Berita dan Artikel lengkap Industri Manufaktur Indonesia

Posted on December 24, 2010

0


Inilah kumpulan berita  dan artikel perkembangan industri manufaktur di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini.

Industri Manufaktur Indonesia Tertinggal?
Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar enam persen, manufaktur hanya 4,5 persen.
JUM’AT, 24 DESEMBER 2010, 06:02 WIB
Arinto Tri Wibowo, Ajeng Mustika Triyanti
VIVAnews – Indonesia terancam deindustrialisasi atau proses menurunnya kinerja industri manufaktur. Sebab, industri manufaktur dalam beberapa tahun terakhir selalu tumbuh di bawah perekonomian nasional.

Ilustrasi Industri (ANTARA/Feri)

Ekonom senior Mirza Adityaswara mengatakan, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar enam persen, sedangkan sektor manufaktur hanya 4,5 persen. Ketika perekonomian jatuh dengan pertumbuhan 4,5 persen, manufaktur hanya tumbuh dua persen.

“Jadi, sudah bertahun-tahun ini industri manufaktur tumbuh di bawah perekonomian nasional. Jika ini dibiarkan, maka akan terjadi deindustrialisasi,” kata Mirza dalam paparan Outlook Ekonomi 2011 di Jakarta.

Saat ini, menurut Mirza, fenomena yang terjadi adalah ‘orang’ beralih ke industri komoditas. Namun, industri komoditas yang dituju adalah minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), batu bara, dan nikel yang tidak diolah.

Semestinya, dia menjelaskan, yang harus dilakukan adalah mengolah komoditas tersebut, sehingga dapat menjadi industri manufaktur.

Mirza menilai, saat ini Indonesia justru kembali ke zaman komoditas primer. Padahal, semestinya Indonesia sudah masuk ke industri manufaktur. “Kenyataannya yang terjadi, saat ini industri justru tumbuh di bawah pertumbuhan perekonomian nasional,” tuturnya.

Untuk itu, Mirza mengimbau agar terjadi keseimbangan antara pertumbuhan industri manufaktur dengan ekonomi nasional. Jadi, perlu adanya kompetisi. Kompetisi itu antara lain dalam hal teknologi, pengetahuan pasar, dan tenaga kerjanya.

——-
MS Hidayat: Ada Gejala Deindustrialisasi
Diperkirakan pertumbuhan industri hingga akhir 2009, hanya mencapai 1,8 persen.
KAMIS, 3 DESEMBER 2009, 13:24 WIB

Antique, Syahid Latif

MS Hidayat (Antara/ Widodo S Jusuf)
VIVAnews - Menteri Perindustrian MS Hidayat memperkirakan pertumbuhan industri hingga akhir tahun ini hanya mencapai 1,8 persen. Pencapaian tersebut menunjukan gejala adanya proses deindustrialisasi di tanah air.

“Itu artinya nihil,” ujar Hidayat dalam seminar Investor Forum 2009 di Ritz Carlton, CSBD, Jakarta, Kamis, 3 Desember 2009.

Menurut Hidayat, pertumbuhan yang kecil tersebut telah menunjukan gejala-gejala deindustrialisasi di Indonesia. Hal itu sebetulnya sudah diperkirakan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang menanggap gejala deindustrialisasi telah terlihat sejak empat tahun terakhir.

Data Departemen Perindustrian menunjukkan, pertumbuhan industri per Oktober 2009, hanya berkisar di bawah 2,5 persen. Padahal, sebelum 1998, pertumbuhan industri di Indonesia biasanya selalu lebih tinggi dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia. “Kini kondisi itu berbeda,” katanya.

Menghadapi kondisi tersebut, lanjut Hidayat, pemerintah tengah berupaya merancang program-program reindustrialisasi yang bisa meningkatkan kembali industri di Tanah Air. Program tersebut di antaranya pencabutan sejumlah aturan yang menghambat dunia usaha, serta penyelesaian masalah tumpang tindih lahan.

“Kalau dari awal sudah dirancang, saya yakin dalam delapan bulan sejak awal tahun akan banyak minat investasi yang muncul,” ujar Hidayat.

Diingatkan pula, jika pemerintah tidak berupaya membuat terobosan konkrit, dikhawatirkan Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi produk-produk perusahaan negara-negara tetangga.

antique.putra@vivanews.com

————-

Pertumbuhan Industri Ditargetkan Capai 8,95%
Target ini ditetapkan untuk lima tahun ke depan, 2014.

RABU, 25 NOVEMBER 2009, 11:57 WIB
Umi Kalsum, Elly Setyo Rini

(Adri Prastowo)

VIVAnews -  Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II menargetkan pertumbuhan industri sebesar 8,95 persen pada tahun 2014. Padahal, prognosa pertumbuhan industri pada tahun ini hanya mencapai 1,84 persen.

Menteri Perindustrian MS Hidayat optimistis pada tahun 2010 pertumbuhan industri akan rebound menjadi 4,65 persen dan terus meningkat menjadi 8,95 persen pada 2014.

“Dengan demikian, rata-rata pertumbuhan industri pada lima tahun ke depan akan sebesar 6,79 persen per tahun,” kata Hidayat saat Rapat Kerja dengan Komisi Perdagangan dan Perindustrian DPR RI, Rabu, 25 November 2009.

Data Depperin menunjukkan, dari pertumbuhan industri yang akan dicapai pada tahun ini sebesar 1,84 persen, sub sektor industri manakan, minuman, dan tembakau menembus pertumbuhan tertinggi dengan angka 13,31 persen. Meski krisis global, industri makanan minuman dan tembakau tetap tumbuh positif dan akan terus bertahan positif hingga lima tahun ke depan.

Sub sektor industri lain yang juga tumbuh positif yakni industri kertas dan barang cetakan (4,53 persen), dan industri pupuk, kimia, dan barang dari karet (1,15 persen). Sementara, sub sektor lain tumbuh negatif dan yang terparah di sektor industri logam dasar, besi, dan baja yakni minus 7,19 persen.

Selain itu, Hidayat menjelaskan, diharapkan dalam kurun waktu lima tahun ke depan, akan terjadi pergeseran penyebaran industru ke luar pulau Jawa. “Share industri di pulau Jawa diharapkan menurun dari angka 75 persen pada tahun 2009 menjadi 64,79 persen pada tahun 2014,” kata Hidayat.

Penurunan pangsa industri di pulau Jawa, kata dia, diharapkan akan terus berlanjut mencapai 54,66 persen pada tahun 2020, dan 47,65 persen pada tahun 2025.

Sebaliknya, pangsa industri di luar pulau Jawa diharapkan meningkat menjadi 27,19 persen pada tahun 2014 dari angka 25 persen di tahun 2009. Dan akan terus berlanjut sehingga mencapai 45,34 persen pada tahun 2020 dan 52,35 persen pada tahun 2025.

————-
“Manufaktur Bukan Ujung Tombak Perekonomian”
Sektor yang memberi sumbangan besar di antaranya perdagangan, hotel, dan restoran.
KAMIS, 19 FEBRUARI 2009, 07:59 WIB

Hadi Suprapto, Elly Setyo Rini

Faisal Basri (kiri) dan Sofjan Wanandi (kanan). (Antara/ Andika Wahyu)
VIVAnews - Pengamat ekonomi Faisal Basri menilai sektor manufaktur bukan ujung tombak perekonomian. Sebab sumbangan ke Produk Domestik Bruto kecil.

“Jadi keliru kalau ada anggapan sektor manufaktur jadi ujung tombak perekonomian,” kata dia dalam Rapat Kerja Departemen Perindustrian 2009 di Hotel Bumi Karsa, Jakarta, Rabu malam, 18 Februari 2009.

Berdasarkan pengamatan dia, sektor yang memberi sumbangan besar di antaranya sektor perdagangan, hotel, dan restoran.

Data sepanjang 2008 menyebutkan, sektor manufaktur hanya menyumbang satu persen dari pertumbuhan PDB sebesar 6,1 persen. Sedangkan laju pertumbuhan sektor ini pada 2008 (yoy) mencapai 3,7 persen.

Padahal, pada kuartal IV 2008 laju pertumbuhan sektor manufaktur (yoy) minus 1,8 persen dengan pertumbuhan PDB 5,2 persen. Pertumbuhan minus juga terlihat ketika dibandingkan antarkuartal. Sektor manufaktur kuartal IV 2008 (qoq) tumbuh minus 2,5 persen. Sama halnya dengan pertumbuhan PDB kuartal IV-2008 (qoq) yang minus 3,6 persen.

“Secara harga berlaku, pertumbuhan sektor manufaktur lebih cepat daripada PDB, tapi itu kan harga nominal. Namun, secara volume atau riil pertumbuhannya jauh lebih rendah daripada PDB,” ujarnya. Hal itu berarti, dia menambahkan, ada indikasi produk-produk industri mengalami kenaikan harga yang lebih cepat dibandingkan harga umum sepanjang tahun 2008 ini.

“Bisa jadi tudingan KPPU beralasan, ada praktik monopoli agar harga bisa dikatrol naik,” kata dia.

————
PDB Industri Bakal Tembus Rp 11.114 Triliun
Pemerintah menargetkan PDB industri akan bertumbuh 8,5 persen selama 2010-2020.
RABU, 18 FEBRUARI 2009, 09:32 WIB

Heri Susanto, Elly Setyo Rini

Industri tekstil (Saptono)
VIVAnews – Pemerintah menargetkan produk domestik bruto (PDB) industri akan bertumbuh 8,5 persen pada 2010 hingga 2020. Dengan pertumbuhan itu, PDB Industri diperkirakan mencapai Rp 11.114 triliun pada 2020.

“Angka tersebut berdasarkan angka pertumbuhan dan kontribusi per sektor industri pada PDB,” kata Sekretaris Jenderal Departemen Perindustrian Agus Tjahayana dalam Rapat Kerja Departemen Perindustrian 2009 di Hotel Bumi Karsa Bidakara Jakarta, Selasa malam, 17 Februari 2009.

Dengan demikian, kata Agus, besaran PDB industri selama periode tersebut akan mencapai Rp 10.117 triliun atau US$ 1 triliun dengan asumsi kurs per dolar sama dengan Rp 10 ribu.

Pertumbuhan tersebut di atas angka skenario keempat yang menjadi acuan  Kebijakan Industri Nasional (KIN) 2020 – 2025 di mana angka pertumbuhan rata-rata PDB mulai 2010 sebesar 7 persen per tahun. “Angka 7 persen berdasarkan pengalaman enam kali Repelita,” kata Agus.

Menurut dia, dengan titik awal PDB 2008 sebesar Rp 4.477 triliun dan estimasi 2009 sebesar Rp 5.280 triliun, maka angka PDB 2020 akan mencapai Rp 11.114 triliun. “Setara dengan PDB perkapita sebesar Rp 41,7 juta,” katanya.

Sedangkan, tiga skenario lain yang disiapkan pemerintah dirasa tidak sesuai. Pertama, skenario angka PDB pada 2020 sebesar Rp 26.617 triliun. Angka tersebut didasarkan pada jumlah penduduk sebanyak 266,17 juta dengan asumsi pertumbuhan penduduk sebesar 1,3 persen per tahun dan kurs rupiah per dolar sama dengan Rp 10 ribu.

“Dengan perhitungan tersebut, PDB harus tumbuh sebesar 18 persen per tahun. Ini angka yang terlalu tinggi untuk Indonesia,” kata Agus.

Sedangkan skenario ketiga yang menyebutkan pertumbuhan PDB hanya 4,4 persen per tahun sesuai proyeksi Goldman Sachz dinilai terlalu rendah. Dan, skenario ketiga yang menggunakan perhitungan BPS untuk menghasilkan proyeksi pertumbuhan moderat dinilai terlalu sulit diterapkan.

————–
2010, PDB Industri Tumbuh 8,5%
Besaran PDB industri pada periode 2010 – 2020 akan mencapai Rp 10.117 triliun.
RABU, 18 FEBRUARI 2009, 09:05 WIB

Hadi Suprapto, Elly Setyo Rini

Industri tekstil (Saptono)

VIVAnews - Pemerintah menargetkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) industri sebesar 8,5 persen pada 2010 – 2020.

“Angka tersebut berdasarkan angka pertumbuhan dan kontribusi per sektor industri pada PDB,” kata Sekretaris Jenderal Departemen Perindustrian Agus Tjahayana dalam Rapat Kerja Departemen Perindustrian 2009 di Hotel Bumi Karsa Bidakara, Jakarta, Selasa malam, 17 Februari 2009.

Dengan demikian, besaran PDB industri pada periode tahun itu akan mencapai Rp 10.117 triliun atau US$ 1,011 triliun dengan asumsi kurs sama dengan Rp 10 ribu.

Pertumbuhan tersebut di atas angka skenario keempat yang menjadi acuan Kebijakan Industri Nasional 2020 – 2025 di mana angka pertumbuhan rata-rata PDB mulai 2010 sebesar 7 persen per tahun. “Angka 7 persen berdasarkan pengalaman enam kali Repelita,” kata Agus.

Dengan titik awal PDB pada 2008 sebesar Rp 4.477 triliun dan estimasi pada 2009 sebesar Rp 5.280 triliun, maka angka PDB 2020 akan mencapai Rp 11.114 triliun. “Setara dengan PDB perkapita sebesar Rp 41,7538 juta,” katanya.

Dia mengatakan, tiga skenario lain yang disiapkan pemerintah dirasa tidak sesuai. Pertama, skenario di mana angka PDB pada 2020 harus Rp 26.617 triliun.

Angka tersebut didasarkan pada jumlah penduduk sebanyak 266,17 juta dengan asumsi pertumbuhan penduduk sebesar 1,3 persen per tahun dan kurs per dollar sama dengan Rp 10 ribu.

“Dengan perhitungan itu, PDB harus tumbuh sebesar 18 persen per tahun. Ini angka yang terlalu tinggi untuk Indonesia,” kata Agus.

Sedangkan skenario ketiga yang menyebutkan pertumbuhan PDB hanya 4,4 persen per tahun sesuai proyeksi Goldman Sachs dinilai terlalu rendah. Skenario ketiga yang menggunakan perhitungan Badan Pusat Statistik untuk menghasilkan proyeksi pertumbuhan moderat dinilai terlalu sulit diterapkan.

Posted in: berita 4