Benarkah korelasi Nilai Ekspor naik, kesejahteraan rakyat meningkat

Posted on December 1, 2010

0


Kalau kita lihat angka-angka waktu kuliah di ekonomi, pengajar dengan meyakinkan mengabsolutkan pernyataan pakar ekonomi bahwa dengan ekspor naik, tentunya kesejahteraan rakyatnya meningkat. benarkah demikian. jika hal demikian dirasakan, tentunya rakyat kecil tidak begitu semangat untuk berdemo dan mengekspresikan ketidakpuasan dengan problem ekonomi yang dihadapi. kalau begitu, laporan ekspor naik tentu menggembirakan dan lihat narasi berikut

Wuih… Nilai Ekspor Pecahkan Rekor
Rabu, 1 Desember 2010 | 13:18 WIB
KOMPAS/RIZA FATHONI
Ilustrasi.

JAKARTA, KOMPAS.com — Nilai ekspor kembali memecahkan rekor. Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Oktober lalu mencapai 14,22 miliar dollar AS atau naik sebesar 16,72 persen dibandingkan dengan September lalu. Secara year on year, nilai ekspor Oktober lalu naik 16,14 persen.

Nilai ekspor tertinggi pernah terjadi pada Agustus 2010 lalu. Ketika itu nilai ekspor mencapai 13,7 miliar dollar AS. “Ini pertama ekspor bulanan menembus angka tertinggi,” ungkap Kepala BPS Rusman Heriawan, Rabu (1/12/2010).

Secara kumulatif, ekspor sepanjang Januari hingga Oktober lalu sudah mencapai 125,13 miliar dollar AS. Angka ini melonjak 35,45 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Untuk ekspor nonmigas, Oktober lalu mencapai 11,61 miliar dollar AS. Angka ini menanjak 14,55 persen dibandingkan Oktober 2009 lalu.

Rusman menjelaskan, peningkatan ekspor nonmigas terbesar terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati. Nilainya sebesar 539,3 juta dollar AS. Sementara penurunan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar 470,2 juta dollar AS.

Jepang masih jadi tujuan ekspor nonmigas terbesar. Angkanya mencapai 1,34 miliar dollar AS. Lalu China sebesar 1,3 miliar dollar AS dan Amerika Serikat sebesar 1,22 miliar dollar AS. “Kontribusi ketiganya mencapai 34,48 persen,” jelasnya. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar 1,40 miliar dollar AS. (Irma Yani/Kontan)

narasi di atas sebenarnya menjadi keraguan. kita ingat betul, angka-angka itu sering begitu meyakinkan tercatat. namun ternyata analisa ekonomi itu justeru berbanding terbalik dengan hukum ekonomi yang dianut. ngga perlu terlalu ekstrim, nilai ekspor naik, keadaan juga tidak berubah, statis misalnya. tidak perlu sampai menurun. dengan demikian, angka-angka itu ketika dibandingkan dengan hukum ekonomi yang dianut. tidak akan pernah sama. dengan demikian, apa mungkin perlu faktor lain yang perlu ditelaah.

ngga usah jauh-jauh, dengan begitu meyakinkan IMF mulai menerapkan hukum ekonomi standar internasional. tapi ternyata ketika diterapkan saat masa resesi Indonesia. saat diukur dan hasilnya justeru bertolak belakang. bukannya membaik, tapi justeru semakin memburuk. Yang tidak dimengerti lagi, saat Indonesia mengalami resesi berkepanjangan, seluruh dunia merasakan dampaknya. mau dibilang apa? lima benua itu masih dalam satu ikatan. satu mengalami keguncangan, yang lainnya juga. satu hal lagi, perekonomian itu senantiasa  mengacu pada laporan keuangan sedangkan kita tahu dimana-mana  laporan keuangan itu sekedar menyeimbangkan yang memang sudah tidak seimbang dari dulunya.


Posted in: berita 4