Timur Tengah tidak pernah tenang

Posted on January 7, 2011

0


Berbagai persoalan yang muncul di Timur Tengah hingga kini tidak pernah terselesaikan. Kondisi alamnya yang panas, apa mungkin bisa menjadikan sifat temperamental yang luar biasa tinggi, sehingga setiap negosiasi tidak pernah bisa berujung dengan damai.

AU Israel Gempur Gaza

Jumat, 7 Januari 2011 09:45 WIB | Mancanegara | Timur Tengah/Afrika | Dibaca 662 kali
AU Israel Gempur Gaza

Gaza City (ANTARA News) – Angkatan Udara Israel (IAF) menggempur tiga tempat di Jalur Gaza yang dikuasai oleh Hamas pada Kamis malam namun tidak menimbulkan korban, kata sejumlah saksi mata dan pejabat keamanan Palestina.

Serangan udara menggempur sasaran di kota Rafah bagian selatan, kota Jabaliya bagian utara, dan juga menyerang tempat penembakan granat berpeluncur roket di distrik Zaitun di timur Gaza City, kata mereka, sebagaimana dikutip dari AFP.

Pihak militer belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai serangan tersebut yang dilaksanakan beberapa jam setelah sebuah peluru mortir ditembakan ke Israel selatan.

Ketegangan di perbatasan Gaza dan Israel telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir karena para pejuang Palestina menembakkan puluhan granat berpeluncur roket serta peluru mortir ke arah Israel selatan yang kemudian dibalas IAF dengan gempuran yang menargetkan tempat latihan, fasilitas persenjataan, dan terowongan penyelundupan.

Pejuang Palestina pada Rabu telah menembakkan tujuh peluru yang kebanyakan merupakan mortir dan melintasi perbatasan tanpa menyebabkan korban atau pun kerusakan, kata militer Israel.

Tentara Israel menembak dua warga Palestina hingga mati selama satu malam yang mereka duga berupaya masuk ke dalam pagar perbatasan menuju Israel.
(ANT/A024)

Tentara Israel Tembak Warga Palestina

Kamis, 6 Januari 2011 06:06 WIB | Mancanegara | Timur Tengah/Afrika | Dibaca 852 kali
Jerusalem (ANTARA News) – Tentara Israel  menembak dua warga Palestina dekat perbatasan Jalur Gaza Rabu. Satu di antaranya kemungkinan tewas dan lainnya luka.

Serdadu Israel mengira dua orang itu berupaya untuk menerobos pagar dan menembak “Kemungkinan seorang warga Palestina tewas dan orang kedua terluka,” kata juru bicara militer Israel seperti dikutip AFP.

Beberapa saksi Pelestina menyatakan dua orang itu terlihat di  dekat perbatasan  ketika tentara Israel melepaskan tembakan.

Tim pertolongan darurat Palestina tidak dapat segera mencapai kedua pria itu karena gelap di wilayah di sepanjang pagar tersebut. Tempat itu dinyatakan sebagai zona terlarang oleh tentara Israel.

Gerilyawan Gaza  menembakkan puluhan roket dan rentetan mortir ke Israel selatan dalam beberapa bulan belakangan ini, yang menimbulkan kerusakan dan luka ringan dalam beberapa kejadian.

Israel secara rutin membalas  tembakan itu dengan serangan udara balasan. Pada Selasa malam, angkatan udara Israel telah menyerang dua sasaran di Gaza sebagai balasan atas serangan roket dini hari yang merusak beberapa rumah kaca di Israel selatan.
(S008/A038)

Israel Tahan Staf Konsulat Inggris

Rabu, 5 Januari 2011 07:46 WIB | Mancanegara | Timur Tengah/Afrika | Dibaca 923 kali
Jerusalem (ANTARA News) – Dinas keamanan dalam negeri Israel Shin Bet, Senin, menahan dua staf lokal konsulat jenderal Inggris di Jerusalem. Kedua orang itu dicurigai membantu rencana HAMAS untuk menembakkan satu rudal ke dalam stadion sepak bola di kota tersebut.

Seperti dilaporkan Xinhua, Mohammed Hamada dan Balal Bachtan, petugas kebersihan di konsulat Inggris di Jerusalem Timur, dituduh menyelundupkan senjata, demikian laporan media setempat, Selasa (4/1).

Para pejabat keamanan mengatakan keduanya “membantu dua  lainnya yang sudah berada di dalam tahanan” –tersangka perencana serangan– untuk mendapat senjata, kata media massa setempat.

Juru bicara Kantor Persemakmuran dan Luar Negeri Inggris mengatakan negaranya sedang mencari “konfirmasi segera” mengenai tuduhan tersebut. “Kami telah diberitahu oleh pihak berwenang Israel bahwa penyelidikan mengenai dua pegawai kami tak berkaitan dengan pekerjaan mereka di konsulat,” kata jurubicara itu.

Satu pengadilan Israel, Ahad (2/1) mendakwa warga Jerusalem Timur Musa Hamada dan Bassem Omeri merencanakan serangan terhadap stadion sepak bola selama satu pertandingan.

Kedua orang tersebut memberitahu penyidik mereka mulai merencanakan serangan selama serangan tiga pekan militer Israel terhadap HAMAS di Jalur Gaza pada awal 2009. Keduanya mengintai dari perbukitan di dekat stadion sebagai persiapan, demikian isi tuntutan terhadap mereka.

Keduanya membatalkan rencana untuk menembakkan rudal anti-tank ke arah penonton yang menyaksikan pertandingan utama, setelah memutuskan itu terlalu beresiko buat mereka.

Harian Inggris The Daily Telgraph, Senin (3/1), dengan mengutip keterangan para pejabat di Kantor Urusan Luar Negeri Inggris melaporkan urusan itu takkan mempengaruhi hubungan diplomatik Inggris-Israel. 

Pejabat tersebut menambahkan mereka akan mengkaji prosedur jaminan keamanan di instalasi Jerusalem.Kedutaan besar Inggris di Tel Aviv tak bersedia memberi komentar.
(C003/A038)

Israel Serang Dua Sasaran di Jalur Gaza

Rabu, 5 Januari 2011 07:37 WIB | Mancanegara | Timur Tengah/Afrika | Dibaca 718 kali
Israel Serang Dua Sasaran di Jalur Gaza

Kota Gaza (ANTARA News) – Pesawat-pesawat perang Israel telah menyerang dua sasaran di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas pada Selasa tanpa menimbulkan korban.

Sasaran itu adalah sebuah terowongan yang menghubungkan Gaza dengan Mesir dekat kora Rafah dan sebuah fasilitas pelatihan bagi sayap bersenjata Hamas, Ezzeddine al-Qassam, kata sumber keamanan Palestina, sebagaimana dikutip dari AFP.

Militer Israel telah mengkonfirmasi kedua serangan udara terhadap pusat-pusat aktivitas gerilyawan itu, ujar seorang jurubicara militer dalam satu pernyataan.

Serangan itu terjadi setelah sebuah roket ditembakkan dari Gaza pada Selasa dini hari yang menghantam Israel selatan, merusak beberapa rumah kaca tapi tidak menimbulkan korban terluka.

Puluhan roket telah ditembakkan dari Gaza yang menghantam Israel selatan dalam beberapa bulan terakhir, menimbukan korban luka-luka dalam beberapa kasus, dan kerusakan terbatas.

Dalam tanggapannya, Israel telah melancarkan serangkaian serangan udara balasan di Gaza dan memperingatkan bahwa negara itu mencadangkan hak untuk membalas dengan lebih kuat jika serangan roket berlanjut.

Pada Desember 2008, Israel melancarkan “Operasi Cast Lead” yang menghancurkan guna membalas tembakan roket gerilyawan Gaza.

Perang itu, yang berakhir dengan gencatan senjata pada 18 Januari 2009, menewaskan 1.400 warga Palestina, sebagian besar warga sipil, dan 13 orang Israel, 10 dari mereka tentara.

Sejak itu, serangan telah menurun secara signifikan, meskipun 230 roket dan sejumlah rentetan mortir telah ditembakkan ke Israel tahun lalu, menurut hitungan militer.
(ANT/A024)

100 Aktivis Pro-Palestina Masuk Gaza

Selasa, 4 Januari 2011 00:44 WIB | Mancanegara | Timur Tengah/Afrika | Dibaca 867 kali
Rafah (ANTARA News) – Sekitar 100 aktivis pro-Palestina, yang menjadi bagian dari konvoi bantuan Asia, menyeberang ke Jalur Gaza dari Mesir pada Senin pagi, demikian dilaporkan wartawan foto AFP.

Kapal bantuan konvoi itu diperkirakan tiba di Gaza pada malam hari, setelah melakukan perjalanan terpisah dari Suriah ke Mesir, kata penyelenggara India, Feroz Mesberola.

Seorang pejabat keamanan Mesir mengatakan kepada AFP, sekitar 20 orang Iran dan beberapa Yordania yang mengambil bagian dalam konvoi itu tidak diberi visa untuk memasuki Mesir.

Konvoi itu, yang bernama Asia 1, meninggalkan India pada awal Desember dan direncanakan tiba di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas pada 27 Desember, peringatan tahun kedua ofensif “Operasi Cast Lead” Israel di wilayah tersebut.

Kapal itu membawa bantuan obat, makanan dan mainan senilai satu juta dolar, serta empat bis dan sepuluh generator listrik bagi rumah-rumah sakit, kata sejumlah pejabat Palestina.

Konvoi itu diselenggerakan oleh Lembaga Bantuan Kemanusiaan Turki (IHH), yang berusaha merangkai upaya gagal sebelumnya untuk mematahkan embargo Israel terhadap Gaza dengan konvoi bantuan angkatan laut pada Mei 2010.

Upaya itu berakhir dalam bencana ketika pasukan komando angkatan laut Israel menyerbu armada kapal bantuan itu, yang menewaskan sembilan orang.

Israel dihujani kecaman dan menjadi sorotan dunia setelah serangan mematikan pada Mei itu.

Laporan yang dikeluarkan Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada 22 September menyebutkan, ada “bukti jelas untuk mendukung penuntutan” terhadap Israel karena pembunuhan dan penyiksaan yang disengaja dalam serangan Mei yang menewaskan sembilan aktivis Turki itu.

Israel menolak laporan itu dengan menyebutnya sebagai bias dan mendukung satu pihak dan menekankan bahwa mereka bertindak sesuai dengan hukum internasional.

Pasukan komando Israel menyerbu kapal-kapal dalam armada bantuan yang menuju Jalur Gaza pada 31 Mei. Sembilan aktivis Turki pro-Palestina tewas dalam serangan di kapal Turki, Mavi Marmara, yang memimpin armada kapal bantuan itu menuju Gaza.

Israel berkilah bahwa penumpang-penumpang kapal itu menyerang pasukan, namun penyelenggara armada kapal itu menyatakan bahwa pasukan Israel mulai melepaskan tembakan begitu mereka mendarat.

Hubungan Israel-Turki terperosok ke tingkat terendah sejak kedua negara itu mencapai kemitraan strategis pada 1990-an akibat insiden tersebut.

Turki memanggil duta besarnya dari Tel Aviv dan membatalkan tiga rencana latihan militer setelah penyerbuan itu. Turki juga dua kali menolak permohonan pesawat militer Israel menggunakan wilayah udaranya.

Setelah serangan itu, Mesir, yang mencapai perdamaian dengan Israel pada 1979, membuka perbatasan Rafah-nya untuk mengizinkan konvoi bantuan memasuki wilayah Gaza — kalangan luas melihatnya sebagai upaya untuk menangkal kecaman-kecaman atas peranan Mesir dalam blokade itu.

Kairo, yang berkoordinasi dengan Israel, hanya mengizinkan penyeberangan terbatas di perbatasannya sejak Hamas menguasai Gaza pada 2007.

Di bawah tekanan-tekanan yang meningkat, Israel kemudian meluncurkan penyelidikan bersama dua pengamat internasional atas serangan itu. Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon mendorong penyelidikan terpisah PBB dengan keikutsertaan Israel dan Turki.

Israel juga mengendurkan blokade terhadap Gaza dengan mengizinkan sebagian besar barang sipil masuk ke wilayah pesisir tersebut.

Jalur Gaza, kawasan pesisir yang padat penduduk, diblokade oleh Israel dan Mesir setelah Hamas berkuasa hampir tiga tahun lalu.

Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni tahun 2007 setelah mengalahkan pasukan Fatah yang setia pada Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari.

Sejak itu wilayah pesisir miskin tersebut dibloklade oleh Israel. Palestina pun menjadi dua wilayah kesatuan terpisah — Jalur Gaza yang dikuasai Hamas dan Tepi Barat yang berada di bawah pemerintahan Abbas.

Uni Eropa, Israel dan AS memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris.(*)

Hamas Keluarkan Izin Senjata Api Sendiri

Kamis, 6 Januari 2011 15:42 WIB | Mancanegara | Timur Tengah/Afrika | Dibaca 835 kali
Hamas Keluarkan Izin Senjata Api Sendiri
(istimewa/ANTARA)

Kota Gaza, Wilayah Palestina (ANTARA News) – Pemerintah Hamas di Gaza mengatakan, Rabu, bahwa mereka akan mengeluarkan izin senjata api sendiri untuk pertama kalinya sejak gerakan Islam itu menguasai wilayah kantung pantai tersebut.

“Polisi telah memutuskan untuk mengesahkan masalah izin senjata untuk perorangan atau orang yang membutuhkan senjata untuk bela-diri, seperti pedagang emas, pedagang valuta asing, pengusaha dan pemilik pabrik itu,” juru bicara kepolisian Hamas Amin al-Batniji mengatakan dalam satu pernyataan.

Ia menjelaskan izin itu akan membolehkan penerimanya untuk memiliki tipe-tipe tertentu pistol, meskipun tanpa peredam, dan dalam beberapa kasus akan mengizinkan (senapan serbu) M16, Kalashnikov atau senapan berburu, jika polisi menilai senjata itu dibutuhkan.

Tapi ia menambahkan bahwa pengaturan baru itu tidak akan mempengaruhi senjata yang dimiliki oleh para pejuang “perlawanan”.

“Senjata perlawanan adalah senjata sah yang dilindungi oleh undang-undang dan tidak tunduk pada atau dipengaruhi oleh keputusan ini,” tegas Batniji seperti dilaporkan AFP.

Izin hanya akan dkeluarkan untuk orang-orang berusia di atas 21 tahun dengan tanpa catatan penangkapan kriminal, kata pernyataannya.

Hamas telah mempertahankan monopoli ketatnya terhadap peredaran senjata sejak mengambil kekuasaan di Jalur Gaza pada Juni 2007 setelah mengusir para anggota gerakan Fatah saingannya dari wilayah pesisir itu.
(S008/B010)

Ditangkap karena Dituduh Hendak Menyerang Jerusalem

Senin, 3 Januari 2011 06:51 WIB | Mancanegara | Timur Tengah/Afrika | Dibaca 628 kali
Jerusalem (ANTARA News) – Polisi dan agen dinas keamanan Israel Shin Bet telah menangkap lima pria Arab yang diduga terlibat dalam rencana untuk menembakkan roket ke sebuah stadion sepakbola di Jerusalem.

Pernyataan Shin Bet mengatakan bahwa dua dari orang-orang Arab itu, Mussa Hamada dan Bassem Omari, telah beberapa tahun aktif dalam gerakan Islam HAMAS dan Ikhwanul Muslimin di Jerusalem.

Mereka, kata badan itu, menerima dukungan dari Ikhwanul Muslimin di Arab Saudi.

Kedua orang itu pada Ahad didakwa secara resmi menjadi anggota dan mendukung sebuah “organisasi teror”, melakukan pelanggaran (kepemilikan) senjata api dan berkonspirasi untuk melakukan kejahatan, kata pernyataan itu.

Tiga pria yang lain telah didakwa melakukan perdagangan senjata, badan itu menambahkan.

Shin Bet mengatakan Omari, seorang warga lingkungan permukiman Beit Safafa di Jerusalem Timur, adalah warga Israel.

Hamada dan ketiga rekannya digambarkan sebagai warga Jerusalem Timur, istilah yang digunakan untuk melukiskan warga Palestina yang diizinkan untuk tinggal di Jerusalem tapi tidak memiliki kewarganegaraan Israel.

Pernyataan yang dikeluarkan Ahad itu adalah berita pertama mengenai penangkapan-penangkapan tersebut, yang badan itu katakan dilakukan November lalu.

Shin Bet mengatakan para tersangka itu mulai merencanakan serangan setelah serangan “Operasi Cast Lead” Desember 2008-Januari 2009 Israel di Jalur Gaza, dan merencanakan untuk menyerang stadion Teddy yang memiliki kapasitas 21.000 penonton pada saat pertandingan sepakbola.

“Dari interogasi Shin Bet terhadap mereka yang terjadi bahwa setelah Operasi Cast Lead keduanya mulai merencanakan operasi teror di Jerusalem, sebagai bagian dari mana mereka telah menguji kemungkinan tembakan rudal di Stadion Teddy sementara pertandingan berjalan,” kata pernyataan itu.

“Keduanya ke punggung bukit yang memandang ke stadion itu dalam upaya untuk memilih tempat terbaik bagi serangan dan melakukan mata-mata di tempat itu, meskipun rencana tersebut belum diterjemahkan ke dalam tindakan,” mereka menambahkan.

Pernyataan itu mengatakan orang-orang tersebut telah membeli beberapa pistul dan berusaha untuk memperoleh sebuah senapan dan bahan peledak.

Mereka menambahkan bahwa dalam dua tahun terakhir Hamada telah melakukan beberapa kunjungan ke Arab Saudi, tempat ia bertemu dengan seorang anggota lokal Ikhwanul Muslimin.

“Dalam satu dari pertemuan-pertemuan itu, wakil Saudi tersebut telah memberi Mussa Hamada uang untuk pembelian senjata dan ia minta sebagai imbalan agar ia mengumpulkan informasi mengenai Jerusalem,” kata pernyataan itu.

Lebih dari 270.000 warga Arab tnggal di Jerusalem Timur, yang diduduki oleh Israel dalam perang Timur Tengah 1967 dan dicaplok tak lama kemudian, dalam tindakan yang tidak diakui oleh masyarakat internasional.

Sangat sedikit dari mereka yang mempertahankan kewarganegaraan Israel meskipun warga Palestina kota itu menikmati status khusus yang memberi mereka gerakan bebas di seluruh Israel, tidak seperti warga Palestina di Tepi Barat.(*)

Hamas Protes Serangan Israel

Kamis, 23 Desember 2010 02:11 WIB | Mancanegara | Timur Tengah/Afrika | Dibaca 1162 kali
Hamas Protes Serangan Israel
(ANTARA News/istimewa)

Kota Gaza (ANTARA News) – Kelompok pejuang Hamas yang menguasai Jalur Gaza menyatakan pada Rabu bahwa mereka akan mengajukan protes ke PBB atas serangan udara Israel ke wilayah Palestina.

Langkah Hamas itu diumumkan sehari setelah Israel mengadu ke Dewan Keamanan PBB mengenai penembakan roket ke wilayahnya dari Jalur Gaza.

Juru bicara pemerintah Hamas Taher al-Nunu mengatakan, pihaknya akan mengajukan “keluhan ke Majelis Umum dan Dewan Hak Asasi Manusia dan semua badan terkait mengenai… ancaman agresi lebih lanjut terhadap bangsa Palestina”.

Kelompok-kelompok pejuang di Gaza menembakkan sekitar 20 roket dan mortir ke Israel sejak Minggu dan Israel membalas dengan serangan-serangan udara terhadap apa yang disebutnya terowongan, tempat pelatihan militan dan fasilitas senjata di Gaza.

“Kami akan mengadakan kontak dengan sejumlah negara untuk menjelaskan tindakan agresif pasukan pendudukan dan telah menghubungi para pejabat Mesir untuk membahas ancaman-ancaman ini,” kata Nunu kepada wartawan.

Utusan PBB untuk Timur Tengah hari Rabu mengeluarkan sebuah pernyataan yang “mengecam penembakan mortir dan roket membabi-buta oleh kelompok militan di Gaza ke Israel, yang meningkat dalam beberapa hari ini”.

“Serangan-serangan ini merupakan pelanggaran jelas atas hukum kemanusiaan internasional dan membahayakan warga sipil di Israel,” kata Robert Serry.

Utusan PBB itu juga mendesak Israel mengukur aksi militernya agar tidak melukai penduduk sipil.

Israel meluncurkan perang 22 hari di Jalur Gaza dua tahun lalu dengan tujuan menghentikan serangan-serangan roket dan mortir yang hampir setiap hari ke negara Yahudi tersebut.

Jumlah serangan dari wilayah kantung Palestina itu mengalami penurunan dramatis sejak perang itu, meski sepanjang tahun ini sekitar 200 roket ditembakkan ke Israel, kata militer.

Jalur Gaza, kawasan pesisir yang padat penduduk, diblokade oleh Israel dan Mesir setelah Hamas berkuasa hampir tiga tahun lalu.

Israel menggempur habis-habisan Jalur Gaza hampir dua tahun lalu dengan dalih untuk menghentikan penembakan roket yang hampir setiap hari ke wilayah negara Yahudi tersebut.

Perang di dan sekitar Gaza meletus lagi setelah gencatan senjata enam bulan berakhir pada 19 Desember 2008.

Israel membalas penembakan roket pejuang Palestina ke negara Yahudi tersebut dengan melancarkan gempuran udara besar-besaran dan serangan darat ke Gaza dalam perang tidak sebanding yang mendapat kecaman dan kutukan dari berbagai penjuru dunia.

Operasi “Cast Lead” Israel itu, yang menewaskan lebih dari 1.400 orang Palestina yang mencakup ratusan warga sipil dan menghancurkan sejumlah besar daerah di jalur pesisir tersebut, diklaim bertujuan mengakhiri penembakan roket dari Gaza. Tiga-belas warga Israel, sepuluh dari mereka prajurit, tewas selama perang itu.

Proses perdamaian Timur Tengah macet sejak konflik itu, dan Jalur Gaza yang dikuasai Hamas masih tetap diblokade oleh Israel.

Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni tahun 2007 setelah mengalahkan pasukan Fatah yang setia pada Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari.

Sejak itu wilayah pesisir miskin tersebut dibloklade oleh Israel. Palestina pun menjadi dua wilayah kesatuan terpisah — Jalur Gaza yang dikuasai Hamas dan Tepi Barat yang berada di bawah pemerintahan Abbas.

Uni Eropa, Israel dan AS memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris, demikian AFP.

 

 

Posted in: berita 4