Pengaruh seluler terhadap perkembangan Otak Anak

Posted on January 6, 2011

0


Dengan semakin terjangkaunya telpon seluler, tentunya kian banyak orang tua membelikan handphone atau telpon seluler kepada anak-anaknya, baik usia dini sampai remaja atau bahkan anak dewasa. Lantas bagaimana dengan perkembangannya terhadap fisik dan psikologis anak-anak tersebut.

Pengaruh Gadget pada Otak Anak
Anak di bawah usia 12 tahun sebaiknya tidak dibiarkan terpapar ponsel.
Kamis, 6/1/2011 | 14:08 WIB

KOMPAS.com – “Memberi anak usia di bawah 20 tahun BlackBerry akan merusak bagian otak PFC (preFrontalCortecs).” Demikian bunyi suatu pernyataan di Facebook yang dikutip seseorang dari Twitter. Sekarang ini,smartphone seperti BlackBerry memang sudah menjadi “mainan” anak-anak SD. Namun, benarkah dampaknya bisa sejauh itu?

Ternyata, psikolog Elly Risman dari Yayasan Kita dan Buah Hati, bisa menjelaskan kebenaran mengenai kerusakan otak ini, yang berkaitan dengan konten pornografi jika diakses menggunakan smartphone. Kerusakan pada bagian di otak akibat pornografi pernah diungkap oleh seorang psikiater dari Amerika Serikat, Mark Kastleman.

Otak depan
Elly mengatakan, otak depan pada anak sebetulnya belum berkembang baik. Bagian otak depan ini akan matang pada usia 25 tahun. Otak depan merupakan pusat yang memerintahkan tubuh untuk melakukan sesuatu. Sementara reseptornya yang mendukung otak depan adalah otak belakang, yang menghasilkan dopamin, yaitu hormon yang menghasilkan perasaan nyaman atau rileks pada seseorang.

Bila sejak dini anak sudah terpapar oleh pornografi, rekamannya akan sulit dihapus dari ingatan dan pikiran untuk jangka waktu yang lama. Bila tidak diantisipasi, anak bisa kecanduan karena pengaruh hormon dopamin yang dihasilkan ketika anak menikmati pornografi. Akibatnya, sistem pada bagian otak depan mengalami kekacauan dan tubuh jadi tak lagi memiliki kontrol diri.

Hasil riset neuroscience lainnya dari Donald Hilton Jr, ahli bedah otak dan dokter terkemuka dari Texas, menemukan bahwa pornografi sesungguhnya adalah penyakit, karena dapat mengubah struktur dan fungsi otak, dengan kata lain merusak otak di lima bagian. Kecanduan pornografi ini menurutnya lebih berat ketimbang kecanduan kokain.

Penelitian dari American Academic of Child Psychology juga memaparkan kemungkinan buruknya smartphone, yakni hilangnya kreativitas di usia muda karena dalam pengerjaan tugas-tugas yang sifatnya akademis, anak-anak cenderung mengandalkan mesin pencari dalam internet yang memungkinkan mereka melakukan copy-paste.

Menyaring info
Smartphone memang memiliki banyak kelebihan. Dunia bagai dalam genggaman tangan. Selain bertelepon, anak-anak bisa mencari apa pun dengan bantuan situs pencari seperti Google atau Yahoo!. Anak juga dimungkinkan selalu terhubung dengan jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, Twitter, Kaskus, dan sebagainya.

Fasilitas-fasilitas ini, di satu sisi menyimpan potensi menyebarkan aneka informasi yang belum layak diakses oleh anak. Misalnya saja, anak mencari situs-situs dewasa lewat Google atau Yahoo!. Atau setiap hari sibuk berjejaring sosial yang membuatnya lupa keluarga dan lupa belajar. Belum lagi di jejaring sosial ini sudah banyak terdengar anak-anak menjadi korban pelecehan orang dewasa, baik secara emosional maupun fisik (anak dibawa kabur oleh kenalannya di dunia maya).

Sayangnya, tak sedikit orangtua yang justru memberikan smartphone kepada anak-anaknya yang masih terbilang polos. Alasannya, agar orangtua dapat berkomunikasi kapanpun dengan anak, ingin anaknya ikut tren dan percaya diri dalam bergaul, atau sekadar menuruti rengekannya.

Fenomena yang kemudian terjadi, anak tampak begitu lekat dengan smartphone-nya. Ia baru merasa aman dan eksis bila selalu terhubung dengan orang lain. Kalau tidak, ia khawatir dirinya dikucilkan, sehingga anak selalu membawa kemanapun smartphone-nya. Ia lebih mementingkan berkomunikasi dengan orang-orang “nun jauh” di sana ketimbang dengan orang-orang di sekelilingnya.

Narasumber: Ani Fegda, MPi, Psi, dari Esensi Mitra Solusi, Konsultan SDM, dan Daniel Kusnadi, Web Developer, Digital Campaign Consultant

(Tabloid Nakita/Dedeh Kurniasih)

=======

Sisi Gelap Gadget dan Video Games untuk Anak

Rabu, 24/11/2010 | 15:09 WIB

Kompas.com – Anak-anak sekarang memang lebih cepat menguasai perangkat digital. Sejak kecil mengakrabi gadgetdan tumbuh di dunia yang menawarkan berbagai kemudahan komunikasi tentu mendatangkan pengaruh bagi tumbuh kembangnya.  Apa saja yang perlu diwaspadai orangtua?

Anak-anak dan remaja saat ini merupakan golongan masyarakat yang digital native. Menurut Kahardityo, peneliti dari Pusat Kajian Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, (Kompas/8/2/10) para digital native ini adalah penduduk asli di dunia digital. Mereka lahir dan tumbuh di era digital yang menjadikan mereka memiliki cara berpikir, berbicara dan bertindak, berbeda dengan generasi sebelumnya yang diibaratkan sebagai digital immigrant.

Keberadaan gadget dan internet saat ini memang membuat anak-anak lebih pintar karena tak terbatasnya pengetahuan yang bisa didapatkan anak. Namun, ada pula sisi negatif yang mengintai. Para pakar mengkhawatirkan para digital native ini cenderung tidak memiliki kecerdasan sosial.

Mayke S.Tedjasaputra, pengajar senior di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia mengungkapkan, seorang anak memerlukan persentuhan dengan objek yang nyata.

“Permainan digital sudah punya desain khusus. Anak-anak perlu bermain dengan teman dan objek yang nyata supaya mereka bisa belajar melakukan problem solving yang tidak diduga, bukan seperti video games yang sudah ada desainnya,” paparnya.

Lewat kegiatan bermain, anak akan mendapatkan banyak pengalaman baru. “Kemampuan anak baru pra operasional, karena itu anak perlu melihat, meraba, menyentuh, dan mengeksplorasi suatu objek secara langsung,” terang Mayke.

Mayke menambahkan, gadget, elektronik games yang bersuara, bergerak dan berwarna bisa memberikan stimulus yang terlalu kuat pada anak. Jika sejak usia dini anak sudah terbiasa dengan perangkat digital, dikhawatirkan anak akan malas ketika distimulasi dengan kegiatan belajar yang statis. “Bila sudah terbiasa pada permainan digital yang dinamis tentu anak akan malas melihat huruf-huruf yang statis,” urainya.

Dampak negatif dari permainan video games, terutama yang mengandung kekerasan, ini sudah sejak lama disuarakan para ahli. Berbagai penelitian mengaitkan dampak video games pada pembentukan perilaku dan moral anak.

Belakangan para orangtua juga bisa mendapatkan software edukatif untuk anak yang sifatnya merangsang kemampuan belajar anak. Mengenai hal ini Mayke mengatakan boleh saja orangtua memberikan pada anak, tapi tidak pada usia terlalu dini.

Ia menyarankan agar orangtua baru memperkenalkan anak pada perangkat digital setelah anak berusia lima tahun. “Sebelum usia itu takutnya anak mengalami gangguan otot mata karena harus fokus ke satu layar selama berjam-jam. Ini bisa berpengaruh pada kemampuan membaca anak,” imbuh playtherapist ini.

Mayke mengakui memang tidak mudah menjauhkan anak dari dunia teknologi dan gadget. Untuk itu ia menyarankan agar orangtua membatasi anak-anaknya dalam mengeksplorasi kecanggihan perangkat digital dan lebih mendorong anak pada permainan yang lebih variatif dan menyenangkan. “Untuk tumbuh sehat anak perlu terus bergerak,” katanya.
AN

Editor: Lusia Kus Anna

 


Advertisements
Posted in: anak dan remaja