Kelas menengah Indonesia tidak kenal krisis

Posted on January 11, 2011

0


Itu yang terbaca dalam benak saya. Meski kelas bawah banyak mengeluh tentang krisis yang menimpa Indonesa, namun kelas menengah tetap bergerak tanpa tertatih-tatih terbukti daya belinya masih tinggi.

Kelas Menengah Bangkit, Produk Mewah Laris
Produsen sejumlah negara incar kelas menengah Indonesia. Barang mewah laris manis di sini.
SELASA, 11 JANUARI 2011, 20:45 WIB

Heri Susanto, Antique

Belanja di Mal Grand Indonesia (www.luxuryinsider.com)

VIVAnews – Kelas menengah Indonesia tumbuh pesat. Terutama sepuluh tahun belakangan. Jumlah kelompok ini terus membengkak sebab pertumbuhan ekonomi terus membaik. Barang-barang yang selama ini jadi kebutuhan sekunder  jadi laris manis.

“Bukti dari tumbuhnya kelas menengah ini adalah melonjaknya penjualan mobil, motor, ponsel, produk elektronik, produk retail dan properti,” ujar Kepala Lembaga Penyelidik Ekonomi Masyarakat UI, Chatib Basri kepadaVIVAnews di Jakarta, Selasa, 11 Januari 2011.

Seiring dengan pertumbuhan kelas menengah itu, ekonomi masyarakat Indonesia secara umum juga kian membaik. Pendapatan per kapita Indonesia  tahun lalu sudah menyentuh level US$3000 atau Rp27 juta.

Pertumbuhan kelas menengah itu secara umum pernah dilansir oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) beberapa waktu lalu. Dalam laporan yang berjudul “The Rise of Asia’s Middle Class 2010“,disebutkan bahwa jumlah kelas menengah di Asia.

Dari survei yang dilakukan, ADB menemukan bahwa orang Asia membelanjakan lebih dari US$4,3 triliun pada  2008. Jumlahnya uang yang dibelanjakan itu akan terus membengkak. Dan pada tahun 2030 diperkirakan mencapai US$32 triliun . Jumlah itu mencakup 43% dari total konsumsi global.

Di Indonesia, jumlah kelas menengah itu tumbuh pesat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Pada 1999 kelompok kelas menengah baru 25 persen atau 45 juta jiwa, namun satu dekade kemudian melonjak jadi 42,7 persen atau 93 juta jiwa. Sedangkan jumlah kelompok miskin berkurang dari 171 juta jiwa menjadi 123 juta jiwa.

Data itu direkam dari survei sosial ekonomi nasional  yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik pada 1999 dan 2009 . Cara  membedakan kelompok miskin dan kelas menengah dengan memilah jumlah pengeluaran individu per hari.

Yang dimaksud kelompok miskin adalah penduduk dengan pengeluaran di bawah US$2 per hari.  Sedangkan, pengeluaran US$2 ke atas atas tergolong kelas menengah yang dikelompokkan dalam sejumlah kategori.

Kategorinya sebagai berikut. Kelas menengah bawah adalah mereka yang pengeluarannya sejumlah US$2-4 per hari, menengah-tengah US$4-10, menengah-atas US$10-20, dan kelompok berkecukupan dengan pengeluaran US$20 per hari.

Berdasarkan data itu, jika diperinci lebih jauh, selama sepuluh tahun, kelompok menengah-bawah telah naik dua kali lipat dari 37 juta menjadi 69 juta jiwa. Kelompok menengah-tengah meningkat hampir tiga kali lipat ,dari 7,5 juta menjadi 22 juta jiwa.

Kelompok menengah-atas naik lima kali lipat dari 0,4 juta menjadi 2,23 juta jiwa. Sedangkan, kelompok berkecukupan naik 0,1 juta menjadi 0,37 juta jiwa.

Barang Mewah Laris Manis
Menurut ekonom Faisal Basri, lonjakan kelas menengah Indonesia bisa diidentifikasi dari pola konsumsi mereka. Misalnya saja, masyarakat kelas menengah bawah sudah mampu mencicil sepeda motor. Masyarakat kelas menengah-tengah memadati mal-mal dan membeli mobil cc kecil. Sedangkan, masyarakat kelas menengah-atas mampu berobat dan menyekolahkan anak ke luar negeri, serta membeli mobil jenis sedan.

Di sektor otomotif misalnya. Menurut Chatib Basri, penjualan motor dan mobil terus meningkat dari tahun ke tahun. Baru-baru ini, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri, Suryo Sulisto mengungkapkan penjualan mobil mencapai 700 ribu unit dan sepeda motor 7 juta unit pada 2010. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor memperkirakan penjualan mobil akan terus meningkat hingga menembus 1,25 juta unit pada 2015.

Di sektor properti, menurut pengamat properti, Muhammad Nawir, penjualan apartemen di kota-kota besar dan perumahan di pinggiran kota juga meningkat seiring dengan pertumbuhan kelas menengah. Apartemen yang banyak diburu kalangan menengah adalah dengan kisaran harga Rp300-700 juta.

Di bisnis retail, kata Chatib, pertumbuhan kelas menengah bisa dilihat dari peningkatan penjualan produk-produk retail, seperti pakaian, elektronik, ponsel dan lainnya. Mal-mal dan swalayan seperti Matahari, pusat penjualan ponsel ramai diserbu pembeli. “Bagi orang miskin, yang utama adalah membeli beras, mereka tidak berpikir untuk membeli ponsel.”

Demikian halnya dengan industri restoran, seperti cafe dan fastfood juga terus tumbuh dan berkembang di berbagai kota besar. “Sebab, kelompok mapan juga gemar makan di luar rumah,” katanya.

Kenaikan kelas menengah, menurut Faisal, juga ditandai dengan pergeseran konsumsi makanan turun dari 63 persen (1999) ke 51 persen pada 2009. Sedangkan, konsumsi nonmakanan meningkat dari 37 persen pada 1999 menjadi 49 persen pada 2009. Di kelompok konsumsi makanan, padi-padian dan umbi-umbian turun dari 18 persen menjadi 9 persen. Sebaliknya, konsumsi makanan olahan naik dari 10 persen menjadi 13 persen.

Tren peningkatan penjualan produk-produk sekunder yang juga tergolong “mewah” ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara lain, juga demikian. Hasil survei ADB menunjukkan peningkatan kelompok menengah itu ditandai dengan larisnya penjualan lemari es, TV, ponsel dan mobil di sejumlah negara Asia dalam beberapa tahun ini.

Sebut saja misalnya di China dan India, penjualan ponsel dan mobil melonjak pesat dalam satu dekade ini. Di China, pada tahun 2000, jumlah mobil yang terjual hanya 2 juta unit. Pada 2009, penjualan mobil mencapai 12 juta unit. “China dan India kini menjadi pasar ponsel terbesar di dunia,” kata ADB.

Melihat fenomena besar ini, Chatib dan Faisal mengingatkan bahwa sejumlah pelaku bisnis baik dari dalam dan luar negeri telah mencermati sejak beberapa tahun lalu. Mereka juga sudah mempersiapkan strategi atas pembengkakan kelas menengah Indonesia tersebut. Produsen manca negara malah sudah banyak mengincar Indonesia sebagai pasar produk mereka. “Sebab, kelompok ini haus untuk mengkonsumsi apa saja.”

Bagi bangsa Indonesia, Faisal mengingatkan itu berpulang kepada kita sendiri. “Mau puas sekedar menjadi bangsa konsumen atau menggerakkan sektor produksi lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan mereka.”

=============

Kelas Menengah RI Buru Apartemen Rp700 Juta
Lonjakan kelas menengah Indonesia mendongkrak permintaan terhadap properti.
SELASA, 11 JANUARI 2011, 10:11 WIB

Antique

Beli apartemen (doc Corbis)

VIVAnews – Kelas menengah Indonesia mengalami pembengkakan dalam satu dekade terakhir, seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut, disinyalir turut mendorong meningkatnya permintaan akan hunian, khususnya properti apartemen.

Menurut Muhammad Nawir, pengamat properti, kelas menengah memilih menyasar apartemen, karena mereka mencari hunian yang dekat dengan tempat kerja mereka.

“Kalau yang sesuai kantong mereka, misalnya hunian horizontal (landed house) banyak terdapat di luar kota atau di pinggiran Jakarta,” tuturnya kepada VIVAnews.com di Jakarta, Selasa 11 Januari 2011.

Dia mengakui, saat ini, apartemen memang menjadi tren bagi kalangan menengah bawah, menengah, dan menengah atas yang terus meningkat jumlahnya tersebut. “Itu terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Sedangkan pertumbuhannya mencapai 20-30 persen,” kata Nawir.

Sedangkan untuk kisaran harga, Nawir mengaku, kelas menengah itu banyak memburu apartemen-apartemen di kisaran harga Rp300-700 juta. “Nah, kalau landed house di harga itu pastinya jauh dari pusat kota,” kata dia.

Sementara itu, Cushman & Wakefield memperkirakan untuk segmen kelas menengah masih mendominasi pasokan apartemen atau kondominium di tahun ini, yakni sebesar 62,3 persen. Sedangkan untuk segmen menengah-atas dan atas tercatat masing-masing sebesar 23,3 persen dan 14,4 persen.

Seperti diketahui, menurut Ekonom Faisal Basri, kelompok menengah-bawah meningkat dari 37 juta menjadi 69 juta jiwa. Kelompok menengah-tengah meningkat hampir tiga kali lipat dari 7,5 juta menjadi 22 juta jiwa. Kelompok menengah-atas malah meningkat lebih dari lima kali lipat dari 0,4 juta jiwa menjadi 2,23 juta jiwa. Sedangkan, kelompok berkecukupan atau harta melimpah naik 0,1 juta jiwa menjadi 0,37 juta jiwa. (hs)

Posted in: berita 4