Ternyata orang-orang atau tokoh-tokoh hebat dulunya tidak dicap luar biasa, bahkan biasa-biasa saja

Posted on November 16, 2010

0


Albert Einstein, Abraham Lincoln, Thomas Alva Edison, Martin Luther King Jr, Bill Cosby dan sejumlah tokoh dunia lainnya itu bukan orang hebat?
Tentu banyak orang membantahnya. Namun buku “Berani Bermimpi! (25 Kisah Hebat)” yang baru saja diluncurkan di Jakarta (3/3) dan Surabaya (9/3) mengungkap, mereka memang “hanya” orang biasa, bahkan punya banyak keterbatasan.

Buku setebal 121 halaman itu mengupas kisah 25 tokoh termashyur di dunia, yang ternyata memiliki keterbatasan fisik, finansial dan sosial.
Albert Einstein, misalnya. Orang tak akan ragu, dialah salah satu penemu besar sepanjang masa. Namun, dalam perjalanan hidupnya, penemu teori relativitas itu tidaklah menonjol.
Bahkan dalam buku itu diceritakan, Einstein dinilai guru-gurunya sebagai anak “terbelakang” yang terlalu sering bertanya dan tak mampu menghafal.
Selain itu, teman-temannya juga menilai peraih Nobel Fisika pada 1912 itu sebagai sosok yang lamban dalam berpikir dan pemalu.
Buku itu juga mengupas pebasket dari Chicago Bulls, Michael Jordan, yang terkenal dengan gaya slam dunk itu, sering terkena skors dari kepala sekolah karena membolos.
Hal yang sama juga dialami presiden ke-16 Amerika Serikat, Abraham Lincoln. Ketika remaja, pemimpin berpostur jangkung itu sering diolok-olok sebagai orang yang memiliki fisik buruk, kurus, gerakannya lamban dan miskin.
Kisah lainnya adalah peraih medali emas nomor lari di Olimpiade 1960, Wilma Rudolph, yang pernah terserang polio yang membuatnya lumpuh semasa kecilnya.
Itulah cuplikan kisah dalam buku “Berani Bermimpi! (25 Kisah Hebat)” yang ditulis Sandra McLeod Humphrey dan diterjemahkan tim Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Jakarta.
Intinya, buku itu justru mengungkap keterbatasan, kelemahan, dan ketidaksempurnaan dari 25 tokoh terkemuka di dunia yang akhirnya menjadi inspirasi sukses.
Cuplikan itu “dibedah” sejumlah tokoh di SMA Negeri 1 Surabaya (9/3) yakni Shannon Quinn, wakil Atase Pers Kedubes AS, pakar pendidikan Dr Anita Lie, dan Dyah Katarina, yang juga istri Walikota Surabaya Bambang DH.
Tokoh lainnya yang turut mengupas adalah redaktur musik majalah Hai Junior Respati, aktor Fauzy Baadillah, dan Richard “Insane” Leolatunusa, freestyler bola basket.
“Kami berharap buku terjemahan itu akan menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Indonesia untuk mengejar mimpi-mimpinya, meskipun memiliki kelemahan fisik, psikologis, finansial, dan mengalami diskriminasi,” ucap Quinn dalam acara yang dihadiri Konsul Jenderal AS di Surabaya, Claire A Pierangelo itu.
Di sela-sela peluncuran buku yang dimeriahkan penampilan grup band indie lokal, “VOX” dan pertunjukan bola basket freestyle itu, Quinn menjelaskan buku terjemahan itu juga diharapkan akan memberikan pemahaman anak muda Indonesia terhadap anak muda AS.
“Karena sebenarnya ada kesamaan masalah antara remaja di AS dan di Indonesia yakni mereka sama-sama mengalami kesulitan dan mencari identitas diri, membangun kepercayaan diri, dan melawan tekanan hidup,” tegasnya.
Namun, katanya, tokoh-tokoh yang digambarkan dalam buku itu tetap berusaha keras mewujudkan mimpinya dengan mengatasi keterbatasan yang diderita, seperti cacat fisik, tidak cantik atau tampan, rendah diri, dan miskin.
“Berani Bermimpi! itu merupakan buku panduan yang tepat sebagai jembatan bagi remaja untuk meraih mimpi agar tidak menganggap kelemahan sebagai suatu hal yang menakutkan, namun sebaliknya justru menjadi sumber energi, inspirasi dan semangat untuk menggapai mimpi,” ucapnya.
Acara peluncuran itu dipandu mantan Abang Jakarta, Victor Hubert “Vicky” Leopold.
“Buku-buku tentang kepahlawanan di Indonesia selama ini masih terkesan hafalan seperti perang Diponegoro terjadi pada tahun 1825, dan seterusnya, sehingga pahlawan dipahami dalam suasana keterpaksaan, kewajiban, dan tak menyenangkan,” ucap Anita Lie.
Menurut alumnus The Baylor University, Texas, AS itu, upaya membangun bangsa menjadi besar itu harus dimulai dengan membangun manusia.
“Untuk membangun manusia itu sangat penting diawali dengan membangun karakter perjuangan, kerja keras, tak mudah menyerah, dan bercita-cita tinggi (bermimpi),” tuturnya.
Kesimpulan yang sama dikemukakan Fauzy Baadillah dan Richard “Insane” Leolatunusa. “Berani Bermimpi bisa mengubah keinginan menjadi sebuah kenyataan. Gagal itu mah biasa,” papar Richard.
Sumber : antara.co.id

Advertisements
Posted in: apa ya