Nah kalau ada alat ini bisa dech Jakarta tertiba lalu lintas

Posted on December 10, 2010

0


nich dia yang memang bikin Jakarta semrawut. semua itu karena memang kesadaran tertib berlalu lintas kurang.

Sederhana saja, tuntutan kerja cepat, menjadi alasan pembenaran sikap tidak tertib tersebut. namun, mengingat padatnya lalu lintas di Jakarta, mau tidak mau, keamanan dan kenyamanan pengguna jalan menjadi yang utama. jalan-jalan tersebut bukan milik pribadi, atau perseorangan, tapi milik bersama. nah, nih salah satu solusinya. mudahan bisa diterapkan.

Mobil di DKI Akan Dipasangi Sensor Pelanggaran

ARIE FIRDAUS

JUM’AT, 10 DESEMBER 2010 | 17:02 WIB

Seorang polisi sedang mengatur lalu lintas di Jakarta (1/7). Di Hari Ulang Tahunnya ke 63, polisi diperintahkan menjaga netralitasnya dalam menjaga proses Pemilihan Presiden 8 Juli mendatang. Foto: TEMPO/Dinul Mubarok

TEMPO InteraktifJakarta – Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya akan memasang empat kamera CCTV sepanjang jalur Blok M hingga Glodok pada 2011. Tak hanya merekam, kamera ini juga akan memotret dan juga memiliki sensor yang secara otomatis bisa mengetahui data kendaraan pelanggar. Agar bisa terekam, masing-masing kendaraan, nantinya juga akan dipasangi chip yang akan menyimpan data kendaraan mulai dari BPKB dan STNK.

“Nanti akan terintegrasi semuanya. Kendaraan pelanggar langsung diketahui dengan alat pemantau yang ada di TMC,” ujar Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Royke Lumowa usai penandatanganan nota kesepahaman pengadaan alat di Mapolda Metro Jaya, Jumat (10/12).

Sayangnya, Royke masih enggan merinci dimana saja CCTV itu akan dipasang. “Pokoknya sepanjang jalur itu, mungkin di Senayan, Sarinah atau Blok M sebanyak empat kamera. Secara acak saja,” ujarnya.

Royke mengaku saat ini polisi kesulitan menangkap pelaku yang menggunakan ponsel saat berkendara. Ia berharap, dengan alat tersebut, pelanggar akan bisa diketahui. “Alat yang baru ini akan bisa merekam dan memotret sehingga bisa jadi bukti pelanggaran,” kata menjelaskan alat hibah dari Norwegia itu.

Alat tersebut, menurutnya sudah digunakan di banyak negara maju dan cukup berhasil menekan pelanggaran di jalanan.

Di London, sensor seperti ini diterapkan untuk membatasi jumlah kendaraan yang masuk di jalan-jalan protokol pada jam tertentu. Sistemnya seperti Electronic Road Pricing (ERP) di Dingapura. Bedanya, di Singapura menggunakan sensor. Setiap kendaraan dipasangi alat yang setiap melewati jalan-jalan yang diberlakukan ERP komputer langsung mencatatnya. Biaya dipotong dari saldo.

Di London, pemerintah kota setempat bekerja sama dengan IBM. Mereka merekam dengan kamera mobil yang masuk jalan protokol. Kemudian komputer database akan mencatatnya. Setiap kali mereka lewat, mobil harus membayar sejumlah uang. Tagihannya ini tiap akhir bulan dikirim ke alamat pemilik mobil. Di London, karena sistem perbankan, kartu identitas, pajak semua sudah terintegrasi, pemilik mobil tak bisa ngemplang atau main curang.

jujur apa yang terjadi di Jakarta, sebagai ibukota negara, tidak sepadan dengan apa yang mudah diterapkan di negara lain, seperti di Singapura dan London. Jumlah populasinya yang padat  justeru menjadi persoalan rumit sehingga penerapan setiap peraturan  sering mudah dilanggar. Apalagi tingkat kesenjangannya masyarakat sangat lebar.  Sehingga bisa jadi Jakarta lebih mudah diterapkan dengan penertiban paksa dibandingkan dengan masyarakat negara-negara maju seperti London dan Singapura tadi  yang tanpa perlu ditertibkan sudah tahu apa yan dilakukan.