1. Ladang, Putra
    Arang batok
    Trubus, 12(138) 1981:226-227
  2. Kaeke, Hilda F,G.; Lumingkewas, Meiske S.Y.
    Pembuatan arang aktif dari tempurung kelapa dengan cara pemanasan pada suhu tinggi
    Majalah Ilmiah BIMN, (5) 1992/1993: 1-5
  3. Pohan, Hitles guring
    Pemanfaatan tempurung kelapa untuk arang aktif sebagai hasil samping pengolahan kopra
    Seminar Penelitian Pascapanen Pertanian, Prosiding, Bogor, 1-2 Feb. 1998
  4. Profil industri kecil “Arang Aktip”
    Jakarta: Direktorat Jenderal Industri Kecil, Departemen Perindustrian, 1984.
  5. Sudrajat, R
    Pengaruh beberapa faktor pengolahan terhadap sifat arang aktif
    Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 2 (2) 1985.

INFORMASI SELANJUTNYA HUBUNGI:
Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Jalan Jenderal Gatot Subroto 10, Jakarta 12190
P.O. Box 4298, Jakarta 12042
Telp.(021) – 5733465, 5250719 Fax (021) – 5733456
E-mail: info@pdii.lipi.go.id

Situs web PDII-LIPI http://www.pdii.lipi.go.id/

http://www.dekindo.com/content/teknologi/Pembuatan%20Arang%20Aktif%20-%20Dari%20Tempurung%20Kelapa.htm

11.51

Karbon aktif

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Terkini (belum ditinjau)

Langsung ke: navigasi, cari

Karbon aktif

Karbon aktif, atau sering juga disebut sebagai arang aktif, adalah suatu jenis karbon yang memiliki luas permukaan yang sangat besar. Hal ini bisa dicapai dengan mengaktifkan karbon atau arang tersebut. Hanya dengan satu gram dari karbon aktif, akan didapatkan suatu material yang memiliki luas permukaan kira-kira sebesar 500 m2 (didapat dari pengukuran adsorpsi gas nitrogen). Biasanya pengaktifan hanya bertujuan untuk memperbesar luas permukaannya saja, namun beberapa usaha juga berkaitan dengan meningkatkan kemampuan adsorpsi karbon aktif itu sendiri.

Artikel bertopik kimia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Karbon_aktif

RAHASIA UNTUK MENDAPATKAN MUTU PRODUK KARBON AKTIF DENGAN SERAPAN IODIN DIATAS 1000 MG/G

Publication from JBPTITBPP / 2008-10-30 08:44:55
Oleh : Girun Alfathoni, Central Library Institute Technology Bandung
Dibuat : 2008-10-30, dengan 1 file

Keyword : Active carbone

Definisi arang aktif ( activated carbon ) berdasarkan pada pola strukturnya adalah suatu bahan yang berupa karbon amorf yang sebagian besar terdiri dari karbon bebas serta memiliki permukaan dalam sehingga memiliki daya serap yang tinggi. Pada proses industri arang aktif digunakan sebagai bahan pembantu dan dalam kehidupan sehari-hari arang aktif semakin meningkat kebutuhannya baik didalam maupun luar negeri. Arang aktif memegang peranan yang sangat penting baik sebagai bahan baku maupun sebagai bahan pembantu pada proses industri dalam meningkatkan kualitas atau mutu produk yang dihasilkan.

Copyrights : Copyright Â(c) 2001 by ITB Central Library. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-girunalfat-31423

Gula Stevia – Gula sehat bagi penderita diabetes dan obesitas

Gula herba Stevia : Alami, Sehat dan Aman!

Sehat dengan Manisnya Stevia

Bahan tambahan makanan ramai dibicarakan akhir-akhir ini. Salah satu bahan tambahan makanan adalah pemanis makanan. Banyak jenis pemanis diantaranya saccarin, aspartam dan stevia.

Gula yang dibuat dari tebu, bagi penderita diabetes pastilah akan ditakuti. Kandungan kalorinya bisa menjadi ancaman serius bagi mereka yang terkena penyakit itu dan untuk orang yang sedang menjalani program diet.

Namun jangan bingung, sekarang daun stevia rebaudiana Bertoni, mengandung bahan pemanis alami nonkalori dan mampu menghasilkan rasa manis 70 – 400 kali dari manisnya gula tebu, dapat dijadikan bahan dasar industri gula non-kalori atau bahan dasar industri makanan serta minuman atau jamu tradisional.

Pada tahun 1887 peneliti ilmiah amerika Antonio Bertoni menemukannya. Bertoni menamakannya Eupatorium Rebaudianum Bertoni, kemudian dimasukkan dalam genus stevia (1905). Diduga lebih dari 80 jenis spesies stevia tumbuh liar diAmerika Utara dan 200 jenis spesies alami di Amerika Selatan. Namun hanya Stevia Rebaudiana yang diproduksi sebagai pemanis

Stevia adalah tumbuhan perdu asli dari Paraguay. Cocok pada tanah berpasir dengan tinggi tanaman maksimal 80 cm. Daunnya mempunyai rasa lezat dan menyegarkan. Gula stevia telah di komersilkan di Jepang, Korea, RRC, Amerika Selatan untuk bahan pemanis bagi penderita diabetes dan kegemukan.

Stevia yang pernah ditanam di Indonesia berasal dari Jepang, Korea dan China. Bahan tanaman tersebut berasal dari biji sehingga pertumbuhan tanaman stevia di lapang sangat beragam.

Kualitas daun stevia dipengaruhi banyak faktor lingkungan seperti jenis tanah, irigasi, penyinaran dan sirkulasi udara. Harus dijaga dari gangguan bakteri dan jamur. Kualitas stevia didasarkan atas aroma, rasa, penampakan dan kemanisannya. Pengguaannya stevia memberikan rasa yang unik tidak seperti pemanis kebanyakan yang menimbulkan rasa pahit pada akhirnya. Rahasia kemanisan stevia terletak pada molekul kompleksnya yang disebut steviosida yang merupakan glikosida disusun dari glukosa, sophorose dan steviol.

Apakah stevia aman? Jawabannya adalah PASTI! Baik oleh umum maupun bagi penderita diabetes, hypoglycemia, candida, tekanan darah tinggi dan kelebihan berat badan. Stevia merupakan pemanis pilihan untuk generasi masa depan. Stevia merupakan salah satu tanaman kesehatan yang paling diminati di dunia sekarang ini. Karena tubuh manusia tidak memproses glikosida dari daun stevia tetapi mendapatkan kalorinya.
Dari laporan kesehatan yang diterima baik laporan laboratorium maupun pengguna konsentrat stevia setiap hari. Penelitian ilmiah mengindikasikan bahwa stevia efektif meregulasi gula darah dan kedepannya membuatnya normal.Studi juga mengindikasikan bahwa stevia memberi efek berbeda pada orang tekanan darah rendah dan tekanan darah normal. Dia juga menghambat pertumbuhan bakteri dan organisme yang menyebabkan infeksi, termasuk bakteri yang menyebabkan gangguan gigi dan penyakit gusi. gambaran Ini diperkuat dengan laporan pengguna stevia yang lebih tahan terhadap serangan flu.

Stevia untuk perawatan tubuh.

Air pada konsentrat daun stevia dapat digunakan sebagai perawatan kulit. Di Paraguay konsentrat stevia digunakan untuk membuat sabun herbal, masker wajah, krim rambut dan shampoo.

Pemanis yang tidak menyebabkan gigi berlubang ….

Selama masa balita diketahui bahwa makanan dengan pemanis seperti permen, es krim, soda dan kue menyebabkan gigi berlubang. Banyak terdapat bakteri dimulut, pada umumnya Strepcocci mutans, yang memfermentasikan gula menjadi asam. Asam ini menempel pada email gigi yang menyebabkan gigi berlubang. Steviosida dan Rebaudiosida A dari penelitiannya Das, 1992 disimpulkan bahwa keduanya tidak menyebabkan gangguan pada gigi karena keduanya tidak dapat difermentasikan oleh bakteri.

Stevia dapat menurunkan berat badan dan mengatur berat badan karena dapat mereduksi makanan bergula dan berlemak. Dari penelitian juga disebutkan bahwa stevia mengatur mekanisme rasa lapar seseorang yang membuat kontraksi pada perut agar rasa lapar datang lebih lambat. Keuntungan lain dari penggunaan stevia adalah dapat meningkatkan kemampuan lambung dan daya cerna pencernaan untuk mengurangi resiko pada perokok dan peminum.

Pada tahun 1986 peneliti dari Brazil di Universitas Maringa dan Sao Paolo mengevaluasi kandungan gula darah seseorang (Curi, 1986). Enam puluh sukarelawan diberi stevia sebanyak 5 g selama 3 hari setiap 6 jam. Ekstrak ini direbus selama 20 menit. Tes Toleransi Glukosa (TTG) didemokan dengan membandingkan antara para sukarelawan ini dengan orang yang tidak mengkonsumsi stevia. Pemeriksaan pada sukarelawan menunjukkan penurunan kadar gula darah yang signifikan. Ini mengindikasikan bahwa stevia merupakan substitusi pemanis yang potensial dan aman bagi penderita diabetes.

Sampai saat ini belum ada komplain pada pengguna stevia, selama penggunaannya hampir 1500 tahun di Paraguay dan 20 tahun di Jepang. Peneliti menemukan studi bahwa stevia aman dikonsumsi melalui penelitian yang intensif seperti dilaporkan oleh Dr. Daniel Mowrey.

Kandungan Stevia

Daun Stevia klon BPP 72 mempunyai kandungan steviosida 10-12 % dan rebaudiosida 2-3 %. Selain mengandung glikosida, juga mengandung protein, serat, karbohidrat, mineral, vitamin A, vitamin C dan 53 komponen lainnya. Produknya berupa steviosida, Rebaudiosida, ekstrak, dan konsentrat. Ekstraknya dalam bentuk steviosida dapat mencapai kemanisan 70 – 400 kali dari gula biasa.

Kegunaan produk :

Sangat dianjurkan bagi penderita diabetes atau masalah kelebihan berat badan/obesitas. Boleh dikonsumsi bagi orang sehat untuk minuman sehari-hari. Gula stevia adalah gula herba alami sehingga tidak mempunyai efek samping serta aman.

Harga Produk :

- Rp 40.000 / kemasan, Netto: 100 gram (Belum termasuk ongkos kirim)
– Per kemasan (100 gram) dapat digunakan untuk +/- 220 gelas.
– Cara pemakaian : Cukup 1 sendok takar plastik (1/3 sendok teh) untuk diseduh dengan 1 gelas air panas minuman (teh, kopi, jamu, dll). Aduk rata dan minumlah setelah minuman hangat.
– Jangan menggunakan stevia melebihi dosis takaran karena akan menyebabkan rasa pahit pada minuman.
– Bagi yang belum terbiasa minum gula stevia maka pada minuman akan terasa seperti aroma jamu, karena memang stevia adalah produk herba.

Cara Pemesanan :

Anda bisa memesan dengan cara transfer sejumlah harga produk ditambah dengan biaya kirim ke rekening kami sebagai berikut :

- BCA, No. Rek : 346.1038.466 Atas Nama : Ign. Adhitya Soesilo N.

- MANDIRI, No. Rek : 132.00.0560745.3 Atas Nama : Ign. Adhitya Soesilo N.

- DANAMON, No. Rek : 690.68906 Atas Nama : Ign. Adhitya Soesilo N.

Bila anda transfer melalui bank lain dari grup jaringan ATM Bersama, silakan ditujukan ke rekening bank MANDIRI.

Pesanan akan segera kami kirim setelah transfer kami terima di rekening kami. Untuk mempercepat proses pengiriman, mohon setelah anda transfer via bank segera kirim SMS konfirmasi transfer dengan format sbb :

Order Stevia#Nama#Alamat pengiriman#Jml transfer#Tgl Transfer#Bank transfer

Contoh :
Order Stevia#Andi Susanto#Jl. Diponegoro No.45 Bandung 40123#Rp 60.000#12/01/08#BCA
Lalu kirim SMS ke : 0856.2140.241 (Adhitya)

Ketentuan Biaya Kirim paket :

- Daerah Jawa Barat/Jakarta ……….. + Biaya kirim Rp 10.000 (utk 100 gram pertama)
– Daerah Jawa Tengah/Timur ……….. + Biaya kirim Rp 15.000 (utk 100 gram pertama)
– Daerah Sumatra : …………………… + Biaya kirim Rp 20.000 (utk 100 gram pertama)
– Daerah Kalimantan : ………………… + Biaya kirim Rp 20.000 (utk 100 gram pertama)
– Daerah Bali/Sulawesi : ……………… + Biaya kirim Rp 20.000 (utk 100 gram pertama)
– Daerah NTT/NTB/Maluku : …………. + Biaya kirim Rp 25.000 (utk 100 gram pertama)
– Daerah Papua : ……………………… + Biaya kirim Rp 30.000 (utk 100 gram pertama)

Pesanan akan kami lakukan via jasa POS (Kilat Khusus/Express) dan memerlukan waktu: 2-6 hari kerja (tergantung jarak daerah tujuan).

Kemasan Plastik Gula Stevia (100 gram) , dan takaran pemakaian.

http://www.gulastevia.20m.com/

Pembuatan Gula Non Karsinogenik Non Kalori Dari Daun Stevia

Buchori, L. (2007) Pembuatan Gula Non Karsinogenik Non Kalori Dari Daun Stevia. REAKTOR, 11 (2). pp. 57-60. ISSN 0852-0798

Preview
PDF – Published Version
133Kb

Abstract

Stevia merupakan bahan pemanis selain tebu dengan kelebihan tingkat kemanisan 200 – 300 kali dari gula tebu dan diperoleh dari estrak daun stevia. Pembuatan gula stevia dilakukan dengan metode ekstraksi untuk mengambil stevioside kemudian dipekatkan dengan cara evaporasi lalu dikristalisasi sehingga diperoleh kristal stevioside. Dalam penelitian ini dicari pengaruh suhu (45°C; 50°C; 55°C), pengaruh waktu ekstraksi (1 ; 1,5 ; 2 jam), serta pengaruh jenis solvent yang digunakan (metanol, etanol, aseton) terhadap berat gula yang didapatkan. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa semakin tinggi suhu maka jumlah produk yang terekstrak semakin banyak, baik untuk solvent metanol maupun etanol. Sedangkan untuk solvent aseton kondisi optimum dicapai pada suhu 50°C. Untuk waktu ekstraksi, semakin lama waktu ekstraksi jumlah produk yang terekstrak semakin banyak. Untuk jenis solvent yang digunakan, metanol lebih banyak mengekstrak produk dibanding etanol maupun aseton. Produk yang diperoleh mempunyai range pH antara 5,2 – 5,5, titik leleh antara 196 – 198 °C, dan densitas antara 1,43 – 1,67, dimana harga-harga tersebut berada di dalam range pH, titik leleh, dan densitas gula stevia.

http://eprints.undip.ac.id/427/

Daun Stevia Pengganti Gula

Tumbuhan stevia 200 kali lebih manis berbanding gula tebu

Stevia adalah sejenis tumbuhan agak baru di negara ini biarpun hakikatnya sudah lama digunakan di sesetengah negara sebagai bahan pemanis. Tumbuhan yang nama saintifiknya Stevia Rebaudiana, digunakan masyarakat Asli Red Indian Guarani di Amerika Selatan sejak 1,500 tahun lalu sebagai pemanis bagi ubat pahit.

Ia turut dikenali sebagai makanan tambahan dan herba merawat penyakit berkaitan kencing manis, obesiti, menurunkan tekanan darah tinggi, melawaskan kencing dan merawat luka terbakar. Namanya bagaimanapun mula menjadi sebutan penduduk tempatan kira-kira lima tahun lalu apabila khasiatnya sebagai pemanis yang sesuai di ambil pesakit diabetes heboh diperkatakan dan akhir-akhir ini dilonjak sebagai berpotensi menjadi tanaman komersial di negara ini.

Pegawai Penyelidik Prinsipal, Pusat Penyelidikan Padi & Tanaman Industri Institut Penyelidikan dan Pembangunan Pertanian Malaysia (Mardi), Dr Tan Swee Lian, berkata stevia yang berasal dari Paraguay, Amerika Selatan.

“Pokok renek berdaun bujur, batangnya lembut, bunga halus dan gerutu ini juga dikenali sebagai daun manis atau madu kerana mengandungi bahan yang 200 kali lebih manis daripada gula biarpun masih ada rasa pahitnya.

“Stevia mengandungi dua komponen utama pemanis di dalamnya iaitu steviosid dan rebaudiosid A. Kedua-dua bahan pemanis itu akan berkurangan jika tanaman berkenaan dituai lebih awal.

“Jika bahan steviosid dan rebaudiosid A diasingkan dalam proses makmal, maka rasa pahit dalam stevia akan dapat dihilangkan dan ia sesuai untuk dijadikan pemanis tanpa rasa pahit. Rasa pahit yang ada pada stevia kurang digemari sesetengah orang dan menjadi antara halangan utama sebagai makanan pengganti gula,” katanya

Beliau menjelaskan stevia mula dibawa masuk ke negara ini pada 1970-an dan kajian mengenainya berterusan sehingga ke hari ini, namun hanya dikenali ramai sejak lima tahun kebelakangan ini.

Katanya, stevia sudah dijadikan pengganti gula di Jepun dan menguasai 40 peratus industri pemanis manakala Korea Selatan menjadi negara kedua terbesar menjadikan stevia sebagai bahan pemanis. Di Kanada, India, China, Russia dan Paraguay, bahan pemanis itu diusahakan secara komersial.

Beliau menjelaskan sebelum ini ramai yang meragui khasiat stevia kerana kajian ke atas tikus di makmal mendapati pengambilan bahan pemanis secara banyak dan berterusan menyebabkan haiwan itu mandul.

“Tiada kajian khusus ke atas manusia dilakukan dan jika mahu dibandingkan dengan masyarakat Orang Asli di Paraguay, sukar untuk mendapatkan jawapan yang tepat kerana mereka tidak memakan stevia secara berterusan dan dalam jumlah yang banyak. Masyarakat itu memakan stevia bagi menghilangkan rasa pahit ubat saja dan bukannya dijadikan bahan wajib bagi setiap hidangan.

“Malah, satu masa dulu kerajaan Amerika Syarikat pernah mengharamkan kemasukan stevia sebagai pengganti gula. Namun, pada lewat 2008, pihak Pentadbiran Makanan dan Ubat-Ubatan Amerika Syarikat (FDA) meluluskan stevia sebagai bahan makanan yang selamat dimakan dan dikategorikan sebagai makanan tambahan dan herba bukannya pengganti gula,” katanya.

Kini, berjuta-juta orang di Brazil dan Jepun menggunakan stevia sebagai perisa makanan dan pemanis semula jadi, malah menjadi perisa makanan diluluskan sejak 20 tahun lalu. Penduduk Jepun dikatakan kumpulan pengguna terbesar menggunakan stevia bagi tujuan memaniskan hampir semua produk makanan termasuk jeruk, minuman ringan dan coklat.

Potensi stevia di Malaysia

APAKAH potensi stevia sebagai tanaman komersial di negara ini? Bolehkan ia dijadikan industri bahan pengganti gulai?

Pengarah Pusat Penyelidikan Padi & Tanaman Industri Mardi, Mansor Puteh, berkata Mardi banyak menerima permintaan dan pertanyaan mengenai stevia, khususnya selepas pengumuman kenaikan harga gula.

Namun, baginya herba itu tidak sesuai dijadikan tanaman komersial pengganti gula kerana kurang nilai ekonomi akibat harganya yang rendah, selain kualitinya yang tidak sebaik tumbuhan sama yang dikeluarkan di negara empat musim.

“Untuk mendapatkan sekilogram stevia kering, sekurang-kurangnya lima kilogram daun basah diperlukan iaitu kira-kira RM1.40 sekilogram, manakala kos pengeluarannya mungkin melebihi harga RM7 sekilogram tanaman.

“Mengikut kajian, stevia yang ditanam di negara ini kurang berkualiti kerana cepat berbunga selain perlu dituai lebih awal. Di Malaysia juga, ia biasanya boleh membesar dengan ketinggian satu meter berbanding di negara empat musim yang ketinggiannya mencecah tiga meter. “Justeru, jika ada mana-mana syarikat yang ada niat mahu mengusahakannya secara komersial untuk menjadi bahan penggantian gula, saya suka nasihatkan supaya melupakan saja hasrat itu,” katanya.

Mansor berkata, lebih baik jika tanaman berkenaan diusahakan untuk tujuan pemasaran bahan herba atau makanan tambahan dalam makanan dan minuman kesihatan terutama mereka yang mempunyai penyakit kencing manis, darah tinggi dan obesiti.

“Kita mengalu-alukan sesiapa saja yang berminat membangunkan tanaman ini dalam industri herba dan makanan tambahan. Malah, bersedia memberi khidmat nasihat, bantuan serta tunjuk ajar di samping terus menjalankan kajian untuk memperbaiki kualiti serta hasil penuaian stevia di negara ini,” katanya.

Sementara itu, Pegawai Penyelidik Prinsipal, Pusat Penyelidikan Padi & Tanaman Industri Institut Penyelidikan dan Pembangunan Pertanian Malaysia (Mardi), Dr Tan Swee Lian pula berkata, ada beberapa bahan lain yang dikaji untuk menggantikan gula, namun semuanya didapati tidak sesuai untuk dikomersialkan kerana kos pengeluarannya besar selain masalah mendapatkan bahan mentah.

Antara tumbuhan itu ialah ‘Thamaucoccus’, pokok hutan seperti Kacip Fatimah tetapi ia sukar diusahakan kerana pokok ini amat sedikit mengeluarkan buahnya yang mengandungi bahan pemanis.

Selain itu, madu juga sukar diusahakan secara besar-besaran kerana Malaysia tidak mempunyai kawasan penanaman buah-buahan yang besar seperti di Australia dan Amerika Syarikat untuk membolehkan lebah menyedut nektar daripada bunga pokok buahan berkenaan.

Bagaimanapun, tegas Dr Tan, hanya empat daripada 100 jenis stevia saja yang sesuai dengan cuaca dan persekitaran di negara ini.

Beliau berkata, stevia boleh ditanam dan diusahakan di negara ini tetapi ada beberapa masalah yang perlu diambil risiko pengusahanya kerana tanaman berkenaan boleh mengeluarkan hasil yang baik jika lama terdedah kepada matahari.

“Di negara ini, waktu siang hanya 12 jam, bermakna daun yang dihasilkan kurang terdedah kepada matahari. Namun, Malaysia boleh menuai sebanyak sembilan kali hasil kerana kita panas sepanjang tahun.

“Berbanding negara empat musim, waktu panasnya kira-kira 16 jam dan tuai boleh dibuat sebanyak dua kali dalam tempoh musim panas kira-kira tiga bulan setengah. Oleh kerana kadar kepanasan dan pendedahan terhadap matahari tinggi, maka hasil stevia lebih berkualiti kerana kandungan steviosid dan rebaudiosid A tumbuhan itu lebih tinggi.

“Di negara ini, kita boleh melakukan sistem pemanasan menggunakan lampu seperti dilakukan untuk tumbuhan seperti kekwa atau Chrysanthemum, namun ini tidak dapat dilakukan untuk stevia kerana harganya terlalu rendah, sedangkan penggunaan lampu memerlukan kos yang lebih tinggi,” katanya.

Oleh Rohaniza Idris

http://anizyn.blogspot.com/2010/02/daun-stevia-pengganti-gula.html

Catatan dan referensi

  1. ^ “Stevia” . Flora of North America . http://www.efloras.org/florataxon.aspx?flora_id=1&taxon_id=131515 . ^ “Stevia” . Flora Amerika Utara . http://www.efloras.org/florataxon.aspx?flora_id=1&taxon_id=131515 .
  2. ^ “Stevia Cav.” . USDA PLANTS . http://plants.usda.gov/java/profile?symbol=STEVI . ^ “Stevia Kavaleri.” TANAMAN. USDA. http://plants.usda.gov/java/profile?symbol=STEVI .
  3. ^ Parsons, WT; Cuthbertson, EG (2001). Noxious Weeds of Australia, 2nd ed. . ^ Parsons, WT; Cuthbertson, EG (2001). beracun Gulma Australia, 2nd ed. . Collingswood, Australia: CSIRO Publishing. ISBN 9780643065147 . http://books.google.com/?id=sRCrNAQQrpwC&lpg=PA309&dq=%22Pedro%20Jaime%20Esteve%22%20stevia&pg=PA309#v=onepage&q= . Collingswood, Australia: CSIRO Publishing. ISBN 9780643065147 . % 22Pedro% 20Jaime% 20Esteve% 22% 20stevia & pg = PA309 = http://books.google.com/?id=sRCrNAQQrpwC&lpg=PA309&dq # v = onepage & q = .   This reference refers specifically to Stevia eupatoria , a related weed having the same nomenclature origin. referensi ini mengacu secara khusus untuk Eupatoria Stevia, rumput terkait memiliki tata-nama, asal yang sama.
  4. ^ European Commission Scientific Committee on Food (17 June 1999). “Opinion on Stevia Rebaudiana plants and leaves” ( PDF ). ^ Komite Ilmiah Komisi Eropa pada Makanan (17 Juni 1999). “Opini di tanaman Stevia rebaudiana dan daun” ( PDF ). Press release . http://www.bfr.bund.de/cm/208/stevia_rebaudiana_june_1999.pdf . Press release. http://www.bfr.bund.de/cm/208/stevia_rebaudiana_june_1999.pdf . Retrieved 27 January 2008 . Diakses 27 Januari 2008.
  5. ^ Bertoni, Moisés Santiago (1899). ^ Bertoni, Moisés Santiago (1899). “.”. Revista de Agronomia de l’Assomption 1 : 35. “..” Revista de Agronomia de l’Assomption 1: 35.
  6. ^ Bridel, M.; Lavielle, R. (1931). ^ Bridel, M.; Lavielle, R. (1931). “Sur le principe sucre des feuilles de kaa-he-e (stevia rebaundiana B)”. Academie des Sciences Paris Comptes Rendus (Parts 192): 1123–5. “Sur le Principe Sucre des feuilles de KAA-he-e (stevia rebaundiana B)” des. Academie Ilmu Paris Comptes Rendus (Bagian 192): 1123-5.
  7. ^ Brandle, Jim (19 August 2004). “FAQ – Stevia, Nature’s Natural Low Calorie Sweetener” . Agriculture and Agri-Food Canada . http://res2.agr.ca/London/faq/stevia_e.htm . ^ Brandle, Jim (19 Agustus 2004). “FAQ – Stevia, Alam Alam Rendah Kalori Sweetener” . Pertanian dan Agri-Food Canada . http://res2.agr.ca/London/faq/stevia_e.htm . Retrieved 8 November 2006 . Diperoleh 8 November 2006.
  8. ^ “Stevia” . ^ “Stevia” . Morita Kagaku Kogyuo Co., Ltd.. Morita Kagaku Kogyuo Co, Ltd. 2004 . http://www.morita-kagaku-kogyo.co.jp/e/index.htm . 2004. http://www.morita-kagaku-kogyo.co.jp/e/index.htm . Retrieved 6 November 2007 . Diperoleh 6 November 2007.
  9. ^ Taylor, Leslie (2005). The Healing Power of Natural Herbs . ^ Taylor, Leslie (2005). The Power Penyembuhan Herbal Alam . Garden City Park, NY: Square One Publishers, Inc.. Garden City Park, NY: Square One Publishers, Inc. pp. (excerpted at weblink). ISBN 0-7570-0144-0 . http://rain-tree.com/stevia.htm . hal weblink. (dikutip di). ISBN 0-7570-0144-0 . http://rain-tree.com/stevia.htm .
  10. ^ a b Jones, Georgia (September 2006). “Stevia” . ^ a b Jones, Georgia (September 2006). “Stevia” . NebGuide: University of Nebraska–Lincoln Institute of Agriculture and Natural Resources . http://www.ianrpubs.unl.edu/epublic/pages/publicationD.jsp?publicationId=609 . NebGuide: University of Nebraska-Lincoln Institut Pertanian dan Sumber Daya Alam. http://www.ianrpubs.unl.edu/epublic/pages/publicationD.jsp?publicationId=609 . Retrieved 4 May 2007 . Diperoleh 4 Mei 2007.
  11. ^ Tanvir, Ashraf (24 May 2005). “Sugar Leav – A new breed of ‘sweetener'” . ^ Tanvir, Ashraf (24 Mei 2005). “Gula Leav – Sebuah jenis baru dari ‘pemanis'” . Pakistan Agricultural Research Council . http://www.parc.gov.pk/articles/sugar_leaf.htm . Pakistan Agricultural Research Council. http://www.parc.gov.pk/articles/sugar_leaf.htm . Retrieved 2 January 2009 . Diakses 2 Januari 2009.
  12. ^ PubMed research articles related to treatments of obesity ^ PubMed artikel penelitian yang berkaitan dengan perlakuan obesitas
  13. ^ PubMed research articles on stevia’s effects on blood pressure ^ PubMed pada artikel-artikel penelitian yang efek stevia pada tekanan darah
  14. ^ PubMed articles on stevia’s use in treating hypertension ^ PubMed artikel tentang kita gunakan stevia untuk mengobati hipertensi
  15. ^ Curi R, Alvarez M, Bazotte RB, Botion LM, Godoy JL, Bracht A (1986). ^ R Curi, M Alvarez, RB Bazotte, LM Botion, Godoy JL, Bracht A (1986). “Effect of Stevia rebaudiana on glucose tolerance in normal adult humans”. Braz. “Pengaruh Stevia rebaudiana pada toleransi glukosa pada manusia dewasa normal”. Braz. J. Med. J. Med. Biol. Biol. Res. 19 (6): 771–4. PMID 3651629 . Res (. 19 6): 771-4. PMID 3651629 .
  16. ^ Gregersen S, Jeppesen PB, Holst JJ, Hermansen K (January 2004). “Antihyperglycemic effects of stevioside in type 2 diabetic subjects” . Metab. ^ Gregersen S, Jeppesen PB, Holst JJ, Hermansen K (Januari 2004). “efek Antihyperglycemic dari stevioside dalam subjek diabetes tipe 2″ . Metab. Clin. Clin. Exp. 53 (1): 73–6. PMID 14681845 . http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0026049503003871 . Exp. 53 (1): 73-6. PMID 14681845 . http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0026049503003871 .
  17. ^ “US Patent #6,500,471″ . http://patft.uspto.gov/netacgi/nph-Parser?Sect1=PTO1&Sect2=HITOFF&d=PALL&p=1&u=/netahtml/PTO/srchnum.htm&r=1&f=G&l=50&s1=6500471.PN.&OS=PN/6500471&RS=PN/6500471 . ^ “US Patent # 6.500.471″ . http://patft.uspto.gov/netacgi/nph-Parser?Sect1=PTO1&Sect2=HITOFF&d=PALL&p=1&u=/netahtml/PTO/srchnum.htm&r=1&f=G&l=50&s1=6500471 &. PN. OS = PN/6500471 & RS = PN/6500471 . Retrieved 29 August 2009 . Diakses 29 Agustus 2009.
  18. ^ “Stevia against Osteoporosis” . ^ “Stevia terhadap Osteoporosis” . OwnDoc.com . http://www.owndoc.com/stevia/stevia-against-osteoporosis/ . OwnDoc.com. http://www.owndoc.com/stevia/stevia-against-osteoporosis/ . Retrieved 1 January 2010 . Diperoleh 1 Januari 2010.
  19. ^ a b c d e “Stevia Timeline Important Dates and Events” . ^ a b c d e “Penting Timeline Tanggal Stevia dan Peristiwa” . truvia.com. truvia.com. 01-Jan-2010 . http://truvia.com/wcm/groups/public/@truvia/documents/document/truvia_pdf_steviatimeline.pdf . 01-Jan-2010. http://truvia.com/wcm/groups/public/ @ truvia / dokumen / dokumen / truvia_pdf_steviatimeline.pdf . Retrieved 5 March 2010 . Diakses 5 Maret 2010.
  20. ^ Stevia gets Australian approval for food and beverages ^ Stevia mendapat persetujuan Australia untuk makanan dan minuman
  21. ^ Halliday, Jess (08-Sep-2009). “France approves high Reb A stevia sweeteners” . ^ Halliday, Jess (08-Sep-2009). “menyetujui Perancis tinggi Reb A stevia pemanis” . foodnavigator.com . http://www.foodnavigator.com/On-your-radar/Healthier-products/France-approves-high-Reb-A-stevia-sweeteners . foodnavigator.com. http://www.foodnavigator.com/On-your-radar/Healthier-products/France-approves-high-Reb-A-stevia-sweeteners . Retrieved 23 January 2010 . Diakses 23 Januari 2010.
  22. ^ Halliday, Jess (15-Sep-2009). “France’s first stevia products around the corner” . ^ Halliday, Jess (15-Sep-2009). “stevia produk pertama Prancis di pojok” . foodanddrinkeurope.com . http://www.foodanddrinkeurope.com/Products-Marketing/France-s-first-stevia-products-around-the-corner . foodanddrinkeurope.com. http://www.foodanddrinkeurope.com/Products-Marketing/France-s-first-stevia-products-around-the-corner . Retrieved 23 January 2010 . Diakses 23 Januari 2010.
  23. ^ Halliday, Jess (08-Jul-2009). “German-speaking countries show huge stevia interest” . ^ Halliday, Jess (08-Jul-2009). “negara-negara berbahasa Jerman stevia menunjukkan minat yang besar” . foodnavigator.com . http://www.foodnavigator.com/Financial-Industry/German-speaking-countries-show-huge-stevia-interest . foodnavigator.com. http://www.foodnavigator.com/Financial-Industry/German-speaking-countries-show-huge-stevia-interest . Retrieved 5 March 2010 . Diakses 5 Maret 2010.
  24. ^ a b Curry,Leslie Lake. “Agency Response Letter GRAS Notice No. GRN 000253″ . http://www.fda.gov/Food/FoodIngredientsPackaging/GenerallyRecognizedasSafeGRAS/GRASListings/ucm154989.htm . ^ a b Curry, Leslie Danau. “Respon Badan Gras Surat Pemberitahuan No GRN 000.253″ . http://www.fda.gov/Food/FoodIngredientsPackaging/GenerallyRecognizedasSafeGRAS/GRASListings/ucm154989.htm . Retrieved 9 April 2010 . Diperoleh 9 April 2010.
  25. ^ a b c “Olam and Wilmar in 50:50 JV to Acquire 20% Stake in PureCircle, a Leading Producer of Natural High-Intensity Sweeteners for USD 106.2 Mln” . ^ a b c “Olam dan Wilmar di 50:50 JV untuk Memperoleh Saham 20% di PureCircle, Produser terkemuka dari Tinggi-Intensitas Pemanis Alam sebesar USD 106,2 juta” . http://www.flex-news-food.com. http://www.flex-berita-food.com. 01-Jul-2008 . http://www.flex-news-food.com/pages/17487/Olam/olam-wilmar-5050-jv-acquire-20-stake-purecircle-leading-producer-natural-high-intensity-sweeteners.html . 01-Juli-2008. http://www.flex-news-food.com/pages/17487/Olam/olam-wilmar-5050-jv-acquire-20-stake-purecircle-leading-producer-natural-high- intensitas-sweeteners.html . Retrieved 8 March 2010 . Diakses 8 Maret 2010.
  26. ^ a b c Li, Simon (27 March 2002) (PDF). Fact Sheet: Stevioside . ^ a b c Li, Simon (27 Maret 2002) (PDF). Lembar Fakta: Stevioside . Hong Kong Legislative Council Secretariat Research and Library Services Division . http://www.legco.gov.hk/yr01-02/english/sec/library/0102fs04e.pdf . Dewan Legislatif Hong Kong Sekretariat Penelitian dan Divisi Layanan Perpustakaan. http://www.legco.gov.hk/yr01-02/english/sec/library/0102fs04e.pdf .
  27. ^ a b c Hawke, Jenny (February-March 2003). “The Bittersweet Story of the Stevia Herb” (PDF). Nexus magazine 10 (2) . http://pc.dormanpub.com/articles/PDFs/FFF_March_2003.pdf . Retrieved 9 July 2008 . Diperoleh 9 Juli 2008.
  28. ^ Halliday, Jess (1 June 2009). “France and the rest of Europe prepare for stevia approval” . Decision News Media . http://www.confectionerynews.com/The-Big-Picture/France-and-rest-of-Europe-prepare-for-stevia-approval .
  29. ^ “Scientific Opinion on the safety of steviol glycosides for the proposed uses as a food additive” . foodnavigator.com. 10-Mar-2010 . http://www.efsa.europa.eu/en/scdocs/scdoc/1537.htm . Retrieved 16 April 2010 . Diakses 16 April 2010.
  30. ^ Stanford, Duane D. (31 May 2007). “Coke and Cargill teaming on new drink sweetener” . Atlanta Journal-Constitution . http://www.ajc.com/business/content/business/coke/stories/2007/05/31/0531bizcoke.html . Retrieved 31 May 2007 . Diperoleh 31 Mei 2007.
  31. ^ Etter, Lauren and McKay, Betsy (31 May 2007). “Coke, Cargill Aim For a Shake-Up In Sweeteners” . Wall Street Journal . http://online.wsj.com/article/SB118058140982419717.html?mod=rss_whats_news_us . Retrieved 1 June 2007 .
  32. ^ “Truvia ingredients” . http://www.truvia.com/about/ingredients/default.aspx . Retrieved 15 May 2008 .
  33. ^ “Stevia sweetener gets US FDA go-ahead” . Decision News Media SAS. 18 December 2008 . http://www.foodnavigator-usa.com/Legislation/Stevia-sweetener-gets-US-FDA-go-ahead . Retrieved 11 May 2009 .
  34. ^ Associated Press (15 December 2008). “Coke to sell drinks with stevia; Pepsi holds off” . The Seattle Times . http://seattletimes.nwsource.com/html/businesstechnology/2008522412_apdrinkssweetener.html . Retrieved 16 December 2008 . Diakses 16 Desember 2008.
  35. ^ “FDA Approves 2 New Sweeteners” . The New York Times (Associated Press). 17 December 2008 . http://www.nytimes.com/2008/12/18/business/18sweet.html . Retrieved 11 May 2009 .
  36. ^ Purkayastha, S.. “”A Guide to Reb-A,” Food Product Design” . http://www.foodproductdesign.com/articles/guide-to-reb-a.html . Retrieved 28 March 2009 .
  37. ^ “United States Patent 5,972,120 Extraction of sweet compounds from Stevia rebaudiana Bertoni” . http://patft.uspto.gov/netacgi/nph-Parser?Sect1=PTO1&Sect2=HITOFF&d=PALL&p=1&u=%2Fnetahtml%2FPTO%2Fsrchnum.htm&r=1&f=G&l=50&s1=5972120.PN.&OS=PN/5972120&RS=PN/5972120 .
  38. ^ Pezzuto JM, Compadre CM, Swanson SM, Nanayakkara D, Kinghorn AD (April 1985). “Metabolically activated steviol, the aglycone of stevioside, is mutagenic” . Proc. Natl. Natl. Acad. Acad. Sci. Sci. USA 82 (8): 2478–82. doi : 10.1073/pnas.82.8.2478 . PMID 3887402 . PMC 397582 . http://www.pnas.org/cgi/pmidlookup?view=long&pmid=3887402 .
  39. ^ Procinska E, Bridges BA, Hanson JR (March 1991). “Interpretation of results with the 8-azaguanine resistance system in Salmonella typhimurium: no evidence for direct acting mutagenesis by 15-oxosteviol, a possible metabolite of steviol”. Mutagenesis 6 (2): 165–7. doi : 10.1093/mutage/6.2.165 . PMID 2056919 . http://mutage.oxfordjournals.org/cgi/pmidlookup?view=long&pmid=2056919 .   – article text is reproduced here .
  40. ^ Matsui M, Matsui K, Kawasaki Y, et al. (November 1996). “Evaluation of the genotoxicity of stevioside and steviol using six in vitro and one in vivo mutagenicity assays”. Mutagenesis 11 (6): 573–9. doi : 10.1093/mutage/11.6.573 . PMID 8962427 .
  41. ^ Nunes AP, Ferreira-Machado SC, Nunes RM, Dantas FJ, De Mattos JC, Caldeira-de-Araújo A (2007). “Analysis of genotoxic potentiality of stevioside by comet assay”. Food Chem Toxicol 45 (4): 662–6. doi : 10.1016/j.fct.2006.10.015 . PMID 17187912 .
  42. ^ a b Geuns JM (2003). “Stevioside”. Phytochemistry 64 (5): 913–21. doi : 10.1016/S0031-9422(03)00426-6 . PMID 14561506 .
  43. ^ a b Brusick DJ (2008). “A critical review of the genetic toxicity of steviol and steviol glycosides”. Food Chem Toxicol 46 (7): S83–S91. doi : 10.1016/j.fct.2008.05.002 . PMID 18556105 .
  44. ^ Lailerd N, Saengsirisuwan V, Sloniger JA, Toskulkao C, Henriksen EJ (January 2004). “Effects of stevioside on glucose transport activity in insulin-sensitive and insulin-resistant rat skeletal muscle” . Metab. Clin. Clin. Exp. 53 (1): 101–7. doi : 10.1016/j.metabol.2003.07.014 . PMID 14681850 . http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0026049503003883 .
  45. ^ Jeppesen PB, Gregersen S, Rolfsen SE, et al. (March 2003). “Antihyperglycemic and blood pressure-reducing effects of stevioside in the diabetic Goto-Kakizaki rat”. Metab. Clin. Clin. Exp. 52 (3): 372–8. doi : 10.1053/meta.2003.50058 . PMID 12647278 .
  46. ^ Dyrskog SE, Jeppesen PB, Colombo M, Abudula R, Hermansen K (September 2005). “Preventive effects of a soy-based diet supplemented with stevioside on the development of the metabolic syndrome and type 2 diabetes in Zucker diabetic fatty rats”. Metab. Clin. Clin. Exp. 54 (9): 1181–8. doi : 10.1016/j.metabol.2005.03.026 . PMID 16125530 .
  47. ^ Hsieh MH, Chan P, Sue YM, et al. (November 2003). “Efficacy and tolerability of oral stevioside in patients with mild essential hypertension: a two-year, randomized, placebo-controlled study”. Clin Ther 25 (11): 2797–808. doi : 10.1016/S0149-2918(03)80334-X . PMID 14693305 .
  48. ^ Ferri LA, Alves-Do-Prado W, Yamada SS, Gazola S, Batista MR, Bazotte RB (September 2006). “Investigation of the antihypertensive effect of oral crude stevioside in patients with mild essential hypertension”. Phytother Res 20 (9): 732–6. doi : 10.1002/ptr.1944 . PMID 16775813 .
  49. ^ “Products and Markets – Stevia” ([HTML]). Food and Agriculture Organization of the United Nations – Forestry Department . http://www.fao.org/docrep/009/a0917e/A0917e03.htm#P1014_193167 . Retrieved 4 May 2007 . Diperoleh 4 Mei 2007.
  50. ^ Abudula R, Jeppesen PB, Rolfsen SE, Xiao J, Hermansen K (October 2004). “Rebaudioside A potently stimulates insulin secretion from isolated mouse islets: studies on the dose-, glucose-, and calcium-dependency” . Metab. Clin. Clin. Exp. 53 (10): 1378–81. doi : 10.1016/j.metabol.2004.04.014 . PMID 15375798 . http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0026049504002100 .
  51. ^ a b c Benford, DJ; DiNovi, M., Schlatter, J. (2006). “Safety Evaluation of Certain Food Additives: Steviol Glycosides” ( PDF – 18 MB). WHO Food Additives Series ( World Health Organization Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA)) 54 : 140 . http://whqlibdoc.who.int/publications/2006/9241660546_eng.pdf .
  52. ^ ( [ dead link ] ) Joint FAO/WHO Expert Committee on food additives, Sixty-ninth Meeting . World Health Organization. Organisasi Kesehatan Dunia. 4 July 2008 . http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:_rH0bHkojQgJ:www.fao.org/ag/agn/agns/files/jecfa69_final.pdf+joint+experts+committee+world+health+organization+stevia&hl=en&gl=us&pid=bl&srcid=ADGEESj3s7eUmz81uTaMK5NKAENjR44MfBCLy_K-jkgDvg6NqNmyGPgUdLlMRGCXZhKafMVhs6zSX7H9VBIlTohniAZ_myM6RSeJjxifE11XT4h4F0AzK01AfvFDwVif9D9dThiv8lr3&sig=AHIEtbS4d201ZOfQ2jIHtWg3G2VtoM9jng .
  53. ^ Food and Drug Administration (1995, rev 1996, 2005). Import Alert #45-06 : “Automatic Detention of Stevia Leaves, Extract of Stevia Leaves, and Food Containing Stevia”
  54. ^ Kyl, John (R-Arizona) (1993). Letter to former FDA Commissioner David Aaron Kessler about the 1991 stevia import ban, quoted at stevia.net safety studies .
  55. ^ McCaleb, Rob (1997). “Controversial Products in the Natural Foods Market” . Herb Research Foundation . http://herbs.org/greenpapers/controv.html#stevia . Retrieved 8 November 2006 .
  56. ^ European Commission Scientific Committee on Food (June 1999). Opinion on Stevioside as a Sweetener
  57. ^ Newmarker, Chris (2008). “Federal regulators give OK for Cargill’s Truvia sweetener” . Minneapolis / St. Paul Business Journal . http://www.bizjournals.com/twincities/stories/2008/12/15/daily38.html . Retrieved 18 December 2008 . Diakses 18 Desember 2008.
  58. ^ “Asteraceae Eupatorium rebaudianum Bertoni” . International Plant Names Index . http://www.ipni.org/ipni/idPlantNameSearch.do?id=100800-2&back_page=%2Fipni%2FeditSimplePlantNameSearch.do%3Ffind_wholeName%3DEupatorium%2Brebaudianum%26output_format%3Dnormal .
  59. ^ The Multilingual Multiscript plant name database has terms for the Stevia plant in various languages.
About these ads
Posted in: lainnya