Bom waktu eksistensi instalasi nuklir di Indonesia

Posted on January 7, 2011

0


Bayangan tentang chernobil di Rusia tentu mengundang ketakutan bagi negara-negara yang berniat untuk membangun instalasi nuklir.  Inilah yang jadi tanda tanya, kita tentu ingat bagaimana suatu organisasi yang terkuat pun masih bisa bocor, sehingga sekecil apapun resiko itu tetap ada. demikian pula dengan instalasi nuklir yang kini kita tahu mulai menerapkan pangaturannya melalui komputer.  Peluangpun terjadinya berbagai persoalan tentu ada. Sehingga istilah seperti menanam bom waktu juga sedikit relevan.

Virus Penyerang Instalasi Nuklir di Indonesia
Indonesia adalah negara kedua dengan tingkat serangan Stuxnet tertinggi, setelah Iran.
SENIN, 22 NOVEMBER 2010, 16:50 WIB

Arief Prabowo, Malware Researcher Emsisoft

VIVAnews – Beberapa waktu lalu dilaporkan bahwa worm Stuxnet menyerang Heysham Power Station,  sebuah pembangkit tenaga nuklir di Inggris. Satu dari dua reaktor Heysham 1 dimiliki oleh perusahaan Energi dari Perancis, EDF. Namun, seperti yang dikutip dariTheRegister, juru bicara EDF mengatakan bahwa permasalahan yang terjadi Heysham 1 tidak ada hubungannya  dengan isu ‘cyber security’.

Cerita seputar Stuxnet memang tidak ada habisnya. Semenjak kemunculannya bulan Juni lalu, hingga kini Stuxnet terus menjadi bahan perbincangan di kalangan analis antivirus seluruh dunia.

Stuxnet memang didesain untuk langsung menyerang sistem spesifik yakni SCADA dan PLC (Programmable Logic Controllers) yang menggunakan Siemens STEP 7 SCADA  atau SIMATIC WinCC. Bahayanya, Stuxnet juga dapat mencuri data-data penting di dalamnya.

Lantas institusi penting mana yang terserang Stuxnet. inilah?

Worm Stuxnet Disponsori Negara Barat?
Malware ini dianggap sebagai upaya untuk melumpuhkan reaktor nuklir Bushehr di Iran.
SENIN, 27 SEPTEMBER 2010, 16:50 WIB
Papan penunjuk reaktor nuklir di Bushehr, Iran (AP Photo/Hasan Sarbakhshian)

VIVAnews – Software jahat (malicious software/ malware) bernama Stuxnet, akhir-akhir ini semakin menggila. Iran menjadi negara terparah yang terimbas oleh worm komputer ini.

Seperti dikutip dari situs ComputerWorld, setidaknya, 30 ribu komputer di negara itu terinfeksi oleh Stuxnet. Bahkan, dikabarkan badan energi atom Iran sampai harus melakukan rapat serius untuk mendiskusikan langkah menghadapi malware ini.

Menurut firma keamanan komputer Symantec, saat awal penyebaran malware ini, hampir 60 persen dari semua komputer terinfeksi berasal dari Iran. Banyak yang berspekulasi, bahwa malware ini sengaja dibuat untuk melumpuhkan reaktor nuklir Bushehr milik Iran.

Reaktor yang terletak di wilayah barat daya Iran, itu selama ini menjadi salah satu hal satu penyebab tingginya tensi antara Iran dan Barat. Barat, termasuk AS, sangat percaya, bahwa bahan bakar dari reaktor itu bisa diproses menjadi plutonium tingkat tinggi dan digunakan untuk membangun beberapa senjata nuklir.

Stuxnet sendiri merupakan program yang sangat berbahaya. Worm ini mengincar komputer Windows yang menjalankan sistem kontrol industri skala-besar yang terdapat pada pabrik-pabrik dan instalasi lain.

Sistem kontrol itu adalah SCADA (supervisory control and data acquisition) yang digunakan pada instalasi pembangkit listrik, pabrik-pabrik, pemipaan minyak, dan instalasi militer.

Stuxnet disebut-sebut oleh pakar keamanan komputer sebagai malware yang paling rumit yang pernah ada. Ia memanfaatkan empat celah keamanan sekaligus di sistem Windows. Ini merupakan yang pertama kalinya, sebuah program yang secara simultan mengancam dari begitu banyak celah.

“Melihat derajat tipe program yang ada, bisa kami katakan bahwa kode pemrograman ini sangat-sangat komplek. Pemrograman Ini hanya bisa dilakukan oleh misanynya sebuah negara, bukan seorang hacker yang bermain-main di rumah orang tuanya,” ujar Eric Chien pakar keamanan komputer dari Symantec.

Hal senada juga diungkapkan oleh perusahaan keamanan komputer asal Rusia, Kaspersky. Menurutnya, tujuan utama Stuxnet bukan untuk memata-matai sistem yang terinfeksi tetapi untuk melakukan sabotase. Ini mengindikasikan bahwa perkembangan Stuxnet didukung sebuah negara dengan dukungan biaya besar, tim penyerang dengan keahlian tinggi, pengetahuan teknologi SCADA yang baik, serta data intelijen yang kuat.

“Program jahat ini tidak dirancang untuk mencuri uang, mengirimkan spam, atau mengambil data pribadi. Tapi jenis malware ini dirancang untuk menyabotase gedung-gedung, untuk merusak sistem industri,” kata Co-founder dan Chief Executive Officer of Kaspersky Lab Eugene kaspersky, dalam rilis resmi yang diterima VIVAnews.

Lebih jauh, Kaspersky percaya Stuxnet adalah prototipe senjata dunia maya. “Saya khawatir ini adalah awal dari dunia baru. Tahun 90-an adalah dekade vandalisme cyber, tahun 2000-an adalah dekade penjahat dunia maya. Sekarang kita memasuki dunia yang benar-benar baru, yakni era perang dunia maya dan terorisme dunia maya,” ujar Kaspersky.

 

 

Posted in: apa ya