Au ah..gelap.. anak Indonesia 80 Persen Anak Indonesia Berpikiran Negatif

Posted on January 8, 2011

0


Sungguh survei yang sangat mengejutkan hasil buruk survei bahwa 80 persen anak Indonesia berpikiran negatif. Jelas kesehatan kejiwaan yang buruk jika diamati berasal dari pola pikir orang dewasa yang negatif pula. Hal ini tentu menyadarkan kita bahwa kesulitan ekonomi atau beban hidup orang tua atau pasangan muda menyebabkan sikap-sikap negatif muncul dan pelan-pelan tanpa menyadari ditiru atau mungkin kondisi dan pengaruh lingkungan yang tidak sehat secara kejiwaan berpengaruh pula. Tentu kita mesti menyadari bahwa merekalah yang kelak akan mengisi dinamika pembangunan Indonesia ke depan. Masa depan bangsa Indonesia tergantung mereka. Please dech….

80 Persen Anak Indonesia Berpikiran Negatif

SABTU, 08 JANUARI 2011 | 07:01 WIB

Para anak pengungsi letusan gunung Merapi bermain-main di barak penampungan Stadion Maguwoharjo, Sleman. TEMPO/Arif Wibowo

 

TEMPO InteraktifJakarta – Hasil survei Pusat Intelegensia Kesehatan Kementerian Kesehatan menemukan hasil mengejutkan bahwa mayoritas anak Indonesia berpikiran negatif yang dikategorikan sebagai pola pikir tidak sehat.

“80 persen dari 3.000 responden menggambarkan cara berpikir negatif atau mental block. Ini adalah bentuk kegagalan pertumbuhan otak dari kecil,” kata Kepala Sub Bidang Pemeliharaan dan Peningkatan Kemampuan Intelegensia Anak Kemenkes Gunawan Bam di Jakarta, Jumat 7 Januari 2011.

Pusat Intelegensia Kesehatan melakukan survei terhadap anak sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA untuk mengetahui kondisi perkembangan otak anak Indonesia.

Kondisi pikiran yang serba negatif itu disebut Gunawan sebagai salah satu akibat dari “keracunan otak” akibat ulah orang tuanya. “Kondisi yang tidak kondusif, orang tua pemarah, bisa berpengaruh langsung ke kondisi kesehatan otak anak,” katanya.

Ia mencontohkan jika orang tua berbohong atau marah kepada anak, maka hal itu dapat menyebabkan otak anak menjadi menyusut dan kondisi semacam itu jika diteruskan akan mencegah terjadinya pertumbuhan otak normal. “Ini adalah bentuk kegagalan dari kecil. Sama seperti anak tidak matang dalam merasa, meraba, melihat,” ujar Gunawan.

Namun ia mengatakan hal itu bukannya tidak dapat diperbaiki, yaitu beberapa perbaikan senso-motorik dapat dilakukan untuk kembali meningkatkan kesehatan dan perkembangan otak.

Kemenkes juga akan melakukan brain assessment kepada pegawai pemerintahan bekerjasama dengan Kementerian Aparatur Negara.  “Mudah-mudahan tahun ini akan kita mulai. Paling tidak akan kita awali tahun ini,” kata Kepala Pusat Intelegensia Kesehatan Kemenkes dr Kemas M Akib Aman, SpR, MARS.

Tiga instrumen yang diamati dalam brain assessment itu adalah neuro-behaviour, psikologi dan psikiatri.

Metode yang dikembangkan PIK ini telah divalidasi pada sejumlah responden di sembilan provinsi yaitu Sumatera Barat, Aceh, Yogyakarta, Jawa Barat, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Maluku dan NTB.

WDA | ANT

Mungkin semestinya sekarang bagaimana menyehatkan pikiran orang tua yang menjadi tidak sehat karena kesulitan ekonomi. Jangan lupa kesejahteraan ekonomi juga berpengaruh terhadap kesehatan kejiwaan.

 

Posted in: anak dan remaja