Reed Hastings, sukses melejitkan perusahan kecil menjadi raksasa melalui dunia online

Posted on December 3, 2010

0


Kalau selama ini, kita melihat bahwa banyak perusahaan yan secara offline sudah mapan, sehingga ketika memulai tidak mengalami kesulitan di dunia online. Lainnya dengan Reed Hastings,  yang mampu menjadikan perusahaan yang bukan apa-apa menjadi diperhitungkan setelah terjun di dunia online.

VIVAnews – Banyak eksekutif puncak kini mengincar pertumbuhan perusahaan yang mengesankan. Paska dampak krisis hingga 2009, ekonomi dipacu guna menciptakan pertumbuhan yang super cepat.

Mereka tidak saja merangkak dari ‘puing-puing’ dampak resesi global, tapi berusaha memacu kecepatan optimal pertumbuhan perusahaan.

Hasilnya tidak sia-sia. Sejumlah chief executive officer (CEO) perusahaan besar dunia pun sukses menemukan pasar baru, mengibarkan kembali bisnis lama mereka, dan memenangi persaingan.

Ellen Kullman mampu mengubah saham DuPont yang selama ini cenderung ‘diam’ menjadi sangat fenomenal di pasar saham. Selain itu, Mark Zuckerberg yang secara fantastis menambah 150 juta pengguna Facebook selama 12 bulan, hingga Steve Jobs yang berhasil menjadikan Apple sebagai perusahaan teknologi paling ‘bernilai’ sejagat.

Namun, di antara pemimpin perusahaan itu, Reed Hastings, pendiri Netflix Inc, dinilai sebagai CEO paling cemerlang dalam menggenjot pertumbuhan perusahaan. Melalui bisnis online-nya, Hastings mampu mengubah perusahaan kecilnya menjadi pemain kelas dunia.

Siapa menyangka, bisnis penyewaan DVD online dan video streaming yang dikembangkan sejak 1997 telah mengantarkan Hastings, sebagai Businessperson of the Year 2010 versi majalah Fortune. Dia mengalahkan eksekutif puncak dengan nama besar seperti Mark Zuckerberg (Facebook), Steve Jobs (Apple), dan Alan Mulally (Ford).

Reed Hastings lahir di Boston, Massachusetts pada 8 Oktober 1960. Dia menamatkan pendidikan sekolah menengah atas pada 1978 dari Buckingham Browne & Nichols School, di Cambridge, Massachusetts.

Anak seorang pengacara ini meraih gelar kesarjanaan di bidang matematika di Bowdoin College, Brunswick, Maine pada 1983. Selepas SMA, dia sempat menghabiskan waktunya untuk menjual mesin pembersih (vacuum cleaner) merek Rainbow dari pintu ke pintu.

Hastings juga pernah memenangi Smyth Prize pada 1981, serta Hammond Prize (1983). Kini, dia tinggal di San Francisco Bay Area dan memiliki dua anak.

Pada 2009, Hastings masuk 30 pebisnis online terkaya dunia. Total kekayaan bisnis onlinenya mencapai US$150 juta.

Netflix sepertinya menjadi contoh perusahaan dan situs penyewaan DVD online yang tumbuh sangat pesat. Pada 1999, Netflix baru mencatatkan penjualan sekitar US$5 juta, namun saat ini penjualan perusahaan yang berkantor pusat di Los Gatos, California, AS itu telah melesat hingga US$2 miliar. Luar biasa!

Melalui polesan Hastings, perusahaan yang didirikan pada 1997 itu kini tumbuh menjadi perusahaan raksasa di AS. Bahkan, musim panas ini, Netflix memiliki hak untuk streaming film dari Paramount, MGM, dan Lionsgate.

Jasa penyewaan DVD online itu menawarkan tarif flat sewa melalui e-mail untuk pelanggan di Amerika Serikat. Netflix sedikitnya telah mengoleksi 100.000 judul dan lebih dari 13,9 juta pelanggan.

Menurut Fortune, pada musim gugur, perusahaan telah merambah pelanggan hingga ke Kanada. Karena kesuksesan bisnis itu, harga saham Netflix di bursa Nasdaq juga melonjak lebih dari 200 persen sejak Januari 2010.

Namun, Hastings juga melihat, konsumen akhirnya akan memilih untuk memperoleh film yang langsung dikirimkan melalui internet. Kejelian Hastings dalam menangkap peluang bisnis itu pun dinilai sebagai terobosan yang menakjubkan. Karena, pada 2000, sekitar tujuh persen masyarakat di Amerika telah berlangganan broadband.

Melalui kerja keras dan keberaniannya mengambil risiko, Hastings mengubah strategis bisnisnya dengan melakukan streaming film dan acara televisi lewat internet. Meski dengan strategi itu, dia akan sedikit ‘mengorbankan’ masih booming-nya bisnis penyewaan DVD.

Langkah Hastings dinilai cukup berani, karena banyak eksekutif takut untuk ‘mempreteli’ bisnis awal mereka yang sudah dijalani bertahun-tahun dan sukses. “Sebagian besar perubahan di dunia akan menyusul Anda,” kata Hastings.

Tentunya, perusahaan-perusahaan kecil mulai belajar dari apa yang dilakukan oleh Hastings, bahwa bisnis online tidak sebatas melengkapi bisnis offlinenya. bahkan jika perlu bisnis online bisa membesarkan bisnis offline hingga  puluhan kali lipat atau ratusan kali lipat keuntungannya melalui bisnis online.

 

 

Advertisements
Posted in: apa ya