Orde baru pembangunan fisik, Order Reformasi pembangunan mental atau non-fisik (manusia)

Posted on December 8, 2010

0


itulah yang tercetus dari benakku saat membaca artikel ini. selama 30 tahun, orde baru mencoba target pembangunan dari dua hal. yaitu , pembangunan fisik dan mental. Sayangnya, target itu tidak tercapai. kita hanya mampu membangun secara fisik. kini pemerintahan sekarang mencoba menjawab kegagalan itu. kita lihat laporannya.

Bappenas: 8 Bukti Indonesia Makin Sejahtera
Kepala Bappenas mengklaim bahwa kesejahteraan masyarakat Indonesia telah meningkat.
RABU, 8 DESEMBER 2010, 12:52 WIB

Nur Farida Ahniar, Agus Dwi Darmawan

Bappenas (www.flickr.com)

VIVAnews – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Armida S Alisjahbana mengklaim Indonesia telah mendekati target Millenium Development Goals (MDGs) yang akan dicapai sampai 2015. Armida mengatakan dari hasil capaian MDGs terungkap bahwa kesejahteraan masyarakat Indonesia meningkat.

“Di tengah gejolak ekonomi, serta gejolak harga minyak 2008, Indonesia berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi 4-5 persen,” ujar Armida di Jakarta, Rabu, 8 Desember 2010.

Dalam kondisi kurang menguntungkan tersebut, kata dia, Indonesia tetap menata pembangunan manusia di segala bidang. Bahkan, Armida menyebutkan delapan klaim sebagai bukti bahwa pemerintah mengalami keberhasilan signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Apa saja klaim keberhasilan status MDGs Indonesia?

Pertama, kemiskinan dan kelaparan menurun
Indonesia berhasil menurunkan tingkat kemiskinan, dengan indikator US$1 per kapita per hari menjadi setengahnya. Dari sisi tingkat kemiskinan, yang saat ini sebesar 13,33 persen (2010) menuju target 8-10 persen pada 2014. Sementara untuk prevalensi kekurangan gizi pada balita menurun dari 31 persen pada tahun 1989 menjadi 18,4 persen pada tahun 2007, sehingga Indonesia diperkirakan dapat mencapai target MDGs sebesar 15,5 persen pada tahun 2015.

Kedua, pendidikan dasar untuk semua makin membaik
Upaya Indonesia terkait pendidikan dasar dan melek huruf sudah menuju pada pencapaian target 2015 (ontrack). Bahkan Indonesia menetapkan pendidikan dasar melebihi target MDGs dengan menambahkan sekolah menengah pertama sebagai sasaran pendidikan universal. Pada 2008/2009, angka partisipasi kasar (APK) SD/MI termasuk paket A telah mencapai 116,77 persen dan angka partisipasi murni (APM) sekitar 95,23 persen. Pada tingkat dasar (SD/MI) secara umum disparitas partisipasi pendidikan antara propinsi semakin menyempit dengan APM di hampir semua propinsi telah mencapai lebih dari 90 persen. Tantangan utama target ini adalah meningkatkan pemerataan pendidikan secara adil baik untuk semua anak laki-laki dan perempuan.

Ketiga, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
Rasio angka partisipasi murni (APM) perempuan terhadap laki-laki di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama berturut-turut sebesar 99,73 dan 101,99 pada tahun 2009. Rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15-24 tahun telah mencapai 99,85. Oleh sebab itu, Indonesia sudah secara efektif menuju (ontrack) pencapaian kesetaraan gender yang terkait dengan pendidikan pada tahun 2015. Dibidang ketenagakerjaan terlihat adanya peningkatan kontribusi perempuan dalam pekerjaan upah di sektor nonpertanian. Disamping itu proporsi kursi yang diduduki oleh perempuan di DPR pada pemilu terakhir juga naik menjadi 17,9 persen.

Empat, angka kematian anak menurun
Angka kematian bayi di Indonesia menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dari 68 pada tahun 1991 menjadi 34 per 1000 kelahiran pada tahun 2007. Sehingga target sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2015 diperkirakan akan dapat dicapai. Namun demikian diakui masih terjadi disparitas regional pencapaian target yang mencerminkan adanya perbedaan akses atas pelayanan kesehatan terutama di daerah-daerah miskin dan terpencil.

Kelima, kesehatan ibu meningkat
Dari semua target MDgs, kinerja penurunan angka kematian ibu secara global masih rendah. DI Indonesia, angka kematian ibu melahirka (MMR/maternal mortality rate) menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2007. Target pencapaian MDG pada tahun 2015 adalah sebesar 102 per 100 ribu kelahiran hidup sehingga diperlukan kerja keras untuk mencapai target tersebut. Walaipun pelayanan antenatal dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih cukup tinggi, beberapa faktor seperti risiko tinggi pada saat kehamilan dan aborsi masih menjadi perhatian.

Enam, Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan penyakit menular lainnya
Tingkat Prevalensi HIV/AIDS cenderung meningkat di Indonesia terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu pengguna narkoba suntik dan pekerja sekes. Jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan di Indonesia meningkat dua kali lipat antara tahun 2004 dan 2005. Angka kejadian malaria per 1000 penduduk menurun dari 4,68 pada tahun 1990 menjadi 1,85 pada tahun 2009. Sementara itu pengendalian penyakit Tuberkulosis yang meliputi penemuan kasus dan pengobatan telah mencapai target.

Tujuh, Kelestarian lingkungan membaik
Proporsi rumah tangga dengan akses air minum layak meningkat dari 37,73 persen pada tahun 1993 menjadi 47,71 persen pada 2009. Sementara itu proporsi rumah tangga dengan akses sanitasi layak meningkat dari 24,81 persen pada 1993 menjadi 51,19 persen pada 2009. Upaya mengakselerasi pencapaian target air minum dan sanitasi yang layak terus dilakukan melalui investasi penyediaan air minum dan sanitasi, terutama untuk melayani jumlah penduduk perkotaan yang terus meningkat. Proporsi rumah tangga kumuh perkotaan menurun dari 20,75 persen pada tahun 1993, menjadi 12,12 persen pada 2009.

Delapan, membangun kemitraan global
Indonesia merupakan partisipan aktif dalam berbagai forum internasional dan mempunyai komitmen untuk terus mengembangkan kemitraan yang bermanfaat dengan berbagai organisasi multilateral, mitra bilateral dan sektor swasta untuk mencapai pola pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada penurunan tingkat kemiskinan (pro-poor). Indonesia telah mendapat manfaat dari mitra pembangunan internasional. Untuk meningkatkan efektifitas diantaranya telah ditandatangani Jakarta Commitment bersama 26 mitra pembangunan pada tahun 20099. Bersama dengan ini Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan pinjaman luar negeri pemerintah terhadap PDB dari 24,6 persen pada tahun 1996, menurun menjadi 10,9 persen pada 2009. Sementara itu Debt Service Ratio Indonesia juga telah turun dari 51 persen pada 1996 menjadi 22 persen pada 2009. (hs)

Yang terbersit dari pikiran sederhana saya, mudahan nanti setelah pembangunan mental terbentuk, kesiapan fisik juga sudah setengah berjalan. kita benar-benar menikmati indahnya Indonesia secara lengkap. pembangunan fisik dan mental, bukan hanya dinikmati oleh sebagian kecil rakyat Indonesia, namun seluruhnya benar-benar merasakannya. Amin.

 

 

 

 

 

 

Advertisements
Posted in: berita 4