Baekhuni alias Babe (51), pelaku sodomi, akhirnya divonis hukuman mati

Posted on December 22, 2010

0


Sekian lama  pengadilan yang berlarut-larut atas Babe, akhirnya menemui titik terang vonis yang dijatuhkan. Pelaku yang dianggap telah merusak masa depan anak akhirnya mesti menerima konsekuensi atas perbuatannya yang luar biasa keji.
Vonis Babe Naik Jadi Hukuman Mati
Rabu, 22 Desember 2010 | 16:36 WIB

DHONI SETIAWAN

Baekuni alias Babeh (49), terdakwa tindak pidana kekerasan seksual (sodomi) dan pembunuhan berencana terhadap 14 bocah.

Laporan wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso

JAKARTA, KOMPAS.com — Pelaku sodomi terhadap 14 orang anak disertai mutilasi, Baekhuni alias Babe (51), akhirnya divonis hukuman mati oleh Pengadilan Tinggi Jakarta. Putusan ini atas banding terhadap vonis Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Oktober lalu yang menjatuhkan hukuman seumur hidup.

Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Timur Karel Tuppu, saat ditemui wartawan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Rabu (22/12/2010), menjelaskan bahwa pihaknya baru hari ini menerima putusan salinan pengadilan tinggi tersebut. “Secepatnya kita akan beritahukan kepada pihak jaksa dan penasihat hukum terdakwa,” ujarnya.

Oleh Pengadilan Tinggi Jakarta, Senin (20/12/2010) lalu, dalam persidangan yang dipimpin oleh hakim tinggi PH Sumantri, Ahmad Subari, dan Rocky Panjaitan, vonis seumur hidup untuk Babe dinaikkan menjadi hukuman mati.

Dalam salinan putusan Pengadilan Tinggi tersebut dijelaskan bahwa perbuatan terdakwa dianggap sangat kejam dan di luar perikemanusiaan. Pasalnya, semua tindakan tersebut hanya dipicu oleh nafsu seksnya untuk melakukan sodomi yang tidak terpenuhi. “Selain itu, perbuatan terdakwa juga dianggap meresahkan masyarakat, dan tidak ada hal yang meringankan terdakwa,” katanya.

Jaksa penuntut umum Kejaksaan Tinggi Jakarta, Trimo, saat dihubungi mengaku puas dengan keputusan Pengadilan Tinggi tersebut. Ia pun sependapat dengan putusan Pengadilan Tinggi yang menganggap perbuatan Babe adalah perbuatan yang sadis dan di luar perikemanusiaan. Ditambahkan, tersangka juga sempat melakukan penghilangan jejak atas aksinya.

“Pembunuhan terhadap dua sampai tiga orang saja hukuman mati, masa pembunuhan terhadap 14 orang mendapat hukuman seumur hidup sebagai penuntut umum kami merasa puas,” jelasnya.

Penasihat hukum Babe, Rangga B Reikuser, mengaku, pihaknya bahkan tidak mengetahui bahwa jaksa telah mengajukan kasasi. Padahal, ia mengaku selalu menanyakan perihal kasasi dari jaksa. “Kalau (jaksa) mengajukan banding, kenapa kami tidak diberitahukan? Ini kan berarti ada suatu permainan hukum, ini kepentingan untuk siapa, publik, Babe atau untuk siapa?”

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pihaknya merasa keberatan dan dirugikan dengan putusan tersebut. Pasalnya, secara prosedural ia merasa dilangkahi oleh jaksa. Menurut Rangga, seharusnya jika kejaksaan mengajukan memori banding, memori tersebut harus juga disampaikan kepada kuasa hukumnya. “Proses hukumnya cacat, tidak sesuai prosedur, kami merasa sangat dirugikan,” pungkasnya.

keputusan hukuman mati memang beragam ditanggapi oleh kondisi dan situasi berbagai negara.  sebagian mengiyakan dan sebagian memilih hukuman maksimal seumur hidup.

 

Posted in: berita 4