Bagaimana nasionalisme ilmuwan kita yang tinggal di luar negeri

Posted on December 20, 2010

0


Sejauh mana anda memandang para ilmuwan kita yang sudah lulus kuliah di luar negeri dan berprestasi dan kemudian bekerja di luar negeri? apakah mereka masih memiliki nasionalisme juga?

kenapa saya katakan masih? hal ini tentu saja masuk akal, mengingat bahwa hidup di negara-negara yang makmur yang artinya seluruh prestasi mereka secara finansial, fasilita-fasilitas kesehatan maupun lain-lainnya lebih terjamin dibandingkan dengan di negeri sendiri, tentunya akan memilih tinggal di sana. terpautnya tingkat penghasilan jelas menjadi alasan logis.

Ilmuwan di Luar Negeri Tetap Nasionalis
Jumat, 17 Desember 2010 | 13:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Presiden Boediono meyakini, ilmuwan Indonesia yang bekerja sebagai dosen ataupun peneliti di luar negeri dapat tetap menjaga nasionalisme. Para ilmuwan pun dapat tetap berkontribusi untuk mendorong kemajuan Tanah Air.

Untuk itu, para ilmuwan Indonesia di luar negeri ini diharapkan dapat membangun jaringan yang kuat dan produktif dengan simpul-simpul di dalam negeri.

Wakil Presiden mengemukakan hal itu ketika membuka pertemuan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (16/12/2010). Sebanyak 61 ilmuwan Indonesia yang bekerja di berbagai sektor di luar negeri, mulai Kamis hingga Sabtu (18/12/2010), bertemu di Jakarta untuk merumuskan kontribusi yang bisa diberikan untuk Indonesia. Banyak ilmuwan tersebut yang memiliki hak paten.

Saat ini sedikitnya ada 2.000 ilmuwan Indonesia berkualifikasi doktor bekerja di berbagai sektor di luar negeri. Meski demikian, yang tercatat data dasarnya sekitar 850 ilmuwan.

Menurut Wapres, ia memahami jika sejumlah ilmuwan Indonesia saat ini memilih untuk berkarya di luar negeri, baik di lingkungan perguruan tinggi, lembaga penelitian, maupun swasta asing. “Kita tidak perlu menahan-nahan, ini proses yang alamiah. Kalau teman-teman masih merasa ingin mendapatkan sesuatu dari luar, dipersilakan, kecuali yang dapat beasiswa dari negara, penuhi dulu utangnya kepada negara,” ujarnya.

Pendidikan doktoral Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menambahkan, jaringan para ilmuwan Indonesia di luar negeri dapat berperan dalam program percepatan pendidikan doktoral bagi pengajar perguruan tinggi di Indonesia. Saat ini di Indonesia hanya terdapat sekitar 23.000 pengajar berpendidikan doktor, kurang dari 10 persen dari total dosen di Tanah Air.

Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengatakan, ada sekitar 55.000 mahasiswa Indonesia yang belajar di berbagai perguruan tinggi di luar negeri.

Nelson Tansu, ilmuwan Indonesia yang menjadi Guru Besar Teknik Elektro Universitas Lehigh, Amerika Serikat, mengatakan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memaksimalkan potensi bangsa, kegiatan riset membutuhkan pemimpin yang mempunyai visi riset jauh ke depan. (DAY/MZW/NAW/CHE)

Terpautnya pendapatan atau penghasilan bagi bumi dan langit menjadi alasan kenapa mereka memilih tinggal di sana. padahal kita akui sendiri bahwa masa depan bangsa Indonesia sangat bisa berkembang pesat andaikata para ilmuwan itu berperan aktif dalam meningkatkan derajat bangsa.

tapi, semestinya kita juga sadar betapa ilmuwan-ilmuwan yang kembali setelah belajar dan bekerja di luar negeri dan kemudain berposisi vital di sana, jelas tidak punya pilihan lain.

sebagian menyesalkan betapa kemudian setelah bekerja kembali ke Indonesia mereka tidak menerima sesuai dengan apa yang mereka alami selama menjadi tenaga ilmuwan vital di negara-negara maju.

inilah PR kita yang berat. namun andaikata bicara tentang nasionalime. mereka tentunya kemudian berfikir logis bahwa negara dan bangsa sangat membutuhkannya. dan itu beratti cobaan bagi mereka.