Antrean tiket bermasalah demi secarik kertas tiket kandang di final piala AFF

Posted on December 26, 2010

0


Sebenarnya saya mau bilang apa nich..mau bilang sesuatu tapi…ya, sudahlah. begitulah kita. sebuah potret ketidakdewasaan kita.

saya rasa masalah mengantre sejak dulu memang begitu. Kalau ingat sekarang ada korban saat antrean panjang dan berdesak-desakan untuk mendapatkan tiket di laga final menjadi peristiwa paling bersejarah dalam dunia sepakbola. sepengetahuanku sih dulu-dulu ngga pernah sampai ada korban tuh saat mengantre tiket. kalau sudah seperti ini, jadi ingat juga antrean sembako  Hari Raya Idul Fitri yang juga memakan korban.

karena itu, kalau mau jujur, ketidakdewasaan itu identik dengan anak kecil. hehe..ingat ngga, ketika bu guru saat Sekolah Dasar dulu sebelum masuk kelas disuruh berbaris satu per satu. Bahkan terkadang perlu melepas sepatu. suatu kedisiplinan yang sejak dulu sebenarnya sudah ditanamkan. nah, setiap anak-anak mengantre sesuatu pasti berebut dulu. baru ada orang dewasa datang dan kemudian membentak mereka agar berbaris rapi.

Ya, setelah saya pikir-pikir lagi, soal antrean apapun itu peristiwanya. tetap saja bermasalah. jadi sebenarnya bukan judul antrean tiket bermasalah. tapi lebih tepat antrian bermasalah. karena memang yang jadi sumber masalah adalah antrean itu.

Mungkin lebih tepatnya , kita ini kita adalah anak dewasa, bukan orang dewasa. Anak dewasa itu adalah anak-anak bongsor, tubuh boleh dewasa, tapi kelakuan tetap aja anak-anak. hehe…

Kalau orang dewasa biasanya sudah tahu mana yang baik dan salah. Jadi sebelum melangkah, dia sudah memahami resiko dan tidak ingin lebih jauh melakukan hal-hal yang justeru merugikan diri sendiri. Nah, sebaliknya kalau anak-anak itu biasanya merasakan dulu baru kemudian tidak mengulangi. hehe..mirip dengan anak temenku…ibunya udah bilang..itu pisau jangan dipegang. itu bahaya… tapi dalam benak anak tersebut, yang ada cuma yang terlihat. bentuknya mengkilat dan menarik perhatian. namun kemudian saat disentuh, tangan berdarah dan menangis keras-keras  dan baru kemudian dia memahami arti kata bahaya.

Jadi dari sini, bangsa kita juga mirip demikian. itu korupsi ngga bagus. tapi kemudian setelah banyak yang melakukan korupsi dan kemudian karena korupsi itulah banyak  atau sebagian besar rakyat Indonesia tidak memperoleh hak-haknya karena diambil koruptor. akhirnya ketika rakyat-rakyat merasa sakit dan lebih banyak masalah akibat hak-hak dia diambil koruptor, akhirnya mencoba mengambil hak-haknya dengan cara negatif. Dan setelah semua menderita, akhirnya semua baru menyadari bahwa korupsi itu tidak baik.

padahal kalau mau jujur pernyataan korupsi itu tidak baik, tidak perlu dipertanyakan lagi. jadi setelah benar-benar mengalami akibat dari korupsi, akhirnya baru kemudian kita bertindak.

Tapi memang begitulah. mungkin inilah proses panjang kita menjadi bangsa dewasa dan tiket antrian bermasalah itu merupakan proses kita menuju bangsa dewasa.

perlu rasa sakit dulu, sebelum kita dewasa atau sebelum mengiyakan kalimat benar yang  sudah baku atau standar .

sekarang saya tidak mengucapkan lagi antrian bermasalah itu merupakan proses kita menuju bangsa dewasa. maklum, hehe…saya juga sering tuh ambil jalan pintas saat mengantre….auh…ah…menurut anda, apakah saya juga anak dewasa?? hahaha…

 

 

Advertisements