Sri Sultan X (kesepuluh) mengkaji, sedangkan Presiden SBY menelaah Monarki

Posted on December 2, 2010

0


Saat sore hari, hujan turun rintik-rintik, mood saya saat ini sedang membaik. tak perlu waktu lama saya telah duduk dan mulai melangkah mendekat acara TV yang kebetulan sedang ditonton keluarga.

“Ada apa nich..kok serius amat”.

“O..itu yach..”

memang sedang kudengar presiden kita berpidato di depan TV dan bingung juga kok bicara tentang monarki sekarang dan tentang Yogyakarta. Saya dengarkan dan memang saya sedikit tidak paham.

“Apa sih..ini? ngga ngerti dech..”

Daripada bingung, lebih baik aku mengisi perut ini dengan beberapa suap nasi agar hidup saya sehat dan saya  berpikir kewajiban saya sederhana yaitu mensyukuri nikmat yang Allah SWT berikan.

Sambil menikmati sepiring nasi dengan lauk pauknya, seperti biasa saya merenung dan akhirnya dalam ketidakpahaman tentang pidato itu saya mulai mengingat-ingat lagi.Bagaimana Yogyakarta dan kenapa sekarang dibicarakan. Kalau begitu, bicara tentang monarki dan bicara monarki identik dengan kerajaan dan siapa lagi kalau bukan raja yang dibahas. benar. saya ingat betul saat SMU dulu ada tuh pelajaran PSPB. setiap pertanyaan pasti ada bertingkat jawabannya.tapi semua itu dikelompokkan dalam dua jawaban yaitu BENAR SALAH. BENAR itu dari sangat benar, atau salah sama sekali begitu juga sebaliknya untuk SALAH, bisa sangat salah, aau salah sama sekali. kalau begitu, pola pikir kita menjawab bahwa kita dihadapkan pada dua hal, MONARKI dan DEMOKRASI. Nah, karena kontek pikiran kita memasukkan MONARKI yang BENAR seperti apa dan  DEMOKRASI yang benar seperti apa. Dengan  demikian, kita mesti memasukkan dimana KERATON itu.. apakah Keraton itu monarki yang salah atau monarki yang benar. Kenapa keraton masih ada sampai sekarang dan kenapa masih begitu dihargai masyarakat. pasti ada alasannya? padahal dalam kontek monarki adalah salah. tapi kenapa masih dipertahankan. saya mulai menebak-nebak jawaban. dengan dmeikian, artinya mesti kembali ke masa lalu tentang peran Keraton. Iya pasti hal demikian, sehingga Yogyakarta bisa dimasukkan  Daerah Istimewa.
Kita sadar betul bahwa perjalanan bangsa ini begitu jauh. semua berangkat dari berbagai kepentingan namun satu hal yang pasti semua merasakan adanya satu nasib yang dipetakan dalam satu kawasan yang disebut Indonesia. kalau kita melihat sejarah Indonesia, kita mesti pahami dulu darimana kata Indonesia berasal. namun yang jelas, bicara tentang Indonesia identik dengan berdirinya Majapahit karena dianggap merupakan wilayah terluas yang pernah dicapai bangsa Indonesia. padahal kalau kita telusuri lagi masih ada kerajaan-kerajaan sebelum Majapahit, namun di sini, Majapahitlah yang representatif karena dinasti ini dianggap memiliki wilayah terluas untuk mengukur wilayah Indonesia yang luas ini. Seiring perjalanan waktu, akhirnya lahir republik ini. Meski demikian, kita mesti sadar bahwa inilah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. dan kita juga tidak boleh egois untuk mengembalikan Indonesia seperti kawasan Majapahit. ingat pengalaman di kawasan Timur Tengah atau bangsa-bangsa Arab bahwa hingga kini konflik tidak pernah reda bahkan seakan terpelihara. semua itu bermula lahirnya negara Israel yang karena merasa keturunan Bani Israel akhirnya menginginkan kembali kesatuan wilayah dan budayanya. bagaimana dengan kita seandainya berperilaku seperti Israel. kita nantinya nanti bisa mengklaim negara-negara ASEAN atau mungkin lebih. dan itu justeru akan menjadi tinta hitam bagi bangsa ini. cukup wilayah kita adalah wilayah dari Sabang sampai Merauke.
Kalau ingat Monarki tentu kita bicara tentang raja-rajanya dan peran mereka. tentu kita lebih suka menulis tinta emas daripada tinta mreah. artinya, hal-hal yang baik tentang Monarki dan juga Republik itu yang dituliskan. bicara Monarki, ya bicara Raja dan bicara Republik adalah bicara Presiden. mana yang lebih baik, hanyalah yang bisa menorehkan tinta emas namanya dalam sejarah. itu yang terbersit dalam benakku.

Kita ingat kan dengan almarhum Sri Sultan HB IX (kesembilan) yang merupakan ayahanda dari Sri Sultan X (kesepuluh) yang sekarang ini menjabat gubernur DIY sekaligus Raja Kraton Yogyakarta.yang begitu berperan dalam sejarah terbentuk Republik Indonesia ini. Mungkin jika almarhum Sultan HB IX bisa menduduki kursi presiden, bisa menempatkan beliau dalam posisi sekaligus, republik dan Monarki. Sayangnya, beliau sebatas hingga wakil presiden. namun jika kita mau jujur jika almarhum memaksakan diri lebih mementingkan kepentingan pribadi, saya rasa jabatan Presiden bisa disandang dengan kapasitas yang beliau miliki. tapi demi keutuhan NKRI, beliau lebih memilih kembali memimpin Keraton dan tetap mempersilakan Presiden Soeharto melanggengkan kekuasaannya hingga 30 tahun. Saya rasa peran beliau dalam pembangunan awal-awal itu saat menjawab Wakil Presiden bisa dianggap luar biasa dominan, mengingat hubungan baiknya dengan berbagai kerajaan di dunia, tentunya akan mempermudah kepercayaan monarki-monarki berbagai penjuru dunia untuk memberi pinjaman hutang pembangunan Indonesia. Hal demikian, tentunya akan mempermudah Soeharto membangun Orde Barunya hingga 30 tahun. Tentu kita ingat betul saat presiden pertama RI, Soekarno, mesti mengungsi ke Yogyakarta, memindahkan pemerintahannya di Yogyakarta, karena terbatasnya pemerintah Republik saat itu, sehingga dengan berbesar hati, Sri Sultan HB IX menampung dan membiayai pemerintah tersebut di Yogyakarta. Kehidupan sehari-hari presiden RI pertama dan wakilnya juga ditanggung sepenuhnya oleh beliau termasuk operasional pemerintahnya, saya rasa uang gulden yang beliau berikan luar biasa besar. bahkan sampai akhir hayat beliau tidak pernah mengungkit-ungkit apa yang pernah beliau berikan luar biasa besar tersebut. Kemudian kita ingat kembali bagaimana peristiwa Serangan Satu Maret yang dianggap sebagai awal Republik benar-benar akhirnya bisa sepenuhnya membebaskan diri dari penjajah. Lebih tepatnya kekuasaan de facto Republik Indonesia. Kekuasaan riil Republik Indonesia.Artinya itu itulah awal Republik benar-benar terbebas dari Belanda.Keputusan beliau waktu mendukung dan memimpin serangan satu maret bukan tanpa resiko. saya ingat betul saat membaca sejarah bahwa saat itu, moncong-moncong meriam sudah diarahkan ke Keraton Yogyakarta. Mungkin karena masih dalam lindungan Allah SWT, keraton Yogyakarta selamat. Kita tentu ingat andaikata pada waktu jaman itu pimpinan yang menyerang adalah Weisterling tentu akan lain sejarahnya. kita ingat betul betapa Weisterling di jaman itu juga telah melakukan pembantaian 40.000 orang tahun 1946 di Sulawesi Selatan. Bisa saya bayangkan bahwa Keraton sudah rata dengan tanah waktu itu. karena itu, saya katakan bahwa keputusan beliau Sri Sultan HB IX sungguh-sungguh sangat beresiko. Dan Beliau waktu itu sudah mempertimbangkan resiko terbesarnya akan menjadi akhir dari Keraton.Mungkin saat itu beliau belajar dari leluhurnya, betapa Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro. menorehkan tinta emas. juga  belajar apapun dari apa yang dialami kedua nenek moyang beliau bahwa yang terjadi wilayah monarki mereka akhirnya terpecah-pecah menjadi banyak kerajaan hingga tidak tersisa lagi. Mungkin beliau waktu itu berfikir bahwa resiko yang ditanggung luar biasa besar, karena monarki saat itu mungkin wilayahnya sudah tidak bisa dibagi-bagi lagi, sejak perlawanan keraton mulai  Sultan Agung hingga masa beliau Sri Sultan HB IX.Jadi kalau kita bicara tentang Republik Indonesia ini, senantiasa berkaitan erat dengan Keraton adalah hal yang sangat wajar mengingat sumbangsih yang luar biasa besar bagi kedua Presiden kita. Sampai akhir masa beliau, tidak pernah seucap katapun agar Republik mengembalikan berapa harta yang Keraton telah keluarkan.

Advertisements