monarki Jogja yang sederhana

Posted on December 8, 2010

0


Meski topik ini tidak segencar saat RUU KeistimewaanJogja sedang diperbincangkan dan sekarang pun masih diperbincangkan. namun berbagai polemik itu, membawa kita kenapa jadi penting RUU itu. yang lebih penting lagi, memaksa kita untuk menelaah kembali catatan-catatan lama. jelas sudah, kita mesti bicara tentang tokoh. dan jika bicara tentang tokoh, artinya Jogja identik dengan Sultan HB IX (kesembilan). tentunya kita perlu mengenal lebih jauh tentang beliau sehingga Jogja menjadi  daerah Istimewa.

selain, bicara tentang perannya di masa perjuangan baik masa Sukarno maupun Suharto. akan lebih masuk akal, jika kita menilai kepribadian beliau lebih jauh. kisah ini setidaknya bisa membuka  cakrawala kita, kenapa sampai Jogjakarta menjadi daerah Istimewa.

Kisah Menarik, Kesederhanaan Sultan HB IX
Aziz Miring
| 09 April 2010 | 06:25
Total Read
581
Total Comment
7
Nihil.

Sri Sultan ini kegemarannya naik mobil baik jenis besar maupun kecil. Dulu yang namanya angkutan kota tidak ada seragamnya, semua bentuknya sama. Ketika Sri Sultan sedang berjalan-jalan dengan mobilnya ia dihentikan oleh seorang perempuan separuh umur. Ibu-ibu itu mengira Sri Sultan adalah sopir angkutan sayur. Mobil berhenti, Sri Sultan bertanya

“Ada apa Bu…?”

“Ini Pak Sopir tolong naikkan karung-karung sayur saya mau antar barang ini ke Pasar Beringhardjo”

Sri Sultan yang mengenakan kaca mata hitam tersenyum dan turun ia pun mengangkut karung-karung sayur itu. Setelah karung-karung sayur dinaikkan Ibu itu juga naik ke dalam mobil dan duduk di belakang. Setelah sampai depan pasar Beringhardjo Sri Sultan turun dan mengangkut karung-karung itu sampai ke dalam pasar, si Ibu itu berjalan di depannya. Seorang mantri polisi
memperhatikan dengan cermat kejadian itu.

Setelah karung-karung sayur ditaruh ditempatnya, Ibu itu bertanya “Berapa ongkosnya, Pak Sopir?”

“Wah…ndak usah Bu”

“Walaah…Pak Sopir…Pak Sopir kayak ndak butuh uang saja?”

“Sudah tidak bu terima kasih”

“Lho, kurang tho…biasanya saya ngasihnya juga segini?” kata Ibu itu yang mengira sopir itu menolak uangnya karena kecewa pemberiannya kurang.

“Ndak…apa-apa Bu, saya cuma membantu”

“Sudah merasa kaya, tho..Pak Sopir?, ndak mau terima uang” kata si Ibu sinis. Sri Sultan tersenyum dan kemudian pamit keluar pasar.

Saat Sri Sultan pergi si Ibu masih saja ngedumel “Dasar Sopir gemblung dikasih duit ndak mau”
ujar Ibu itu sambil memberesi karung-karung sayurannya. Mantri Polisi yang sedari tadi mengamati peristiwa itu mendekati Ibu pedagang sayur itu.

“Bu…tadi Ibu tahu bicara dengan siapa?”

“Dengan…siapa…ya dengan Pak Sopir..piye tho sampeyan iki (gimana sih kamu)”

“Ibu tahu, tadi ibu bicara kaliyan sing nduwe ringin kembar kuwi.. (tadi ibu bicara dengan yang punya beringin kembar itu)” Mantri Polisi itu menunjuk ke arah beringin kembar di depan keraton Yogya.
Blaar …..kepala si Ibu bagai disambar petir….ia kaget langsung pingsan dan kabarnya dia meninggal di tempat.

Jadi, setelah membaca kisah di atas akan kesederhaan beliau, tentu anda bisa memberi penilaian tersendiri. Apalagi kita ingat, bahwa saat beliau menjadi wakil presisen, akan masuk akalkah, atau mungkinkah, beliau adalah satu-satunya  Raja yang rela mengorbankan perasaan dengan menghubung para monarki dari berbagai belahan dunia agar ikut membantu pembangunan Indonesia, baik materiil maupun immaterial.  Sanggupkah raja/monarki lain melakukan hal demikian. silakan tanya  pada diri anda sendiri?

Posted in: apa ya