Hidup di lingkungan keras, Tevez pun mudah emosional dan mudah ambil keputusan

Posted on January 11, 2011

0


Saya rasa kehidupan Tevez baik masa kecil dan masa remaja yang penuh dengan kekerasan, membuat Tevez terbentuk emosional sehingga kadang saat ambil keputusan terkadang terburu-buru.  Sehingga wajar jika kemudian karirnya jatuh bangun seiring perubahan emosinya yang mudah berubah atau emosional.

Jatuh Bangun Karier Tevez
Senin, 13 Desember 2010 | 06:09 WIB

AFP

Carlos Tevez

MANCHESTER, KOMPAS.com – Carlos Tevez membuat statement terbuka yang meminta Manchester City segera menjualnya. Pernyataan ini bagaikan petir di siang bolong untuk “The Citizens”. Bagaimana tidak, Tevez merupakan kapten sekaligus pemain terbaik mereka. Ada apa sebenarnya dengan Tevez?

Selama ini, pikiran Tevez memang kerap berubah-ubah. Dalam beberapa kesempatan ia menyatakan bahagia bermain bersama City, namun tak jarang juga ia menyebut dirinya mau mudik ke Argentina. 

Tevez juga sempat mempertanyakan metode Roberto Mancini sebagai pelatih, namun sebulan kemudian ia menyebut kalau dirinya bahagia bersama Mancini.

Ada apa sebenarnya dengan Tevez? Kenapa pikirannya terlalu cepat berubah? Media-media Inggris meyakini Tevez sebenarnya menderita homesick. Ia kangen dengan keluarga dan anak-anaknya yang berada di Argentina. 

Karier Tevez memang bagus di Inggris, tapi kehidupan pribadinya tidak. Perbedaan budaya membuat Tevez tak bisa hidup normal layaknya saat di Argentina. Tevez bahkan pernah beberapa kali menemui psikiater karena mengalami depresi berat.

Sejak awal kariernya, Tevez memang sering membuat keputusan yang mengejutkan. Berikut fakta-fakta unik tentang Tevez sekaligus kontroversi yang dibuatnya.

1984 – Tevez lahir dii Buenos Aires tanggan 5 Februari.

2001 – Melakukan debut pertama bersama Boca Juniors.

2003 – Sudah memenangkan dua gelar Liga Argentina, dua gelar Piala Libertadores, dan Piala Dunia Antarklub bersama Boca.

2004 – Melakukan debut bersama tim senior Argentina di kualifikasi Piala Dunia melawan Ekuador.

2004 – Bergabung bersama klub Brasil, Corinthias, dengan transfer U$D 18 juta (sekitar Rp 162 miliar). Ini merupakan rekor transfer terbesar antar sesama klub Amerika Selatan. Kesepakatan ini dibiayai oleh Media Sports Investments, kelompok investor yang dipimpin oleh Kia Joorabchian, yang juga memiliki saham mayoritas di Corinthias.

2005 – Membantu Corinthias juara Liga Brasil dan dinobatkan sebagai pemain terbaik Liga Brasil.

2006 – Agustus: Membuat kejutan dengan pindah ke Inggris untuk bergabung bersama West Ham United.

13 Mei: Mencetak gol kemenangan 1-0 melawan Manchester United yang memastikan West Ham terhindar dari degradasi.

9 Juli – Sir Alex Ferguson menegaskan kesepakatan untuk transfer Tevez harus segera diselesaikan, meski ada kekhawatiran kalau Premier League bakal menundanya.

10 Agustus: Transfer ke Old Trafford dikonfirmasi.

2008 – Memenangkan Premier League untuk pertama kalinya bersama United.

21 Mei – Mencetak gol dalam adu penalti melawan Chelsea di final Liga Champions.

2009 – Memenangkan Premier League keduanya usai menahan imbang Arsenal 0-0

17 Mei – Menuduh MU tak menghormati dirinya dan langsung menyatakan keinginannya untuk meninggalkan Old Trafford.

27 Mei – Masuk sebagai pemain pengganti melawan Barcelona di final Liga Champions. Ini merupakan penampilan terakhirnya bersama MU.

13 Jul – Manchester City mengkonfirmasi mereka telah menyetujui kesepakatan transfer dengan Tevez.

2010 – 21 Januari:
Mengibarkan bendera permusuhan dengan Gary Neville dengan menuduh pemain MU itu sebagai “idiot”.

13 April: Mempertanyakan metode latihan Mancini dalam sebuah wawancara.

30 April: Mancini secara terbuka mengatakan Tevez bisa meninggalkan klub di musim panas jika tidak senang di Eastlands.

5 Mei: Tevez mengklaim dirinya akan senang untuk tinggal di klub bersama Mancini sebagai manajer.

6 November: Menolak mengaku telah berkonsultasi dengan seorang psikiater dalam upaya mengatasi depresinya.

7 Desember: Mengklaim dia bahagia di City meski sangat rindu dengan anak-anaknya.

11 Desember:
Menyerahkan permintaan tertulis kepada City untuk segera ditransfer.

12 Desember: City menegaskan telah menolak permintaan transfer tertulis dari Tevez. (SKY)

 

Namun kita aku bahwa rata-rata pemain depan itu memang lebih agresif, sehingga lebih emosional atau mungkin rata-rata pemain bola juga demikian di berbagai lini. mungkin perlu penelitian agar bisa tepat dikategorikan. Terus terang, kan emang manusia terlahir dengan emosi.

Advertisements
Posted in: sepakbola 3