Sandhy Sondoro dan album barunya

Posted on November 12, 2010

0


Akhirnya albumnya dirilis juga! Ketika pertama kali mengetahui bahwa Sandhy Sondoro (akhirnya) akan merilis album baru di sini, saya senang dan sempat mengira dia juga akan menyertakan beberapa lagunya yang sebelumnya termuat dalam sejumlah album terpisah. Sebut saja seperti Malam Biru yang diedarkan dalam bentuk album kompilasi Jazz In The City with Sandhy Sondoro dan Gejolak Cinta yang termuat dalam albumnya Indah Dewi Pertiwi. Ternyata tidak demikian.

Albumnya yang bertajuk sama dengan namanya ini, Sandhy Sondoro, rupanya hanya semacam album kemasan ulang (repackage) yang ditambah bonus dua lagu baru. Album kemas ulang? Iya. Tepatnya kemasan ulang dari album Why Don’t We yang sudah pernah dirilis oleh sebuah perusahaan rekaman Jerman bernama Revolver Distribution Services pada bulan April 2008 lalu untuk diedarkan di Jerman dan Austria ketika ia masih menetap di Berlin, Jerman. Ditambah dua lagu baru itu, total ada 14 lagu ciptaan Sandhy Sondoro yang termuat dalam album berkover dominan warna putih seharga 55 ribu rupiah ini.

Kehadiran dua lagu baru itu terasa cukup mencolok. Selain dua-duanya berlirik bahasa Indonesia, juga karena iramanya yang cukup ngepop, khususnya lagu Bunga Mimpi yang dipasang di urutan pertama. Agak berbeda dengan lagu-lagu lain yang ada di album produksi Sondoro Music ini yang lebih banyak berunsur blues, soul, jazz, hingga rock. Mungkin biar lebih menjual, nuansa Bunga Mimpi terdengar masih ‘sealiran’ dengan Malam Biru dan Gejolak Cinta, dalam versi yang lebih lambat. Memang tidak sama persis, tapi coba deh dengarkan secara berurutan ketiga lagu itu. Nanti bakal terasa kemiripan nuansanya. “Kemampuan vokalnya yang khas itu terdengar lebih maksimal ketika dia membawakan lagu-lagu berbahasa asing”

Sementara lagu baru lainnya, Salamanja, menjadi semacam perantara antara lagu-lagunya Sandhy belakangan ini dengan yang dulu, terutama musiknya. Adapun judulnya yang cukup unik itu rupanya ‘diolah’ dari kata “selamanya.” Coba perhatikan lirik yang dinyanyikan. Atau lihat saja selengkapnya dalam buklet lirik lagu yang disertakan.

Adanya dua lagu baru tersebut tidak hanya membuat kita bisa membandingkan perbedaan bahasa yang digunakan di lagunya yang dulu dan sekarang, tapi juga tarikan vokal dari pemenang kontes New Wave 2009 ini. Rasanya kemampuan vokalnya yang khas itu terdengar lebih maksimal ketika dia membawakan lagu-lagu berbahasa asing, ketimbang dua lagu baru itu. Dengarkan saja bagaimana ia bisa lebih leluasa memamerkan suaranya di lagu-lagu macam Why Don’t We, Down on the Streets, People (Shall We Live for Money), dan tentunya End of the Rainbow. Bandingkan dengan nyanyiannya di Bunga Mimpi, misalnya. Semoga saja ini bukan sebuah bentuk metamorfosis yang tidak bisa berubah lagi.

Mudah-mudahan di album selanjutnya, bakal ada lagu-lagu baru yang menunjukkan kekuatan vokal Sandhy Sondoro secara maksimal seperti di lagu-lagunya terdahulu. Ditunggu.

Advertisements
Posted in: artis