| Ketika saya membaca beberapa artikel tentang 40 orang terkaya di Indonesia, di situ tidak dijelaskan bagaimana sih mereka. hanya sebatas daftar nama. karena itu saya berinisiatif untuk membaca sejenak profil-profil dan sepak terjang mereka. setidaknya akan diketahui perusahaan-perusahaan apa saja yang berhasil bertahan di tengah krisis ekonomi saat ini.
1. R Budi & Michael Hartono Michael Hartono dan Budi Hartono, yang berada di posisi ke-ke-258
2. SUSILO WONOWIDJOJO: PRESIDEN DIREKTUR GUDANG GARAM
PT Gudang Garam menunjuk Susilo Wonowidjojo sebagai presiden direktur untuk mempertahankan pangsa pasar menyusul aksi korporasi yang dilakukan oleh British American Tobacco Plc. Dalam siaran pers yang dilansir perusahaan di Kediri, Jawa Timur, disebutkan Wonowidjojo menggantikan Djajusman Surjowijono, yang mengundurkan diri pada Februari. Suksesi itu dilakukan setelah pesaing asing melakukan ekspansi di negara dengan jumlah perokok terbesar setelah China dan India. Sejumlah perusahaan termasuk BAT dan Philip Morris International Inc berebut pangsa pasar di Indonesia. Laba kuartal pertama Gudang Garam naik dua kali lipat mencapai rekor dibantu oleh pemangkasan biaya. “Gudang Garam melakukan strategi positif, terlihat dari hasil kuartal terakhir, yang sangat baik. Memang masih awal, namun saya kira daya beli masyarakat juga berperan penting, tidak hanya bagi Gudang Garam tetapi juga industri,” jelas Rumaida Utami, analis PT CIMB-GK Securities Indonesia, sebelum pengumuman tersebut. PT HM Sampoerna, dengan pangsa pasar 29%, mengalahkan Gudang Garam untuk menjadi penguasa industri rokok pada 2006, setahun setelah Philip Morris mengakuisisi perusahaan itu. Pada 17 Juni, BAT mengambil alih PT Bentoel Internasional Investama dengan nilai US$494 juta untuk melebarkan sayap di pasar rokok kretek di Indonesia. Direktur Asia Pasifik John Daly menjelaskan perusahaan rokok terbesar di Eropa ini mengincar peluang yang luas di Indonesia dengan tujuan menggeser posisi Gudang Garam dari peringkat kedua. Gudang Garam didirikan pada 1958 dan menguasai 26,5% pangsa pasar, turun dari 36% pada 1999. Selama tahun ini, saham perusahaan naik dua kali lipat, melebihi kenaikan 47% pada Jakarta Composite Index. Pada 19 Juni, saham turun 1% menjadi Rp9.500. Jubir Gudang Garam Vidya Boediyanti pada Februari menjelaskan Surjowijono mengundurkan diri karena faktor usia. Dia sempat menjabat sebagai direktur keuangan selama 10 tahun. Wonowidjojo menjadi vice president director sejak 1990 dan menduduki posisi direktur lebih dari 10 tahun.(yn)
3. Eka Tjipta Widjaja (Pemilik Sinar Mas Grup)
|
| “Ia membantu ayahnya menjajakan produk toko dengan cara door to door selling. Setelah lulus SD, karena terbentur masalah ekonomi, sehingga ia tidak bisa melanjutkan sekolah. Ia pun berjualan keliling kota Makasar menjajakan kembang gula dan biskuit |
|
Eka Tjipta Widjaya, pendiri Sinar Mas Grup, saat ini termasuk 3 besar orang terkaya Indonesia versi majalah Globe Asia 2008. Kabarnya, total kekayaannya ± USD 3,8 Milyar.
Nama aslinya adalah Oei Ek Tjhong. Saat usianya 15 tahu, Eka mencari pemasok kembang gula dan biscuit dengan mengendarai sepedanya. Ia terus mencari cara untuk dapat berdagang lebih banyak lagi, untuk membantu perekonomian keluarganya. Sempat pula ia berdagang besi-besi bekas, terigu, semen, dan gula. Saat umur 37 tahun, Eka pindah ke Surabaya. Eka tidak lupa untuk berbuat sosial. 4. Martua Sitorus
|
Di pentas bisnis nasional, nama kelompok usaha ini mungkin kurang familier. Padahal, Wilmar termasuk perusahaan agrobisnis terbesar di Asia, mulai dari penguasaan lahan, pabrik pengolahan, hingga perdagangannya. Dan, walaupun berbasis di Singapura, sejatinya sebagian besar aktivitas produksinya berada di Indonesia. Di negeri ini, Wilmar memiliki sekitar 48 perusahaan operasional. Salah satunya adalah PT Multimas Nabati Asahan, yang memproduksi minyak goreng bermerek Sania. Pada akhir 2005, kelompok usaha yang resminya bernama Wilmar International Limited ini memiliki total aset US$1,6 miliar, total pendapatan US$4,7 miliar, dan laba bersih US$58 juta.
Tak puas dengan itu, Martua mulai melirik bisnis hilir (produk turunan) yang lebih bernilai tinggi. Pada 1998 Martua untuk pertama kalinya membangun pabrik yang memproduksi specialty fats. Lalu pada tahun 2000 ia juga meluncurkan produk konsumsi minyak goreng bermerek Sania.
Selanjutnya, tahun demi tahun bisnis Martua makin membesar hingga menjadi salah satu perusahaan agrobisnis terbesar di Asia yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Per 31 Desember 2005, Wilmar memiliki total lahan perkebunan kelapa sawit seluas 69.217 hektar, 65 pabrik, tujuh kapal tanker, dan 20.123 karyawan. Wilmar mengekspor produk-produknya ke lebih dari 30 negara. Puncaknya, Martua mencatatkan Wilmar di bursa efek Singapura pada Agustus 2006 dengan kapitalisasi pasar mencapai US$2 miliar.
Berkat keberhasilannya itu, sosok Martua Sitorus juga makin menonjol di pentas bisnis global. Majalah Forbes menempatkan Martua di urutan ke-14 dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia pada 2006. Kekayaan bersihnya ditaksir mencapai US$475 juta. “Palm Oil King”, begitu Forbes menyebut sosok Martua.
5. Anthony Salim

Generasi Kedua Salim Group
Anthony Salim alias Liem Hong Sien, CEO Group Salim (generasi kedua) terpilih sebagai salah seorang 10 Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005 versi Warta Ekonomi. Dia dinilai berhasil membangun kembali kerajaan bisnis Salim Group, setelah sempat mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi 1998.
Sebelum krisis moneter dan ekonomi 1998, Group Salim terbilang konglomerasi terbesar di Indonesia dengan aset mencapai US$ 10 milyar (sekitar Rp 100 trilyun). Majalah Forbes bahkan pernah menobatkan Liem Sioe Liong, pendiri Grup Salim, sebagai salah satu orang terkaya di dunia.
Bank Central Asia, miliknya di-rush pada saat krisis multidimensional 1998 itu. Untuk mengatasinya, terpaksa menggunakan BLBI dan akibatnya berutang Rp 52 trilyun. Anthony yang sudah dipercayakan memegang kendali perusahaan menggantikan ayahandanya Sudono Salim (Liem Sioe Liong) ini pun bertanggung jawab.
Dia melunasi seluruh utangnya, walaupun harus terpaksa melepas beberapa perusahaan. Di antara perusahaan yang dilepas adalah PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA (kemudian dikuasai Farallon Capital dan Grup Djarum) dan PT Indomobil Sukses Internasional.
Namun, dia tetap mempertahankan beberapa perusahaan, di antaranya PT Indofood Sukses Makmu Tbk, dan PT Bogasari Flour Mills, yang merupakan produsen mi instan dan terigu terbesar di dunia. Selain itu juga berkibar beberapa perusahaan di luar negeri, di antaranya di Hong Kong, Thailand, Filipina, Cina dan India.
Salah satu upayanya mendongkrak penjualan mi instan produknya, dia menggandeng Nestle SA. Langkah ini dipercaya bisa mendongkrak nilai tambah Indofood, andalannya. Putra taipan Liem Sioe Liong ini tak mau kerajaan bisnisnya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk., berhenti berekspansi dan berinovasi. “Setiap perusahaan harus berbenah diri, apalagi dalam iklim kompetisi,” kata Anthony. Untuk mendukung rencananya itu, Anthony pun menggandeng Nestle S.A. Keduanya sepakat untuk memperlebar pangsa pasar Indofood dan Nestle.
Deal bisnis antara dua kerajaan makanan dan minuman ini berujung pada pendirian PT Nestle Indofood Citarasa Indonesia. Perusahaan berstatus PMA ini menyedot dana Rp50 miliar, dengan masing-masing pihak menyetor 50%.
“Pendirian usaha patungan baru ini akan menciptakan peluang untuk memanfaatkan dan mengembangkan kekuatan yang dimiliki kedua perusahaan,” kata Anthony. Ia percaya reputasi yang dimiliki kedua perusahaan setidaknya bisa mendongkrak nilai tambah bagi masyarakat dan pemegang saham.
Perusahaan tersebut akan bergerak di bidang manufaktur, penjualan, pemasaran, dan distribusi produk kuliner. Mulai April 2005 lalu, pada botol kecap merek Piring Lombok sudah ditemukan “cap” perusahaan patungan tersebut. Ke depan, Indofood masih akan memberi lisensi penggunaan merek produk kuliner kepada Nestle-Indofood.
Indofood sendiri memiliki kekuatan pada profil produksi rendah biaya, jangkauan distribusi yang luas, dan kecepatan menjangkau konsumen melalui anak perusahaannya, PT Indosentra Pelangi, yang menjadi pemain utama di bidang industri bumbu penyedap makanan. Sementara itu, Nestle bergerak di bidang produksi dan penjualan berbagai produk makanan dan minuman, termasuk mi instan dan bumbu penyedap makanan di seluruh dunia. Kekuatan perusahaan asal Swiss itu ada pada riset dan pengembangan yang kuat dalam memproduksi makanan dan nutrisi.
Anthony melihat bahwa perusahaan yang dipimpinnya adalah kapal yang besar dengan 50.000 karyawan. Harus ada komunikasi yang baik agar kinerja perusahaan dapat terfokus tajam dalam melihat pasar. Kata Anthony, sebenarnya aktivitas bisnis yang dilakukan selama ini banyak, hanya saja tidak terlihat. “Indonesia masih menjanjikan imbal hasil yang tinggi dalam bisnis,” ungkapnya. (Evi Ratnasari, Warta Ekonomi, 28 Desember 2005) ►e-ti
6. Sri Prakash Lohia
Penduduk asli India yang sekarang menjadi warga negara Indonesia (WNI) ini mengendalikan bisnis produsen poliester terbesar di Indonesia, Indorama Synthetics. Kekayaan yang dihimpun Lohia tercatat sekitar 2,65 miliar dollar (Rp 23,850 triliun).
Kekayaannya diperoleh dari Indorama Corporation, perusahaan polyster yang didirikan bersama ayahnya, ML Lohia. Indorama memulai usahanya dengan mendirikan pabrik benang pada 1976 di Indonesia.
Kini di tangan Prakash, Grup Indorama kian menggurita. Produknya meliputi poliester, PET resin, polyethylene, polypropylene, kain, hingga sarung tangan medis. Pabriknya bertebaran di sepuluh negara dengan kontrol penuh dari Jakarta.
Grup Indorama saat ini menaungi sejumlah perusahaan. Usaha pembuatan bahan baku tekstil di bawah bendera PT Indorama Synthetics dan usaha petrokimia di bawah PT Petrokimia Eleme.
Hadi Suprapto
VIVAnews – Majalah Forbes baru saja mengumumkan daftar 40 orang terkaya di Indonesia. Lebih dari setengahnya, merupakan nama-nama lawas.
Keluarga Hartono melalui Djarum dan Bank Central Asia misalnya, telah mempertahankan posisi terkaya dalam dua tahun berturut-turut dengan kekayaan bersih US$11 miliar.
Namun, di luar dugaan, ada tujuh nama baru dari nama-nama itu, salah satunya Sri Prakash Lohia. Keturunan India yang memilihh jadi warga negara Indonesia ini memiliki kekayaan US$2,65 miliar. Dia pun menjadi orang terkaya nomor enam.
Kekayaannya diperoleh dari Indorama Corporation, perusahaan polyster yang didirikan bersama ayahnya, ML Lohia. Indorama memulai usahanya dengan mendirikan pabrik benang pada 1976 di Indonesia.
Kini di tangan Prakash, Grup Indorama kian menggurita. Produknya meliputi poliester, PET resin, polyethylene, polypropylene, kain, hingga sarung tangan medis. Pabriknya bertebaran di sepuluh negara dengan kontrol penuh dari Jakarta.
Grup Indorama saat ini menaungi sejumlah perusahaan. Usaha pembuatan bahan baku tekstil di bawah bendera PT Indorama Synthetics dan usaha petrokimia di bawah PT Petrokimia Eleme.
Sedangkan usaha pembuatan benang pintal di bawah Indorama Iplik, ISIN Lanka, dan Indorama Shebin. Usaha di bidang sarung tangan medis dikelola Medisafe Technologies.
Sejak 1995, Indorama juga masuk pada bisnis pengembangan real estate melalui Indorama Real Estate.
Pada 2008, Indorama Corp berinvestasi di Indorama Ventura PCL, perusahaan polyster terintegrasi terbesar dunia yang terdaftar di Bursa Efek Thailand.
Produk Indorama dikirim ke lebih dari 90 negara di empat benua dan menyerap lebih dari 16 ribu tenaga kerja. (umi)
Bisa dikatakan Lohia merupakan orang kaya ‘turunan’ karena kakaknya, Ashoke, yang berkedudukan di Thailand, juga miliarder. Tak hanya itu, saudara iparnya, Lakshmi Mittal juga masuk dalam deretan warga negara Asia terkaya kedua yang tinggal di London.
7. Low Tuck Kwong
![]()
VIVAnews - Satu lagi nama baru asal Indonesia yang mendadak mengejutkan tampil dalam jajaran orang kaya dunia. Dia adalah Low Tuck Kwong.
Pria ini terlahir di Singapura serta ikut bisnis konstruksi orang tuanya hingga usia 20 tahun. Namun, kemudian pindah kewarganegaraan jadi warga Indonesia. Dia dikenal sebagai raja batu bara Kalimantan.
Menurut majalah Forbes yang baru dirilis pekan ini, Low masuk dalam urutan 828 jajaran orang kaya dunia. Total kekayaan pria beristri dengan dua anak ini, menurut Forbes, sebesar US$ 1,2 miliar.
Low Tuck Kwong memulai bisnis di Indonesia pada 1973 ketika ia membentuk perusahaan konstruksi yang khusus menangani pekerjaan umum, konstruksi bawah tanah, hingga konstruksi di laut.
Dalam perkembangannya, perusahaan konstruksi sipil ini kemudian mendapatkan kontrak batu bara pada 1988.
Lima tahun setelah berganti kewarganegaraan Indonesia, pada November 1997, Low Tuck mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal dan PT Dermaga Perkasapratama yang memiliki tambang dan mengoperasikan terminal batu bara di Balikpapan sejak 1998.
Sejak itu, sejumlah konsesi baru diakuisisinya hingga resmi membentuk perusahaan induk yang dikenal dengan PT Bayan Resources.
Sejak 2001, Bayan Group rata-rata menambah satu konsesi dalam portofolio perusahaan. Bahkan, Bayan terus mengevaluasi peluang untuk menambah konsesi batu bara di Indonesia.
Kalimantan dikenal sebagai pulau dengan areal hutan alam yang masih sangat luas. Namun, di wilayah ini pula banyak menyimpan cadangan batu bara.
Melalui sejumlah perusahaan, Bayan Group memiliki hak eksklusif melalui lima kontrak pertambangan dan tiga kuasa pertambangan dari pemerintah Indonesia. Total konsesinya mencapai 81.265 hektare.
8. Peter Sondakh
VIVAnews – Nama besar di jajaran taipan kaya asal Indonesia yang tetap bertahan di dunia adalah Peter Sondakh, bos Grup Rajawali.
Daftar 1000 orang kaya dunia yang dirilis Forbes pekan ini menyebutkan Peter Sondakh berada di peringkat 437 dengan total kekayaan US$ 2,2 miliar. Posisi Peter Sondakh kali ini jauh melesat dari tahun lalu di posisi 701 dengan harta kekayaan sebanyak US$ 1 miliar.
Sebagai seorang taipan papan atas Indonesia, Peter bukan saja dikenal sebagai bos grup bisnis besar di negeri ini. Namun, pria berusia 58 tahun ini juga memiliki rumah mewah di Beverly Hills.
Grup bisnis Rajawali yang dikendalikannya bergerak di berbagai bidang, mulai dari propert, pertambangan dan perkebunan. Semula, grup bisnis ini juga berniat mengembangkan bisnis maskapai pesawat, namun dibatalkan karena bisnis penerbangan saat ini sedang susah.
Sebelumnya, Grup Rajawali juga dikenal sebagai produsen rokok besar di Tanah Air lewat PT Bentoel Internasional. Namun, ia kemudian melepaskan 56,96 persen sahamnya di PT Bentoel Internasional Investama Tbk kepada British American Tobacco, produsen rokok terbesar kedua di dunia.
Dana hasil penjualan itu, Rajawali mengantongi dana segar Rp 3,35 triliun. Menurut eksekutif Grup Rajawali, Darjoto Setiawan, sebagian besar dana itu digunakan untuk investasi di bisnis tambang. Selain itu, akan digunakan untuk memperluas kebun sawit, serta mengembangkan sektor properti.
Bentoel didirikan pada 1930-an sebagai perusahaan rokok kretek keluarga. Pada 1950-an, perusahaan sudah menjadi pioner dalam proses pengolahan tembakau secara otomatis.
Pada 1991, Rajawali diminta oleh konsorsium kreditur Bentoel untuk mengambil alih manajemen dan membantu melakukan restrukturisasi. Rajawali membantu Bentoel melakukan transformasi dari perusahaan keluarga menjadi perusahaan modern.
Pada 2000, Bentoel menjadi perusahaan publik dan menjadi salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia.
9. Putra Sampoerna
Putera Sampoerna adalah nama yang tak terpisahkan dari kelompok usaha Sampoerna. Dia memiliki pengalaman yang diperolehnya langsung dari perjalanannya mengembangkan sejumlah divisi dan industri di bawah payung perusahaan Sampoerna.
Setelah menjadi Direktur Pengelola Agaliem Trading Sdn Bhd di Singapura pada tahun 1970, Putera Sampoerna kembali ke Indonesia pada tahun 1975 untuk memperluas bisnis yang menyandang nama keluarganya.
Peran dan tanggung jawabnya mencerminkan kemajuan perusahaan, baik di Indonesia maupun di dunia intenasional, sebagai salah satu penyerap tenaga kerja dan pembayar pajak terbesar.
Saat ini Putra Sampoerna menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMS), Presiden Komisaris PT Sampoerna Percetakan Nusantara (SPN), Direktur Pengelola di Sampoerna International Finance Company yang berkantor pusat di Belanda, Presiden Komisaris PT Alfa Retailindo Tbk, PT Perusahaan Dagang dan Industri Panamas dan PT Taman Dayu.
Lahir di Belanda pada tahun 1947 dan mendapatkan pendidikan internasional pertama di Diocesan Boys School, Hong Kong, kemudian di Carey Grammar High School, Melbourne dan berlanjut ke University of Houston, Texas, Putera Sampoerna memandang pendidikan sebagai kunci menuju masa depan yang lebih baik.
Beliau adalah warga negara yang baik dan seorang kepala keluarga yang bercita-cita menciptakan sebanyak mungkin kesempatan yang bermanfaat bagi peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan Indonesia. Sampoerna Foundation merupakan salah satu contoh dan bukti nyata komitmen tersebut.
10. Aburizal Bakrie
Ical lahir di Jakarta, 15 November 1946, berkibar dengan perusahaan yang dirintis keluarganya, PT Bakrie Brothers Tbk, sejak 1942. Ical adalah lulusan Fakultas Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung 1973. Jabatan di Bakrie Brothers yang pernah dipegang, antara lain, direktur utama PT Bakrie Nusantara Corporation pada 1989-1992, Dirut PT Bakrie & Brothers 1988-1992, dan komisaris utama Kelompok Usaha Bakrie pada 1999-2004. Ical juga aktif di organisasi. Periode 2000-2005, dia menjadi anggota Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia); 1999-2004, menjadi ketua umum Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) periode II; 1996-1998, menjabat presiden Asean Chamber of Commerce & Industry; dan 1993-1998, anggota Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR)-periode II.
Mencoba Keberuntungan Mantan Ketua Umum Kadin Indonesia ini mencoba keberuntungan politik dengan ikut menjadi salah satu kandidat calon presiden dalam Konvensi Partai Golkar. Putera sulung pengusaha H Achmad Bakrie kelahiran Jakarta 15 November 1946 ini pada awal pencalonan didukung tidak kurang dari ketiga ormas Trikarya Golkar (SOKSI, Kosgoro, dan MKGR). Kemudian ia pun masuk dalam tujuh besar pemenang prakonvensi yang akan bertanding pada Konvensi Capres Partai Golkar selepas Pemilu Legislatif.
Profil sepuluh orang terkaya di Indonesia ini diambildari berbagai sumber. Tulisan ini, hanya memaparkan 10 orang terkaya Indonesia dari 40 orang terkaya di Indonesia tahun 2010.




edho
March 25, 2011
Semangat Pagi…..
Yth Eka Tjipta Widjaja
Nama saya M. Ridho Nopiadi.
saya adalah seorang yang pantang mundur dalam bekerja mulai dari berjualan baik itu keliling maupun buka toko sudah saya lakukan sampai saya bukak rental komputer.
Tapi saya selalu gagal-dan gagal lagi, walaupun msh gagal sampai sekarang tapi saya untuk berusaha tetap semangat pantang menyerah, sering saya membaca kisah Bapak dan ingin sekali mengikuti jejak seperti Bapak yang bisa hidup sukses dan bisa membahagiakan orang lain. sekiranya bagi media ini tolong sampai kan pesan saya ke pada Bapak Eka Tjipta Widjaja (Pemilik Sinar Mas Grup). Memberi saya sedikit modal dan Cara usaha yang sukses.
sebagai orang terkaya nomor 3 di Indonesia, saya kira tidak keberatan bagi Bapak Eka Tjipta Widjaja (Pemilik Sinar Mas Grup), memberi saya sedikit Modal dan cara usaha yang sukses.
Terimakasih
edho
JAYAVO
March 14, 2012
inspiratif!