setahun ini menteri kesehatan mengemukakan baru 60% tercapai target

Posted on October 23, 2010

0


JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam jumpa pers di kantor Kementerian Kesehatan, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Jumat (22/10/2010), Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih memaparkan beberapa hal yang dinilainya menjadi keberhasilan Kementerian Kesehatan dalam setahun pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu II.

Salah satunya adalah menjadikan 56 persen penduduk Indonesia memiliki jaminan kesehatan atau Jamkes. “Dari 56 persen ini, sebagian besarnya, hampir 60 persennya adalah Jamkesmas. Yang banyak itu Jamkesmas kemudian Jamkesda. Artinya, kalau keduanya, hampir 80 persen dari 56 persen ini ditanggung pemerintah baik pusat provinsi atau kabupaten,” ujar Endang.

Masih berkenaan dengan Jamkesmas, kata Endang, Kementerian Kesehatan pada tahun 2010 ini telah menambah anggaran untuk Jamkesmas dari Rp 4,6 triliun menjadi Rp 5,125 triliun. Selain persoalan Jamkesmas, Kementerian Kesehatan selama setahun telah mengalami kemajuan penyediaan sarana kesehatan dengan menambah 152 rumah sakit, 194 puskesmas, 377 puskesmas pembantu, 283 poskesdes, dan 2.828 posyandu.

“Sebaran rumah sakit di daerah padat memang sudah banyak, tapi di daerah seperti Irian, Kalimantan, bukannya tidak ada, tapi masih dirasa kurang, tetap saja. Kita akan siasati dengan puskesmas perawatan, layanan ambulans lebih baik untuk darat, udara, laut,” kata Endang.

Selain rumah sakit, tenaga pelayanan kesehatan aktif juga ditambah, seperti dokter, dokter gigi, dokter spesialis, dan bidan yang totalnya 32.978. Kementerian Kesehatan juga mengangkat total 14.353 orang dokter, dokter gigi, spesialis, dan bidan.

“Pelamar pegawai Kemenkes juga meningkat. Tren orang yang melamar pegawai Depkes melalui registrasi online kebanyakan perempuan,” ucap Endang. Selain itu, Endang mengatakan bahwa pihaknya berhasil dalam meningkatkan ketersediaan obat, alat kesehatan, serta penggunaan obat generik.

Kementerian Kesehatan, kata Endang, telah melakukan repositioning obat generik yang semula mengedepankan harga murah menjadi mutu unggul dengan harga murah sehingga masyarakat tidak ragu. Selain itu, juga berhasil menambah item obat generik yang turun harga menjadi 106 item dari 31 item tahun lalu.

“Ketersediaan obat di instalasi farmasi 14,2 bulan,” tambah Endang. Sedangkan untuk penggunaan obat generik pada tahun 2010, lanjutnya, mencapai 57,18 persen di rumah sakit dan 96,06 persen di puskesmas.

Endang juga menyampaikan bahwa pihaknya telah berhasil menurunkan angka pengidap gizi kurang plus buruk menjadi 17,9 persen dari 18,4 persen dan angka gizi buruk dari 5,4 persen jadi 4,9 persen.

“Ada upaya terobosan, pemberian taburi, isinya vitamin mineral disebarkan ke makanan lokal,” katanya. Juga pengendalian penyakit seperti penyakit TBC yang pada tahun 2010 peringkat Indonesia telah turun menjadi peringkat lima pengidap TBC terbanyak dari sebelumnya selalu menjadi peringkat tiga. “Indonesia selama 10 tahun kita nomor tiga saja, dan baru 2010 kita nomor lima di dunia,” pungkas Endang.

 

Advertisements
Posted in: kesehatan 1