Film Sang Pencerah akhirnya dinobatkan sebagai film terbaik ajang FFI tahun 2010

Posted on December 6, 2010

0


Dari sini kita bisa berfikir jelas bahwa ternyata apreasasi masyarakat terhadap film yang sedikit berat dicerna mulai meningkat. Kemenangan film ini bisa menjadi bukti. Tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang kian meningkat, berjalan atau seiring dengan tingkat apreasiasi film yang  syarat makna dan filosofi. Dulu film-film esek-esek sangat disukai, namun kita seiring waktu, seks tidak setabu dulu, namun mereka justeru lebih menerima film-film yang dulu dianggap kuranglaku.

Kemenangan ‘Sang Pencerah’ Akan Dicatat Sejarah

Sabtu, 4 Desember 2010 – 11:45 wib
Elang Riki Yanuar – Okezone
Detail Berita

Film Sang Pencerah. (Foto: Ist)

JAKARTA – Dewan juri FFI 2010 yang dipecat tetap memutuskan Sang Pencerahsebagai film terbaik. Meski tak diakui Komite FFI, mereka yakin kemenangan Sang Pencerah tetap akan dicatat dalam sejarah.

“Saya kira pemberhentian juri ini tidak mengurangi apa-apa, bahkan sudah ada hasilnya. Tidak ada yang hilang. Ini bukan soal kemenangan rutin, tapi biarlah ini dicatat dalam sejarah,” ujar mantan anggota dewan juri Festiva Film Indonesia (FFI) 2010, Seno Gumira Ajidarma saat ditemui di Gedung Film, Jalan MT Haryono, Jakarta, Jumat (3/12/2010) malam.

Sastrawan kelahiran Amerika itu mengatakan, pilihan film terbaik jatuh pada Sang Pencerah, harusnya tidak perlu diperdebatkan lagi.

“Alasan mengapa film Sang Pencerah menjadi film terbaik sebenarnya sudah jelas. Bahkan begitu jelas bagaikan tiada lagi yang lebih jelas,” tandasnya.

Menurut penulis buku Kitab Omong Kosong itu, penghargaan yang diraih Sang Pencerah tetap akan mendapat nilai plus di mata masyarakat. Meskipun akhirnya, peraihan itu berujung pada dipecatnya dewan juri oleh Komite FFI.

“Bahkan Sang Pencerah mendapat nilai plus yang sama. Itulah penghargaan untuk sang pencerah dia mendapatkan nilai plus. Juri dipecat malah menambah bobot kemenangan Sang Pencerah,” pungkasnya.(nov)

Apa yang jadi alasan saya masuk akal. Dulu kita akui bahwa film-film tempo dulu sangat terkait budaya. kita dulu ingat bahwa media belum sepopuler sekarang. kemudian, sensor film begitu kuatnya. sehingga terasa bahwa masyarakat lebih memilih untuk menonton film-film yang memenuhi dahaga keingintahuannya, terutama seks, karena dianggap tabu.

Tapi bagaimana dengan sekarang. media internet ternyata jsuteru tanpa sensor. anak kecil yang begitu mudah akan mendapatkan film porno dari temen sekolahnya setelah dengan sedikit teknologi yang kuasai mengunduh dari situs-situs porno yang tidak tersnsor.

namun setelah terpenuhi dahaga itu, masyarakat justeru kian meyadari arti akan nilai dan makna  tentang perjuangan dan pengorbanan dan hanya film-film yang sarat makna justeru bisa memenuhi dahaga mereka akan makna.

 

Advertisements
Posted in: selebriti 3