Hubungannya Mbah Marijan, gunung Merapi dengan Blog

Posted on November 3, 2010

0


Waktu saya melihat jenazah Mbah Marijan di foto-foto FACEBOOK yang diunduh temen-temen, saat itu saya termenung. luar biasa perjalanan hidupnya yang penuh dengan liku. sosok profil manusia desa yang penuh dengan sifat-sifat kerakyatan yang sangat dominan dan mengandung banyak kekuatan. meski kelihatan lemah, tapi di dalamnya tersimpan kekuatan luar biasa yang menjadi ciri khas keberadaannya.
sebenarnya, di sini terlihat banyak kontraversi yang muncul akan sifat-sifatnya dengan kekuatan yang dimiliki. meski dia hanya sebagai manusia kebanyakan atau lebih dikenal manusia awam, tapi di sana juga terpendam ketidaklaziman yang tidak setiap orang kebanyakan mampu melakukannya.
mungkin Mbah Marijan adalah kekuatan representasi budaya jawa. terlihat lemah, secara fisik, yang bisa dilihat dari ciri-ciri fisiknya, sudah berusia renta, kalau tidak salah berusia 83 tahun, sehingga jelas, untuk berlari saja, tidak secepat olahragawan atau militer atau profesi apa saja yang mengandalkan kekuatan fisik. bukan juga manusia yang ditakuti, seperti tentara atau kriminal yang sering beradu fisik atau terlibat pertikaian yang di dalamnya tentu mengandung atau tersembunyi bahaya yang mengancam. Satu hal lagi, sekuat apapun manusia atau orangnya tidak akan cukup berani untuk menerjang bahaya yang mengancam. pada akhirnya, buah ketetapan hatinya dihargai oleh berbagai kalangan. bukan cuma orang Indonesia, bahkan orang luar negeri pun, saya mengangkat topi untuk itu.
kemudian di sanalah, kekuatan tersembunyi manusia desa atau rakyat desa mulai diapresiasi. sadar bahwa sesungguhnya, di balik kelemahan, tersembunyi kekuatan dasyat.
Dulu, saat lima tahun silam, ketika nama mbah Marijan mulai dielu-elukan bukan hanya dari dalam negeri tapi di luar negeri. saya belum tergerak. tapi kini seusai beliau meninggal dunia. ada getaran kekuatan dari beliau terasa menyentuh diriku. di saat itu, saya seperti mengalami perasaan senasib. sama-sama menjalani bertahun-tahun hidup dalam ketidakberuntungan. kalau toh, mbah Marijan sempat memperolehnya. itupun setelah usia beliau sudah sangat renta, sehingga belum bisa bener-bener menikmatinya. sepanjang hidup beliau senantiasa dikelilingi oleh kesulitan. perasaan, terlahir sebagai rakyat biasa yang hidup dalam kekurangan materi. tentu, pembaca tau, apa yang dimaksud dengan kekurangan materi. artinya, semakin banyak keinginan muncul, semakin banyak ketidakberuntungan ada. Tapi di situ, tersirat juga, dedikasi luar biasa terhadap profesinya.
karena itu, sebagai tanda penghargaanku terhadap dedikasi beliau, saya ingin berbuat sesuatu. waktu saya melihat nisan, tertera namanya, Mas Panewu. sebuah jabatan yang cukup terhormat di masa lalu, tapi di masa sekarang kurang diapreasiasi. kata panewu, artinya, itu kosa kata bahasa Jawa, artinya, kalau tidak salah, ya, menurut saya lebih benar adalah SERIBU. Saat sekarang, menurut temanku, setara dengan jabatan CAMAT kalau sekarang. padahal, kalau sekarang wilayah kecamatan itu, penduduknya bisa berlipat kali dengan SERIBU. Jadi istilah itu, kurang tepat, karena memang jumlah itu, kalau sekarang mungkin setara satu PEDUKUHAN.
Tapi di sini, penewu itu, saya baca sebagai SERIBU. Bagi blogger seperti saya, yang sampai sekarang belum memperoleh penghasilan dari dunia online, kata SERIBU itu, saya terjemahkan SERIBU BLOG. Mungkin ketika menulis ini, saya ditertawakan dan diejek banyak orang karena memang sampai saat ini saya belum mengukir prestasi apapun. SATU BLOG aja belum ada hasil, kenapa bikin masalah dengan SERIBU BLOG. Tapi bagi saya, ini sebagai bentuk penghargaan saya, terhadap seorang TOKOH yang telah memberi banyak inspirasi bagi banyak orang. bahwa di  dalam ketidakberdayaan atau kelemahan, tersembunyi suatu kekuatan.
Mudah-mudahan, banyak orang membaca tulisan ini, menyadari kelemahan masing-masing, dan kemudian memaksimalkan kekuatan masing-masing.

Tapi kemudian, apa yang dikatakan banyak orang, atau temen-temen atau mungkin sapa saja yang lain memang benar. ada batasnya. baru kemudian muncul kesadaran dari penulis bahwa melawan arus justeru lebih berat sehingga obsesi SERIBU BLOG, pelan-pelan mulai direvisi ulang. AH, itu cuma mimpi di siang bolong. Lebih baik , kemaksimalkan yang ada.

benar. manusia ada keterbatasan dan melihat kekuatan atau potensi sendiri, sudah semestinya tidak terlalu tinggi.

Advertisements