Tak lengkap bicara film sukses tanpa sebut sutradara terbaik Indonesia 2010

Posted on December 14, 2010

1


Rasanya takkan lengkap bicara tentang film yang sukses atau best seller tanpa menyebutkan nama-nama sutradara-sutradara terbaik. karena tangan dingin mereka, sebuah film akan mempunyai karakter kuat sehingga bisa diterima oleh pemirsa.

Sutradara-Sutradara Terbaik Indonesia 2010

SELASA, 14 DESEMBER 2010 | 18:27 WIB

Hanung Bramantyo. TEMPO/Novi Kartika

TEMPO InteraktifJakarta – Jagat film nasional belum stabil benar. Pertumbuhannya masih diwarnai pasang-surut kreativitas. Bahkan, belakangan, perfilman nasional cenderung surut ke belakang. Film-film lebih didominasi dengan gambar yang, jika bukan mengumbar adegan seks pasti adegan horor murahan.

Namun, jagat film masih bisa menaruh harap pada sutradara-sutradara yang konsisten menyuguhkan tontonan-tontonan bermutu. Sebut saja Hanung Bramantyo atau Ari Sihasale. Andai saja, Riri Riza merilis film Sang Pemimpi di awal tahun ini, pasti termasuk sutradra terbaik tahun ini.

Dari sentuhan-sentuhan tangan emas mereka, lahir tontonan-tontonan bermutu sekaligus mendidik, dan yang terpenting berhasil mencuri perhatian publik. Berikut adalah rekaman jejak sutradara-sutradara yang berhasil menorehkan tinta emas sebelum menutup pergantian akhir tahun menuju 2011.

1. Hanung Bramantyo

Suami Zaskia Adya Mecca ini termasuk salah satu sutradara bertangan midas. Belasan film yang pernah digarap, beberapa di antaranya, berhasil meraup penonton hingga menembus angka satu juta. Sebut saja, film Ayat-Ayat Cinta dan Get Merried 2. Pada 9 Desember lalu, Hanung merilis film Sang Pencerah yang diklaim menelan biaya hingga Rp 12 miliar. Banyak kalangan memuji kualitas film yang digarap di Yogyakarta, Ambarawa, dan Kebun Raya Bogor ini patut meraih piala citra 2010. Alih-alh meraih penghargaan, film ini malah gagal masuk nominasi Festival Film Indonesia 2010.

2. Deddy Mizwar

Jenderal Nagabonar di film Nagabonar ini juga dikenal sebagai sutradara spesialisasi film-film satir. Ia mengawali karir sebagai sutradara dengan menggarap film Ketika pada 2005. Saat ini sudah empat film yang telah digarap Deddy Mizwar. Film terakhir Deddy adalah Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Film ini berhasil menyabet 12 Nominasi dan memenangi tiga Piala Citra 2010.

3. Ari Sihasale

Suami Nia Zulkarnaen ini mengawali debut menjadi sutradara dengan menggarap film King pada 2009. Di film tersebut, Ari juga bertindak sebagai produser, sebuah pekerjaan yang mulai digeluti sejak mengeluarkan film Denias, Senandung di Atas Awan. Menjelang pertengahan tahun ini atau pada 17 Juni lalu, Ari merilis film keduanya, Tanah Air Beta. Ada satu karakter yang menonjol di setiap film besutan Ari Sihasale, menonjolkan keindahan alam bersatu dengan akting para pemain. Ari tergolong sutradara yang anti terhadap pagelaran Festival Film Indonesia.

4. Benni Setiawan

Sutradara film 3 hati 2 Dunia 1 cinta ini menutup catatan prestasi akhir tahun ini dengan gemilang. Ia berhasil menyabet gelar sutradara terbaik tahun ini versi Festival Film Indonesia 2010. selain itu, film besutannya juga meraih enam penghargaan yang lain. Di jagat layar layar lebar, ia termasuk sutradara pendatang baru.

5. Lola Amaria

Termasuk salah satu sutradara perempuan yang konsisten mengangkat tema-tema sosial ke dalam film. Mengawali debut sutradara dengan menggarap film Betina pada empat tahun silam. Namun, ia sudah memproduseri film sendiri sejak menggarap film Novel Tanpa Huruf R, dua tahun sebelumnya. Awal Juni lalu, Lola merilis fim ketiganya, Minggu Pagi Di Victoria Park. Berkat film ini, Lola meraih nominasi kategori sutradara terbaik.

MUSTHOLIH

 

film-film Indonesia yang mulai digemari oleh

pemirsa Indonesia, mulai terlihat beberapa tahun

belakangan ini setelah sempat terseok-seok.  Diterimanya film-film bioskop belakangan ini tak lepas dari tangan-tangan dingin sutradara-sutradarasinetron televisi yang mampu menyedot simpati pemirsa dengan mengubah kesalahan lama sehingga pelan-pelan  membentuk karakter baru dalam membaca pergeseran minat pemirsa sehingga membuka jalan bagi tumbuhnya kembali industri perfilman belakangan  tahun ini. nampaknya, keduanya saling membutuhkan antara sinetron Televisi dengan perfilman layar lebar.

Dulu kita ingat industri layar lebar begitu tenggelam setelah sinetron-sinetron baru bermunculan. Kini, sinetron  juga lah yang mengangkat kembali dunia layar lebar dan dunia layar lebarpun mulai berbenah dengan membaca minat selera konsumen lebih obyektif, mulai membenahi dari mulai tema, seleksi aktor dan aktris, hingga peralatannya yang lebih canggih, termasuk juga infrastruktur lainnya.

 

 

 

 

 

Advertisements
Posted in: seni