Gayus Akui “Job” dari Bakrie Lewat Alif Kuncoro

Posted on December 8, 2010

0


RABU, 08 DESEMBER 2010 | 17:38 WIB

Gayus Halomoan Tambunan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO InteraktifJakarta –  Gayus Halomoan Tambunan mengaku “imbalan” puluhan miliar yang ditangguknya didapat dari tiga pekerjaan terkait tiga perusahaan Bakrie Group: Kaltim Prima Coal, Bumi Resources, dan Arutmin. Proyek itu dia dapat dari kakak-adik, Alif Kuncoro dan Imam Cahyo Maliki.

“Alif Kuncoro dan Imam Cahyo Maliki sebagai yang meminta pertolongan kepada saya,” kata  Gayus saat diperiksa keterangannya selaku terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (8/12).

Dikatakan  Gayus, dirinya memang sempat bertemu dengan wakil dari ketiga perusahaan tersebut. Namun, orang itu tidak menyerahkan sepersen pun uang, karena hanya membicarakan materi proyek. “Orang perusahaan bertemu, membahas, tapi tidak pernah kasih uang. Yang memberi uang Alif Kuncoro,” ujarnya.

Hakim kemudian  menanyai Gayus, apakah Alif bekerja di perusahaan Bakrie sehingga bisa kenal dengan pejabat perusahaan tersebut. “Tidak. Tapi dia punya bengkel. Saya tidak tahu pekerjaannya, yang jelas dia minta tolong pada saya,” jawab Gayus.

Penjelasan  Gayus itu mengundang heran Ketua Majelis Hakim Albertina Ho. Albertina bertanya, apakah menerima fee seperti itu diperbolehkan dengan status Gayus sebagai pegawai golongan III Direktorat Jenderal Pajak. “Boleh yang mulia. Sepanjang tidak bertentangan dengan pekerjaan kita dan tanggung jawab pekerjaan sehari-hari,” Gayus berujar.

Albertina  lalu menanyai Gayus, apakah itu bukan suatu bentuk gratifikasi. “Sepanjang tidak bertentangan dengan pekerjaan, menurut saya boleh,” kata dia.

Gayus menjelaskan, pekerjaan  pertama dari Alif adalah, dia diminta mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak PT KPC untuk tahun pajak 2000-2003 dan 2005. Menurutnya, tertib hasil pemeriksaan seharusnya terbit seminggu setelah SKP keluar. Tapi yang terjadi, surat itu ditahan setahun di kantor pajak Gambir.

“Selintingan karena ada selisih  kurs. Pemeriksaan menggunakan kurs dollar, padahal seharusnya rupiah,” kata Gayus yang meraup US$ 500 ribu atau setara Rp 5 miliar dari pekerjaan pertama ini.

Pekerjaan  keduanya, ia menambahkan, adalah melakukan persiapan dalam rangka sidang banding pajak PT BR tahun pajak 2005. Di proyek ini, Gayus diminta membuat surat banding, bantahan, dan mempersiapkan meeting supaya perusahaan siap dalam proses. Untuk pekerjaan kedua ini, Gayus menerima US$ 1 juta atau setara Rp 10 miliar.

Sedangkan  dalam pekerjaan ketiganya, Gayus diminta mereview undang-undang baru program sunset policy pemerintah. Di mana wajib pajak di bawah tahun 2007 yang kurang bayar, dihapus sanksi administrasinya. KPC dan Arutmin, kata Gayus, turut serta dalam program tersebut. Dari proyek ini, Gayus mendapat USD 2 juta atau Rp 20 miliar.

Isma Savitri

 

Advertisements
Posted in: berita 4