Cuaca ekstrim imbas dari pemanasan global

Posted on December 24, 2010

0


perkiraan ilmuwan bahwa setiap tahun naik satu derajat celcius setelah sekian tahun akhirnya mulai terasakan di tahun-tahun belakangan ini.  Kini benua Eropa mulai merasakannya.

CUACA EKSTRIM DI BANYAK NEGARA
Bukti Nyata Pemanasan Global
Kamis, 23 Desember 2010 | 10:07 WIB

AFP/GINA WOODWARD

Foto yang dibuat pada hari Minggu (19/12/2010) memperlihatkan salju dan es yang menyelimuti wilayah Mount Hotham, Australia. Cuaca dan udara yang biasanya panas pada musim panas kali ini digantikan udara dingin dari laut selatan.

PARIS, KOMPAS.com – Para ilmuwan menegaskan, badai salju dan suhu dingin ekstrem yang melanda Eropa akhir-akhir ini adalah efek langsung dari pemanasan global. Anomali iklim tersebut masih mengakibatkan gangguan transportasi hingga Rabu (22/12/2010), pada saat jutaan warga Eropa bersiap mudik untuk merayakan Natal di kampung halaman.

Para peneliti dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (Potsdam-Institut für Klimafolgenforschung/PIK) di Jerman mengatakan, musim dingin ekstrem yang terjadi berturut-turut di benua Eropa dalam 10 tahun belakangan ini adalah akibat mencairnya lapisan es di kawasan Artik, dekat Kutub Utara, akibat pemanasan global.

Hilangnya lapisan es membuat permukaan laut di Samudra Artik langsung terkena sinar matahari. Energi panas matahari, yang biasanya dipantulkan lagi ke luar angkasa oleh lapisan es berwarna putih, kini terserap oleh permukaan laut, membuat laut di kawasan kutub itu memanas dan mengubah pola aliran udara di atmosfer.

Dalam model komputer, yang dibuat PIK dan dimuat di Journal of Geophysical Research awal bulan ini, terlihat kenaikan suhu udara di lautan Artik tersebut menimbulkan sistem tekanan tinggi. Sistem tekanan tinggi inilah yang membawa udara dingin kutub ke daratan Eropa.

”Anomali ini bisa melipat tigakan probabilitas terjadinya musim dingin yang ekstrem di Eropa dan Asia utara,” ungkap Vladimir Petoukhov, fisikawan dan peneliti utama PIK.

Petoukhov menambahkan, efek aliran udara dingin dari kutub utara itu akan makin parah saat terjadi gangguan pada arus udara panas yang melintasi Samudra Atlantik dan perubahan aktivitas matahari.

Itulah yang terjadi saat ini. Para pakar cuaca mengatakan, saat ini arus udara hangat dari pantai timur AS (Gulf Stream) terhalang dan berbelok arah di tengah-tengah Atlantik.

Hal itu membuat aliran udara dingin dari Artik dan Eropa Timur tak terbendung masuk ke Eropa Barat. Saat arus dingin ini melintasi Laut Utara dan Laut Irlandia, uap air dari laut tersebut diubah menjadi salju dalam skala sangat besar dan menyebabkan badai salju parah di negara-negara Eropa Barat.

Mulai pulih

Otoritas penerbangan sipil Perancis, DGAC, Rabu, mengeluarkan peringatan, salju akan turun lagi di kawasan Paris pada Rabu sore dan kemungkinan akan terjadi pembatalan penerbangan lagi untuk jadwal penerbangan setelah pukul 17.00. Peringatan tersebut keluar saat kondisi penerbangan di Eropa baru mulai pulih setelah terpuruk dalam kekacauan total sejak akhir pekan lalu.

Bandara Frankfurt di Jerman baru membatalkan 70 dari total 1.300 penerbangan yang dijadwalkan Rabu. Jumlah ini menurun signifikan dibanding Selasa, saat 550 penerbangan dibatalkan.

Dua landasan pacu di Bandara Heathrow, London, Inggris, juga sudah dibuka sejak Selasa malam dan kini bandara tersibuk di Inggris tersebut sudah beroperasi 70 persen mendekati normal. ”Kami lega karena akan bisa menyingkirkan semua salju hari ini,” tutur juru bicara Bandara Heathrow.

Sekitar 1.000 orang terpaksa bermalam di Heathrow, dan 300 penumpang terdampar di Bandara Frankfurt, Selasa malam.

“Sangat menyedihkan, rasanya seperti berada di negara dunia ketiga,” tutur seorang penumpang bernama Janice Phillips (29), yang terdampar di Heathrow dalam perjalanan pulang ke Minneapolis, AS.

Dua bandara utama di Paris, Charles de Gaulle dan Orly, dibuka 24 jam penuh untuk mengurai penumpukan penumpang akibat pembatalan dan penundaan selama berhari-hari. Maskapai Air France-KLM memperkirakan menderita kerugian hingga 35 juta euro (Rp 415,1 miliar) akibat gangguan cuaca bulan ini.

Sementara itu, suhu ekstrem terus melanda Eropa. Kota Holbaek, 65 kilometer sebelah barat Kopenhagen, Denmark, mencatat suhu minus 22,5 derajat celsius, Selasa malam. Ini adalah rekor suhu terendah di Denmark dalam 29 tahun terakhir.

Di Krasnoyarsk, Siberia, Rusia, suhu anjlok hingga 50 derajat celsius di bawah titik beku, menyebabkan sebuah bus mengalami kegagalan teknis dan bertabrakan, menewaskan delapan penumpangnya.

Cuaca dingin juga membuat harga minyak mentah dunia terus naik. Di pasar Asia, Rabu, harga minyak mentah Brent untuk pesanan bulan Februari naik 29 sen menjadi 93,49 dollar AS per barel, atau tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Harga diperkirakan masih akan terus naik seiring cuaca dingin ekstrem yang diramalkan masih akan terjadi sampai akhir tahun.

Warga LA dievakuasi

Cuaca ekstrem juga terjadi di AS. Hujan deras, banjir, dan tanah longsor melanda negara bagian California. Curah hujan yang turun di pusat kota Los Angeles (LA) sepekan terakhir sudah mencapai sepertiga dari curah hujan tahunan di kota tersebut.

Pihak berwajib telah mengevakuasi 232 keluarga di kawasan La Canada Flintridge dan La Crescenta di pinggiran LA, yang terletak di dekat perbukitan yang sudah jenuh oleh air hujan dan dikhawatirkan longsor. Evakuasi juga dilakukan di San Diego.

Cuaca ekstrem yang melanda Eropa belum mengurangi minat warga Indonesia menghabiskan libur akhir tahun ke sana. Hasil pemantauan di sejumlah biro perjalanan di Jakarta, Rabu, belum ada rombongan yang membatalkan rencana kunjungan mereka ke Eropa.

“Beberapa pelanggan memang menanyakan kondisi di Eropa, tapi sejauh ini belum ada pembatalan,” kata pegawai perjalanan luar negeri Bayu Buana Tour and Travel, Jonas Sinambela.

Manajer Hubungan Masyarakat dan Media Panorama Tours Anita Hartono menjelaskan, saat ini mereka melayani perjalanan wisata sedikitnya 300 WNI dalam 20 kelompok ke Eropa.(AP/AFP/Reuters/DHF/JOE/ HAM/SIN/ARA/EGI/AYS)

———-

Foto: Dampak Cuaca Ekstrem di Inggris
Rabu, 22 Desember 2010 | 15:03 WIB

 

LONDON, KOMPAS.com — Cuaca ekstrem masih melanda Inggris. Ekonomi negara itu diperkirakan menderita kerugian sekitar 1,5 miliar poundsterling akibat suhu dingin yang membeku.

Badai salju dan suhu yang beku telah menimbulkan kekacauan perjalanan dan gangguan pada proses produksi serta distribusi. Biaya-biaya dilaporkan naik 50 persen lebih tinggi dari musim dingin normal dan para pedagang yang putus asa telah memberi tawaran potongan harga yang besar demi mengurangi kerugian.

Dailymail, Rabu (22/12/2010), melaporkan, cuaca dingin kemarin menyebabkan puluhan ribu penumpang pesawat tetap terdampar di bandara-bandara utama, banyak dari mereka meringkuk di tenda-tenda di luar gedung terminal Heathrow.

Berikut adalah sejumlah foto kondisi cuaca di Inggris dan dampaknya. Gambar 1, sebuah foto satelit NASA yang menunjukkan Inggris yang beku karena diselimuti salju. Gambar 2, salju menutupi seluruh Inggris. Salju yang tebal membuat perjalanan kendaraan terhambat. Gambar 3, para penumpang antre memasuki kereta Eurostar yang akan meninggalkan Stasiun St Pancras, Selasa. Gambar 4, seekor angsa berjuang untuk lepas dari es di danau yang membeku di Fairburn Ings Bird Sanctuary di dekat Castleford.

———-

AUSTRALIA
Salju Turun di Musim Panas
Selasa, 21 Desember 2010 | 07:30 WIB
SMH
Wayne McQueen dan puterinya Jordan, 6 tahun, yang mengendara dari Bellingen ke Thredbo, Australia, Minggu (19/12) malam terkaget-kaget ketika bangun pagi dan menemukan salju ada di mana-mana. Australia saat ini seharunya sedang mengalami musim panas.

SYDNEY, KOMPAS.com Cuaca ekstrem terburuk dan langka terjadi di Australia hari Senin (20/12/2010). Salju tiba-tiba turun menutupi sebagian benua yang seharusnya sedang mengalami musim panas itu. Desember yang cerah dan panas diselimuti salju dan memberi suasana Natal yang putih seperti di Eropa.

Saat ini posisi matahari sedang berada di selatan garis khatulistiwa. Benua Australia seharusnya masih mengalami musim panas. Begitu pula pulau-pulau paling selatan di wilayah Indonesia yang letaknya berdekatan dengan Australia, seperti Timor, Sabu, Rote, dan Sumba.

Meski demikian, musim panas Desember ini di Australia telah ditingkahi oleh perubahan cuaca yang ekstrem dengan turunnya salju dan hujan teramat lebat. Salju turun lebat di pantai timur Negara Bagian New South Wales dan Victoria sehingga banyak resor wisata—seharusnya panas pada akhir tahun—justru ditimbuni salju setebal 10 sentimeter (cm).

Banyak warga bingung dan setengah tidak percaya melihat salju turun pada musim panas, sebuah perubahan cuaca yang tiba-tiba. Hujan salju pada Desember adalah peristiwa alam yang tak lazim. ”Ini putih, semuanya putih,” kata Michelle Lovius, General Manager Hotel Kosciuszko Chalet di Charlotte Pass.

Lovius mengatakan, hal pertama yang terjadi pada Senin pagi adalah semuanya hening dan damai setelah salju turun dengan lebatnya. Sejak awal Desember, wilayah pegunungan New South Wales sedang mengalami puncak mekarnya bunga-bunga liar. ”Kami berharap hal itu (cuaca dingin) tetap bertahan selama lima hari agar kami bisa merayakan Natal yang putih,” katanya.

Istilah Natal yang putih (White Christmas) dalam tradisi Kristen hanya dikenal di Eropa atau negara di Kutub Utara, bukan di selatan seperti di Australia. Pada Desember, termasuk pada setiap hari Natal, 25 Desember, salju turun dengan lebatnya di Eropa dan Kutub Utara. Hujan salju di musim panas di Australia adalah hal yang aneh, sebuah pergeseran cuaca yang ekstrem.

Lebih jauh ke selatan Negara Bagian Victoria, kondisinya juga parah. Maureen Gearon, juru bicara Victorian Snow Report, melaporkan, Gunung Hotham diselimuti salju setebal 10 cm dan Gunung Buller tertutup lebih dari 5 cm. ”Semuanya tertutup salju, sebuah akhir tahun yang indah. Warga memakai topi Santa Claus di kepala mereka dan berfoto di salju,” kata Gearon kepada kantor berita AAP Australia.

Anjloknya suhu udara juga terjadi di Sydney, yakni menjadi hanya 13 derajat celsius, dari sebelumnya di atas 23 derajat celsius. Di bagian barat kota malah suhu telah turun menjadi hanya 9,8 derajat celsius. Angin yang mengandung uap air bertiup dengan kecepatan 100 kilometer per jam menyapu garis pantai.

Kondisi yang kontras juga terjadi di pantai barat. Banjir terburuk dalam 50 tahun terakhir mengisolasi kota Carnarvon, sekitar 900 km di utara Perth. Helikopter polisi terpaksa dikerahkan untuk menyelamatkan 19 orang dari atap sebuah bar karena banjir meninggi.

Ahli cuaca pun tercengang menyaksikan turunnya salju dan cuaca dingin, perubahan cuaca yang drastis. ”Ini kejadian tidak biasa, sekalipun itu di New South Wales dan Victoria yang berdekatan dengan samudra selatan,” kata Ahli Klimatologi Biro Meteorologi, Grant Beard.

Eropa belum pulih Badai salju dan suhu udara membeku di bawah nol masih terus melanda Eropa. Kekacauan transportasi terjadi besar-besaran di seluruh moda transportasi, baik laut, udara, maupun darat, termasuk angkutan berbasis rel. Kondisi ini telah berujung pada kematian puluhan orang.

Di Polandia saja sebanyak 29 orang meninggal. Mereka tewas membeku pada tanggal 19 dan 20 Desember lalu di tengah temperatur dingin, yang bahkan mencapai 20 derajat celsius di bawah titik nol, yang terjadi di beberapa tempat.

Di Austria tiga orang tewas membeku saat mencoba pulang ke rumah mereka pada malam hari. Di Finlandia sedikitnya empat orang tewas dalam kecelakaan lalu lintas saat badai salju melanda. Badai salju ini juga melumpuhkan transportasi di hampir semua kota di Eropa. Layanan kereta api dan penerbangan dihentikan. Demikian seperti dilansir harian Telegraph, Senin. (AP/AFP/REUTERS/CAL)

———

SUHU EKSTREM
Salju Masih Lumpuhkan Inggris Raya
Sabtu, 4 Desember 2010 | 09:14 WIB
Reuters
Sebuah pesawat di bandara yang tertutup salju di Edinburgh, Inggris.

LONDON, KOMPAS.com — Beberapa hari ini Inggris mengalami hujan salju yang membuat transportasi negara itu terhambat dan membuat penerbangan di sejumlah bandara serta stasiun kereta api dibatalkan.

Bahkan, beberapa sekolah terpaksa meliburkan murid-muridnya. Mahasiswa Indonesia juga tidak dapat ke kampus dan para pekerja pun bolos, sedangkan mereka yang berencana bepergian harus mengurungkan niatnya.

Temperatur sepanjang Kamis di beberapa wilayah, antara lain, di bagian utara pulau Inggris, membeku sampai -14 derajat celsius. Bila berlanjut hingga hari ini, ketebalan salju diperkirakan bisa mencapai 30 cm.

Badan meteorologi setempat memperkirakan, temperatur bahkan bisa anjlok sampai -25 derajat C hingga -20 derajat C di beberapa wilayah di Skotlandia.

Kepolisian Inggris menganjurkan agar orang tidak usah bepergian jika tidak diperlukan, khususnya di kawasan yang terkena hujan salju lebat, seperti Skotlandia dan beberapa kawasan di sebelah utara Inggris.

Bandara Gatwick ditutup hingga Jumat karena salju turun setebal 15 cm. Bahkan di beberapa tempat di sekitar Bandara Gatwick, Surrey, salju mencapai 25 cm. “Kami berupaya semaksimal mungkin agar bisa kembali beroperasi,” kata juru bicara Bandara Gatwick.

Peringatan tentang salju yang masih akan turun dikeluarkan di Skotlandia serta beberapa wilayah lain, antara lain, di London, Yorkshire, serta di Inggris utara ataupun di kawasan barat daya dan timur laut.

Sementara layanan kereta api Eurostar yang menghubungkan London dan Brussel membatalkan sebagian layanannya, termasuk dari London ke Paris. Menurut BBC, lebih dari 250.000 anak sekolah Skotlandia diliburkan dan beberapa di antaranya mungkin akan ditutup hingga akhir pekan ini.

Diperkirakan, sekitar 1.500 dari total 2.722 sekolah ditutup karena salju yang datang lebih awal tahun ini dibanding tahun sebelumnya.

————

Salju Kacaukan Transportasi Eropa
Jumat, 3 Desember 2010 | 11:18 WIB
Reuters
Sebuah pesawat di bandara yang tertutup salju di Edinburgh, Inggris.
LONDON, KOMPAS.com — Hujan salju menyapu wilayah Eropa utara dan menyebabkan bandar udara ditutup, jalan-jalan terhalang, dan layanan internasional kereta Eurostar dibatalkan. Para ahli cuaca memperkirakan, hujan salju yang lebih hebat masih akan terjadi pada Jumat (3/12/2010) ini.

Cuaca dingin yang mendadak datang dan tak sesuai musimnya itu telah berlangsung hampir seminggu. Kondisi itu telah menyebabkan aktivitas di Inggris terhenti, dengan ribuan sekolah ditutup dan para pelaju terdampar karena layanan kereta api dibatalkan serta jalan yang tertutup es dianggap tidak aman untuk dilalui. Bandara Gatwick, bandara kedua tersibuk di Inggris setelah Heathrow, ditutup dua hari berturut-turut dan telah memicu kemarahan warga karena negara dinilai tidak mampu mengatasi suhu dingin.

Bandara London mengatakan, pihaknya berharap untuk bisa beroperasi lagi pada Jumat pagi, tetapi tetap memperingatkan para wisatawan tentang kemungkinan penundaan lebih lanjut serta gangguan. Pejabat Pemerintah Inggris telah berjanji untuk meninjau bagaimana jaringan transportasi menghadapi masalah itu, sedangkan laporan media mengatakan, Inggris telah menjadi “bahan tertawaan” luar negeri.

Namun, di seluruh wilayah Eropa sedang mengalami masalah yang sama akibat suhu yang mendadak anjlok. Eurostar, yang mengoperasikan kereta antara London-Paris-Brussels, membatalkan lebih dari 20 kereta api pada hari Kamis dan mengatakan akan mengurangi layanan secara signifikan sampai hari Minggu. Bandara internasional Jenewa hanya dibuka pada Kamis pagi setelah salju hebat menyebabkan bandara itu ditutup selama satu setengah hari, tetapi jadwal masih mengalami penundaan parah.

Di bandara Dublin, Irlandia, penerbangan dibuka kembali pada Kamis malam, setelah itu ditutup untuk memungkinkan pembersihan salju dan es dari landasan pacu. Sementara puluhan penerbangan masih dibatalkan atau ditunda di bandara di Paris, Praha, dan Frankfurt.

———-
INGGRIS
Ratusan Penerbangan Batal karena Salju
Kamis, 2 Desember 2010 | 14:12 WIB
LONDON, KOMPAS.com — Ratusan penerbangan di Inggris dibatalkan setelah salju menutup sejumlah bandara di negara itu.Telegraph.co.uk, Rabu (1/12/2010), memberitakan bahwa pelayanan terhenti, antara lain, di Gatwick, Edinburgh, Dundee, Durham Tees Valley, dan Doncaster (Robin Hood), yang menyebabkan ribuan penumpang terdampar.

Penundaan dan pembatalan juga dilaporkan di beberapa bandara lainnya, termasuk di London City, Heathrow, Leeds Bradford, dan Newcastle. Ini merupakan gangguan terburuk bagi penerbangan Inggris sejak krisis abu vulkanik pada bulan April lalu, yang membatalkan ribuan penerbangan di seluruh Eropa.

Cuaca buruk di tempat lain di Eropa menyebabkan sejumlah bandara di benua itu, termasuk Frankfurt dan Jenewa, juga ditutup. Hal ini menyebabkan ribuan penumpang terdampar di luar negeri. Mereka, bagaimanapun, berhak untuk klaim makanan dan, jika perlu, akomodasi hotel dari maskapai penerbangan mereka berdasarkan undang-undang perlindungan konsumen Uni Eropa. Dengan perkiraan cuaca yang bakal lebih buruk, dikhawatirkan kekacauan itu berlanjut selama beberapa hari ke depan.

Masalah terburuk terjadi di Gatwick, di mana sekitar 600 penerbangan dibatalkan setelah landasan di bandara itu diselimuti salju. “Kami memiliki 6 inci (di landasan) dan ada 6 (inci) di jalanan,” kata juru bicara bandara itu. Sebuah pernyataan di situs bandara itu mengatakan, “Berdasarkan kondisi cuaca saat ini, keberangkatan dan kedatangan pesawat di Gatwick akan sangat terganggu. Landasan pacu saat ini tertutup untuk memungkinkan kegiatan pembersihan salju dilaksanakan. Penumpang disarankan untuk tidak berangkat ke bandara dan harus mengecek langsung ke maskapai penerbangan mereka atau kunjungi situs web kami.

———
Transportasi Austria Terganggu Salju
Kamis, 2 Desember 2010 | 12:00 WIB
WINA, KOMPAS.com – Sejak tanggal 30 November malam, seluruh Austria diguyur salju tebal sehingga mengakibatkan kekacauan dan antrean panjang lalu lintas di sebagian daerah.

Sejauh ini, telah terjadi banyak kecelakaan lalulintas akibat salju tersebut, dan dua orang tewas. Menurut laporan dari Austrian Press Agency (APA), Rabu (1/12), di daerah Freistadt, Austria utara, seorang pria berusia 69 tahun jatuh pada Selasa malam (30/11) dalam perjalanan pulang dan tak sadarkan diri. Ia kedinginan lalu meninggal.

Di Burgenland, negara bagian Austria timur, banyak mobil tergelincir dan mengalami kecelakaan akibat cuaca buruk, Rabu. Seorang pria di Wina tewas dalam kecelakaan itu. Dinas layanan darurat menyatakan, sebagian mobil itu tak menggunakan ban anti-slip karena salju.

Satu laporan yang dikeluarkan Austrian Centre for Meteorology and Geodynamics menyatakan sampai pukul 15.00 Rabu, di sebagian besar wilayah Austria salju yang turun telah mencapai lebih dari delapan centimeter dan di sebagian daerah bahkan mencapai 20 centimeter.

Kota Wina, ibu kota Austria, juga diguyur salju. Hingga pukul 15.00, salju yang turun di kota tersebut telah mencapai ketinggian 10 centimeter. Sejak pagi hari, pemerintah Wina telah mengirim lebih dari 1.500 pekerja dengan menggunakan 79 kendaraan-salju besar, 133 kendaraan- salju kecil dan 177 kendaraan yang diatur oleh perusahaan swasta di jalan-jalan guna memindahkan salju, menyiram garam untuk mencairkan salju, guna menjaga arus lalulintas di berbagai jalan utama di kota itu.

Namun, salju tersebut membuat kota Wina menghadapi kesulitan lalulintas tertentu. Kendaraan angkutan umum di sebagian daerah bahkan harus berhenti operasi untuk sementara atau mengubah jalur mereka. Sebagian persimpangan di luar kota Wina telah ditutup untuk sementara.

Menurut jurubicara bagi Vienna International Airport, Peter Kleemann, meskipun di sebagian negara Eropa dan bagian lain Austria, penerbangan telah terpengaruh atau bahkan dibatalkan, bandar udara Wina beroperasi seperti biasa.

———–
INGGRIS
Seribu Sekolah Masih Tutup
Selasa, 30 November 2010 | 18:12 WIB
ilustrasi

KOMPAS.com – Selasa (30/11/2010) adalah hari kedua penutupan sekitar seribu sekolah di Inggris. Pemicunya adalah badai salju yang mengakibatkan gangguan perjalanan, khususnya di Skotlandia dan Inggris utara.

Tak hanya itu, para pengendara kendaraan juga menghadapi kemacetan panjang dan jalanan yang licin lantaran es, tulis AP danAFP.

Perjalanan udara juga terganggu. Pasalnya, pemerintah menutup Bandara Durham Tees Valley. Sementara, Bandara Edinburg dibuka hanya untuk pendaratan.

Skotlandia -yang terletak di ujung utara Inggris- merupakan wilayah yang paling parah dilanda salju. Aliran listrik putus untuk sekitar 1.200 rumah di Skotlandia dan para tehnisi bekerja seharian untuk memulihkan sambungan listrik.

Tercatat sekitar 800 sekolah di Skotlandia yang tutup. Sementara, beberapa dewan kota sudah memutuskan sekolah masih akan tetap tutup setidaknya hingga Selasa ini.

Sementara itu di wilayah Inggris utara lainnya, sekitar 450 sekolah tutup. Sedangkan di Irlandia Utara 93 sekolah tutup. Hal yang sama menimpa 10 sekolah di Wales.

Mobil

Selanjutnya, operasi khusus dilancarkan di kawasan Lincolnshire untuk menarik sekitar 60 mobil dari jalanan yang sudah tidak mungkin lagi dilalui.

Kemacetan terburuk di Skotlandia menyebabkan antrean mobil sampai beberapa kilometer di Dunblane dan Perth.

Asosiasi Pemerintah Daerah mengatakan sejumlah dewan kota sudah meningkatkan cadangan garam yang digunakan untuk membuat jalanan yang dilapisi es tidak terlalu licin.

Salju juga menyebabkan pengumpulan sampah terpaksa ditunda di wilayah Tyneside utara.
Kantor metereologi kembali mengeluarkan peringatan jalanan yang licin terlapis es karena cuaca yang membeku serta turunnya salju di Skotlandia dan sebagian Irlandia utara.

Salju juga kemungkinan turun di London dan sekitarnya yang diperkirakan bisa menghambat perjalanan kereta api.

David Sparks, dari Asosiasi Pemerintah Daerah, mengatakan sejumlah dewan kota tahun ini sudah lebih siap untuk menghadapi musim dingin. “Pihak berwenang di daerah sudah melakukan persiapan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya untuk musim dingin,” katanya.

“Kami memiliki cadangan garam tiga kali lebih banyak dari yang kami miliki tahun lalu dan setengah dari pemerintah daerah membeli truk-truk penyebar garam,” tambahnya.

Tahun ini Inggris memang menghadapi turunnya salju secara meluas yang lebih awal sejak tahun 1993 karena biasanya salju belum turun pada November.

 

 

 

Posted in: Pemanasan Global