Kenapa Wikileads menjadi perhatian serius dan paling dicari pemerintah AS dan negara-negara lain

Posted on December 7, 2010

0


Saat saya sedang duduk, adik saya meminta saya agar membahas lebih cermat tentang Wikileads.

“Lho, kenapa perlu dibahas?”

sederhana saja, kebetulan adik saya hobi menyaksikan berita-berita yang lagi genting di Televisi. Nah, dengan demikian, tak ada salahnya saya menguak jauh.

Wikileaks, sebuah situs di internet yang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan di kalangan International, apa sebabnya? Konon wikileaks mengumbar data rahasia negara-negara adidaya termasuk negeri Paman Sam yaitu USA.

Lantas apa sebenarnya Wikileaks tersebut? berikut kutipan yang saya dapat dari wikipedia.

Wikileaks adalah organisasi internasional yang bermarkas di Swedia.  WebsiteWikileaks menerbitkan dokumen-dokumen rahasia sambil menjaga kerahasiaan sumber-sumbernya. Situs tersebut diluncurkan pada tahun 2006.

Organisasi ini didirikan oleh disiden politik Cina, dan juga jurnalis, matematikawan, dan teknolog dari Amerika Serikat, Taiwan, Eropa, Australia, dan Afrika Selatan.  Artikel koran dan majalah The New Yorker mendeskripsikan Julian Assange, seorang jurnalis dan aktivis internet Australia, sebagai direktur Wikileaks.  Situs Wikileaks menggunakan mesin MediaWiki.

Hmmm..pantas saja pemerintah AS gerah. mungkin teramat banyak bocoran yang menyebar di kalangan publik dunia. semua rahasia dari berbagai negara masuk ke situs ini. coba perhatikan kasus-kasus lain.

Berikut ini ada beberapa dokumen penting yang sempat bocor dan tersebar di media dunia.

WikiLeaks: Burma Ingin Beli Manchester United
Junta militer bisa menguasai 56 persen saham Manchester United jika jadi membelinya.
Selasa, 7 Desember 2010, 08:53 WIB

Renne R.A Kawilarang

VIVAnews – Junta militer Burma (Myanmar) sempat berencana membeli salah satu klub sepakbola terkenal asal Inggris, Manchester United, seharga US$1 miliar. Padahal, saat itu rakyat Myanmar sedang menderita akibat topan Nargis dan butuh bantuan darurat dari luar negeri.


Demikian ungkap memo diplomatik dari Kedutaan Besar AS di Myanmar kepada Departemen Luar Negeri di Washington yang dipublikasikan di laman WikiLeaks, yang dipantau harian The Guardian, Senin 6 Desember 2010. Memo berkategori terbatas (confidential) itu dikirim pada 12 Juni 2009.

Memo diplomatik itu menyebutkan informasi dari sumber Kedubes AS di ibukota Myanmar, Yangon, bahwa usulan membeli Manchester United digulirkan oleh cucu pemimpin junta militer, Than Shwe, senilai US$1 miliar. Namun ide itu, bagi Than Shwe terlalu mahal. Sebagai gantinya, Than Shwe ingin membentuk liga sepakbola profesional Myanmar.

“Suatu sumber yang cukup dekat melaporkan bahwa cucunya ingin Than Shwe mengajukan penawaran US$1 miliar kepada Manchester United. Jenderal Senior itu merasa pengeluaran biaya sebesar itu tidak baik, sehingga dia memilih mendirikan liga Burma,” demikian penggalan memo itu.

Menurut perhitungan majalah Forbes saat itu, junta militer bisa menguasai 56 persen saham Manchester United bila jadi membeli seharga US$1 miliar.

Usulan itu, menurut sumber Kedubes AS di Yangon, dibuat sebelum Januari 2009. Padahal, pada Mei 2008, junta militer dituduh sengaja memblokir pasokan bantuan internasional untuk para korban Topan Nargis, yang menewaskan 140.000 jiwa.

Sebagai ganti proposal membeli Manchester United, junta militer pada 16 Mei 2009 mendirikan liga sepakbola Myanmar. Menurut memo Kedubes AS, cucu Than Shwe bermain untuk salah satu klub.

Kalangan pebisnis Myanmar berspekulasi bahwa liga itu sengaja dibentuk sebagai cara mengalihkan perhatian rakyat dari masalah politik dan ekonomi, hingga soal persiapan pemilu 2010.(np)

WikiLeaks: Saddam Berani Mati
Memo yang dibocorkan WikiLeaks itu ungkapkan penyimpangan eksekusi Saddam Hussein.
Selasa, 7 Desember 2010, 11:54 WIB

Renne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu

VIVAnews – Detik-detik sebelum tewas di tiang gantung, Saddam Husein terus memegang al-Quran dan mewasiatkan kitab suci itu untuk putranya, Awad al-Bandar, yang juga dihukum mati dua minggu kemudian. Mantan pemimpin Irak itu tidak takut sedikitpun, karena dia sudah menduga hidupnya akan berakhir di tiang gantung.

Demikian isu suatu memo diplomatik Kedutaan Besar AS di Irak kepada Departemen Luar Negeri di Washington yang dipublikasikan di laman WikiLeaks, seperti dilansir dari laman stasiun televisi CNN, Senin, 6 Desember 2010.

Memo itu melaporkan pertemuan antara Duta Besar AS untuk Irak kala itu, Zalmay Khalizad, dan kepala kejaksaan Munqith Faroon, dua pekan setelah eksekusi Saddam pada 30 Desember 2006, memuat dengan gamblang detik-detik menjelang kematian Saddam.

Eksekusi Saddam, menurut laporan itu, dihadiri 14 saksi. Namun, pada memo tersebut juga dikatakan enam orang penjaga juga ikut menyaksikan eksekusi. Mereka diperbolehkan membawa telepon seluler, yang memiliki video perekam. Ponsel itu merekam eksekusi Saddam.

Prosedur eksekusi dari awal hingga akhir dilakukan oleh pemerintah Irak, AS hanya membantu menyumbangkan pijakan eksekusi gantung, karena pijakan milik Irak tidak memenuhi standar, dan akan membuat terdakwa menderita.

Memo itu mengatakan bahwa Faroon dan hakim bertemu dengan Saddam sebelum eksekusi untuk membacakan dakwaan dan vonis. Faroon mengaku merasa simpati dengan keadaan Saddam yang masuk dengan ditutupi kepalanya, diikat tangannya, dan bergetar seluruh tubuhnya.

“Dia tidak merasa takut. Dia sepertinya sudah mengantisipasi hal seperti ini sejak dia menjabat. Karena dia tahu, sebagai presiden, dia akan punya banyak musuh,” tulis memo tersebut.

Menurut memo itu, Saddam terus memegang al-Quran hingga berada di mimbar eksekusi. Dia meminta seseorang memberikan kitab suci itu kepada putranya, Awad al-Bandar, mantan kepala pengadilan revolusi Irak. Faroon mengiyakan wasiat Saddam tersebut. “Sampai detik ini, tidak ada yang tidak layak yang terjadi,” ujar Faroon seperti termuat di memo tersebut.

Ketika Saddam mulai ditempatkan di tiang gantungan, seorang penjaga menyumpahinya “pergilah ke neraka.” Faroon langsung mengatakan bahwa dia tidak memperbolehkan penjaga maupun saksi untuk berbicara atau mengatakan apapun kepada Saddam.

“Ketika Faroon akan menegur para saksi, dia melihat dua orang petugas pemerintah tersebut mengambil foto dan merekam dengan ponsel mereka,” tulis memo tersebut. Dua orang ini kemudian ditahan kepolisian Irak setelah rekaman video eksekusi Saddam beredar di internet.

Saddam menolak untuk ditutupi wajahnya dan mulai berdoa, salah seorang saksi meneriakkan “Muqtada, Muqtada, Muqtada,” merujuk kepada Muqtada al-Sadr, seorang ulama syiah radikal yang ayahnya diyakini dibunuh oleh rezim Saddam.

Saddam kemudian ditutupi wajahnya, memo mengatakan bahwa Saddam mati dengan cepat dan tubuhnya dimasukkan ke dalam sebuah kantong. Seorang pemuka agama kemudian memandikan mayatnya dan melakukan prosedur pemakaman sesuai agama Islam.(np)

Dari dua tulisan di atas, jelas dan masuk akal kalau bos Wikileak dicari pemerintah AS.

Pendiri WikiLeaks Siap Menyerah ke Polisi
Kami tengah dalam proses untuk bersedia menemui polisi,” kata pengacara Julian Assange.
Selasa, 7 Desember 2010, 08:08 WIB

Renne R.A Kawilarang

VIVAnews – Julian Assange siap menyerahkan diri kepada polisi Inggris. Dia akan menjalani penyelidikan terkait kasus perkosaan dan pelecehan seks di Swedia, yang membuat pendiri laman WikiLeaks itu menjadi buronan polisi internasional (Interpol).

Demikian menurut pengacara Assange, Mark Stephens, seperti dikutip kantor berita Associated Press. Stephens tidak mengungkapkan kapan kliennya akan menyerahkan diri.

Namun, menurut Stephens, Assange siap menyerahkan diri setelah Kepolisian Metropolitan London menelpon dia untuk memberi tahu bahwa mereka sudah menerima surat penangkapan dari pengadilan di Swedia, dan bersedia menindaklanjuti surat tersebut. Warga Australia itu dikabarkan berada di Inggris, namun lokasi persisnya tidak dipublikasikan.

“Kami dalam proses bersedia menemui polisi,” kata Stephens di London, Senin 6 Desember 2010 waktu setempat. Dia menolak menyebut tempat di mana Assange akan menyerahkan diri ke polisii.

Pengadilan Stockholm, Swedia, berharap bisa mengekstradisi Assange dari Inggris untuk menjalani sidang. Tapi Assange membantah semua tuduhan yang dikenakan kepada dirinya.

Menurut Stephens, tuduhan atas Assange itu ada sangkut pautnya dengan permainan politik, mengingat kliennya itu dalam beberapa bulan terakhir mendapat sorotan dunia karena membocorkan informasi-informasi sensitif berkatagori rahasia milik pemerintah AS melalui laman WikiLeaks.

Sebagai penutup, ternyata reformasi bukan hanya berlaku di Indonesia saja. Kita ingat media telah menjadi jembatan  lahirnya rejim reformasi Indonesia ini.

Nah, kalau sekarang ini justeru menjadi penting, kenapa ? karena sekarang sedang mulai ada reformasi dunia melalui koreksi-koreksi rahasia kesalahan dari negara-negara di bumi ini. sehingga nantinya terbentuknya suatu budaya hubungan bilateral dan multilateral  antara negara yang sehat.

 

Posted in: artikel