Sekilas Tukul Arwana

Posted on January 3, 2011

0


Kalau berbicara mengenai karir Tukul Arwana, tidak bisa lepas dari sejarah yang membesarkannya, terutama dengan grup lawak Srimulat. Tukul Arwana banyak memiliki kenangan manis bersama Srimulat yang menjadikannya pelajaran menjadi seorang yang lebih baik.

“Saya memang cita-cita masuk Srimulat, dari dulu juga pengen jadi pelawak. Nah dari Srimulat saya belajar banyak, meski saya sampai saat ini belum gabung ke Srimulat, tapi dulu sama Srimulat saya bisa jalan-jalan ke luar kota. Seneng banget,” papar Tukul kepada kapanlagi.com, saat ditemui di acara Malam Empati Untuk Bapak Timbul, Gedung Kesenian Jakarta.

Bagi Tukul, bisa bermain dalam satu frame bersama para personel Srimulat adalah sebuah kebanggaan tersendiri.

“Semua punya kapasitas seperti Timbul, dari mas Tarsan, mas Polo, Mamiek, pokoknya mereka itu punya kelebihan masing-masing. Dan saya selalu mengambil ilmu dari mereka semua,” lanjutnya.

Soal berapa sumbangan yang akan diberikannya pada malam penggalangan dana itu, Tukul tak mau merincinya. Menurutnya, sumbangan tak hanya selalu berupa materi.

“Saya ini orangnya pelit (sambil ketawa), karena saya harus kristalisasi keringat, sehingga bisa seperti sekarang ini. Orang bilang susah ngambil uang dari saya. Ya, karena kan nggak harus duit kalau nyumbang,” ucapnya diplomatis.

Bagi Tukul, acara pada malam itu adalah sekaligus reuni, wujud empati dan mengenang Timbul. Baginya, sosok Timbul adalah orang yang cinta budaya tradisional. Sehingga ia menghimbau agar pemerintah bersedia membangun gedung-gedung kesenian, baik di kota maupun di daerah.

Lalu, setelah terkenal, apakah dirinya akan ikut-ikutan terjun dalam kancah politik seperti artis yang lain? “Saya mau kok jadi capres, tapi ya kalau saya minimal Gubernur minimal,” candanya.

Kapanlagi.com

Tukul Arwana tinggalkan Empat Mata

Tukul Arwana, tokoh utama dalam Empat Mata di Trans7, mulai malam ini sampai sebulan ke depan tak lagi menghibur pemirsanya. “Aku pasrah karo sing gawe urip (pasrah kepada Tuhan). Jiwa besar lapang dada, diperpanjang apa tidak, enggak masalah,” kata Riyanto, nama asli Tukul Arwana ihwal acaranya yang dihentikan oleh Komisi Penyiaran Indonesia mulai Selasa (4/11) ini.

Pria kelahiran Perbalan, Purwosari, Semarang, 16 Oktober 1963,  ini ketika dihubungi Tempo mengaku belum diberitahu oleh manajemen Trans7. Ia sudah siap lahir batin apapun yang terjadi dengan “sawah ladang” di Empat Mata. “Sebagai host saya cuma bekerja, tidak lebih dari itu,” katanya.

Menurut Tukul, awalnya sering dilibatkan dalam menentukan kelayakan topik dan materi Empat Mata. Bentuk pelibatannya, kata dia, antara lain ia diminta pertimbangan setiap topik yang hendak ditampilkan. Belakangan, Tukul jarang dmintai saran.

“Tapi, saya selalu bertanya. Apakah ini sudah dipertimbangkan, dipikirkan masak-masak? Mereka, produser dan tim kreatif Empat Mata, selalu menjawab sudah. Enggak bahaya, ya sudah…,” tuturnya. “Artinya, yang bertanggung jawab materinya mereka (tim kreatif dan produser Empat Mata). Saya enggak ngerti, tugasku hanya menghibur.”

Ia mengakui, pembagian tugas dalam Empat Mata peran dirinya cuma menciptakan suasana hiburan yang segar, menyenangkan, dan gampang dicerna pemirsa. Hasilnya, “Terbukti sudah 550 episode, pemirsanya betah nonton,” ujarnya.

Tak bermaksud sombong. Berjuta-juta pemirsa Empat Mata, katanya, merasa terhibur. Kabar itu ia peroleh dari berbagai komentar baik langsung maupun melalui orang lain. Orang Indonesia yang berada di mancanegara pun gandrung dengan tayangan Trans7 saban Senin sampai Jumat itu.

Agedan makan kodok hidup dan mengundang Sumanto, si pemakan mayat, Tukul tak bersedia menjelaskan alasan materi itu yang menjadi pilihan. “Betul, saya tidak mengerti sama sekali. Itu urusan tim. Tugas saya tidak memikirkan materi, tapi bagaimana menghibur pemirsa.”

Hubungan selanjutnya dengan Trans7, Tukul belum tahu. Yang jelas, dari 550 eposiso Empat Mata, kata Tukul, kontrak dengan Trans TV dibikin setiap episode. Tidak pernah ada episode cadangan. “Kalau sekarang Empat Mata ditutup, tidak apa-apa.” Tukul tidak risau. “Ini ujian agar saya instrospeksi. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa,” ucapnya.

“Artinya, Allah masih sayang kepada hambanya. Ini bagus, suerr…. Nangkepnya harus positif. Kalau direspons negatif, saling menyalahkan, menjadi makin buruk,” kata pelawak yang mengaku sudah membanyol sejak kelas empat sekolah dasar itu. Dan, penonton sering disuguhi ucapan khas Tukul: puas puas….
Elik S.

Sumber : http://www.tempointeraktif.com

Acara baru Tukul Arwana Bukan Empat Mata

 

Bukan Empat Mata adalah acara baru Tukul Arwana. Bukan Empat Mata sepertinya tidak jauh beda dengan Empat Mata, ada tambahan pembacaan berita dan demo masak, tapi jargon “kembali ke laptop” masih dipertahankan.

Penghibur bernama asli Riyanto itu mengaku sudah menandatangani kontrak setahun dengan Trans 7. Program barunya akan tayang setiap Senin-Jumat, sama persis dengan Empat Mata.

“Bayaran saya dimahalin seperempat dari jumlah total sebelumnya. Lumayanlah,” katanya.

Belajar dari pengalaman, Tukul bertekad untuk lebih hati-hati. Terutama karena berada di bawah pengawasan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Sejujurnya, kata Tukul, bekerja seperti itu sangat tidak nyaman.

Tukul merasa kegiatan lawakannya dibatasi. Padahal, dia sudah menyadari adanya batasan tersebut.

“Sebetulnya, lawakan saya begini tidak masalah. Buktinya, sejak awal tayang, terus pertengahan, dan sebagainya lancar-lancar saja. Saya melawak bebas, tidak beban,” katanya.

Setelah Empat Mata semakin dikenal, mulai bermunculan kritik terhadap gaya lawakan Tukul.

“Itu tadi ada yang tidak suka dengan seperti ini, tidak suka dengan ini, dan sebagainya. Saya itu merasa terbebani. Terbelenggu, lalu kreativitas tersumbat,” paparnya.

Meski begitu, Tukul tetap memberikan jaminan lucu dan kreatif pada program barunya nanti.

“Lawak itu ada rumusnya. Kalau orang tahu rumus lawakan itu, materi nggak akan habis. Apa yang saya lihat, dengar, itu materi,” ujar pemain film Otomatis Romantis tersebut.

Menurut Tukul, bagaimanapun, pekerjaan terus berjalan. Sebab, lanjut dia, kerja adalah sesuatu yang harus disyukuri.

“Kalau cinta pekerjaan, pekerjaan akan mencintai kita,” kata bapak dua anak itu.

Hal itu sekaligus menepis anggapan bahwa Tukul menganggur pasca Empat Mata dihentikan.

“Saya masih sering diundang acara off air ke beberapa kota, acara di stasiun TV lain, dan acara di kantoran juga. Bayaran off air lebih besar daripada Empat Mata,” akunya.

Tukul juga tidak takut penghasilan berkurang hanya karena tidak syuting Empat Mata.

“Basic saya seniman jalanan. Bukan orang ganteng, orang kaya jadi artis, atau orang luar biasa. Saya jadi artis atau pelawak dari bawah benar. Ada proses jatuh bangun yang rintangannya sangat menyakitkan atau melelahkan,” jelasnya.

Dalam menjalani hidup, dia menggunakan ilmu siap; siap disenangi, siap disanjung, siap dikecam, siap dicaci-maki, dan siap dilecehkan.

“Selalu siap menghadapi dengan kesatria,” tegasnya.

Hasilnya, Tukul akan sangat sibuk mulai Desember 2008. Selasa sampai Kamis syuting Bukan Empat Mata. Jumat, Sabtu, Minggu, dan Senin digunakan untuk syuting sinetron.

Kapan liburnya ?

“Ya, kita pukul besi di waktu panas. Demi anak istri. Kita mencintai pekerjaan, syukurilah. Manfaatkan masa jayamu sebelum masa surammu datang, manfaatkan masa sehatmu sebelum sakitmu datang, dan seterusnya kan. Risiko punya bapak coverboy dan kesibukannya luar biasa,” guyon Tukul.

Setelah melihat episode pertama Bukan Empat Mata dengan bintang tamu Sandra Dewi, saya sadar bahwa distopnya acara Empat Mata membawa berkah yang tidak terduga bagi Tukul Arwana

Acara Empat Mata yang distop memberikan kita pelajaran, yaitu: di balik setiap masalah pasti ada hikmah di baliknya. Selamat buat Tukul Arwana dan acara Bukan Empat Mata. Tantangan nih buat sinetron Yasmin yang jadwal tayangnya sama. Sepertinya acara Bukan Empat Mata harus dimasukkan lagi ke daftar favourite tv program.

Sumber : Rileks.com

 

 

 

Posted in: artis 3