Jogja ingatkan politisi Jakarta tentang 65 Tahun Pindahnya Ibu Kota

Posted on January 3, 2011

0


Saat Republik hampir runtuh, lumpuh dan terseok-seok,  saat itu Jogja memberanikan diri memapah dan lindungi keterpurukan Republik akibat perlakuan penjajah Belanda.

Kemudian yang terfikir olehku, apa karena politisi Jakarta tidak pernah lahir dan merasakan masa penjajahan sehingga kurang peka terhadap apa yang terjadi di masa lalu.

Apakah Politisi Jakarta kurang peka terhadap sejarah. Bahkan kalau kita mau sedikit berkaca, Amerika Serikat saja masih mengakui kisah krimanal dalam sejarah catatannya, masih ingat tentang Billi The Kid. apalagi dengan daerah atau tokoh-tokoh pentingnya.

Yogya Gelar 65 Tahun Pindahnya Ibu Kota
Tawaran Sultan kepada Bung Karno bukan tanpa alasan.
SENIN, 3 JANUARI 2011, 19:56 WIB

Ismoko Widjaya

Keraton Yogyakarta (VIVAnews/ Kinaransih Waskita)

VIVAnews – Selasa 4 Januari besok merupakan peringatan 65 tahun pindahnya Ibu Kota dari Jakarta ke Yogyakarta. Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta akan menggelar peringatan dengan cara mengadakan kuliah umum tentang sejarah perpindahan Ibu Kota.

“Saat ini banyak anak muda bahkan pejabat yang telah lupa bahwa Yogyakarta pernah menjadi Ibu Kota NKRI,” kata Ketua Pusat Studi Pancasila UGM yang juga anggota Senat UGM, Soetaryo di Yogyakarta, Selasa 3 Januari 2011.

Sejarawan UGM Prof Soehartono Wiryopranoto akan memberikan pemaparan dalam kuliah umum yang akan dilaksanakan di Gedung Kebudayaan Koesnadi Hardjosumantri atau eks Purna Budaya UGM.

Sedikit menilik sejarah pindahnya Jakarta ke Yogya. Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Pakualam VIII mengirimkan surat ucapan selamat atas kemerdekaan itu. Tanggal 5 September 1945 Sultan dan Pakualam menyatakan bergabung dalam NKRI. Keduanya merupakan penguasa lokal pertama yang menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan RI (NKRI).

Keamanan Jakarta sebagai Ibu Kota terancam saat Belanda kembali datang ke Indonesia membonceng sekutu. Bahkan pada 29 September 1945,  Belanda menduduki Jakarta. Sultan dan Paku Alam mengirim kurir ke Jakarta dan menyarankan agar Ibu Kota pindah ke Yogya pada 2 Januari 1946. Tawaran Sultan diterima dengan oleh Bung Karno. Lalu pada 4 Januari ibukota NKRI resmi pindah ke Yogyakarta.

“Dilipihnya Yogyakarta sebagai Ibu Kota menarik untuk dikupas, karena masih ada kota lain di NKRI ini yang juga layak untuk menjadi Ibukota NKRI selain Yogyakarta,” kata Soetaryo.

Tawaran Sultan kepada Bung Karno bukan tanpa alasan. Yogyakarta daerah yang paling siap menerima kemerdekaan dan yang pertama kali menyiarkan kemerdekaan melalui Masjid Gedhe Kauman. “Pilihan Bung Karno memindahkan Ibu Kota dari Jakarta ke Yogyakarta tidak main-main,” kata dia.

Dipilihnya Yogyakarta sebagai Ibukota merupakan bagian keistimewaan yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia. Dibawah pimpinan Sri Sultan HB IX keraton Yogyakarta punya peran besar dalam mempertahankan NKRI dari cengkraman Belanda. Sultan IX bahkan menyiapkan pemerintahan darirat manakala terjadi agresi belanda II tahun 1949 saat itu banyak pejabat ditangkap oleh belanda.

Yogyakarta kembali bisa direbut dalam perang rakyat 1 Maret 1949 dan pasukan Belanda ditarik dari Yogyakarta. Pada 6 Juli 1949 Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta tiba kembali di Yogyakarta dari pengasingan. Kemudian, pada 17 Desember 1949 di Siti Hinggil Kraton Yogyakarta (bukan di Gedung Negara), Soekarno dikukuhkan sebagai Presiden RI.

“Saat itu Sultan menyerahkan dana 6 juta gulden untuk menjalankan pemerintahan Indonesia kepada Soekarno, karena pemerintah memang belum memiliki dana untuk menjalankan roda pemerintahan,” kata dia.

Tak hanya akademisi UGM, kelompok-kelompok tertentu masyarakat di Yogyakarta juga akan memperingati pindahnya Ibu Kota. Elemen masyarakat Yogyakarta akan memperingati dengan cara konvoi dari Stasiun Tugu Yogyakarta ke Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta.

Peringatan pindahnya Ibukota NKRI dari Jakarta ke Yogyakarta tidak saja dilakukan pertamakali oleh UGM, namun telah menjadi agenda setiap tahun yang jatuh pada tanggal 4 Januari. (sj)

Laporan: Juna Sunbawa l DIY

 

 

 

 

 

 

nah, ini jelas-jelas peran kesejarahan yang dominan ingin dilupakan.

Posted in: berita 4