Internet di Indonesia tumbuh 14 kali lipat

Posted on January 13, 2011

0


Terjunnya penyedia layanan seluler mempercepat tumbuhnya dinamika internet di Indonesia. Tingkat persaingan yang tinggi ini mendorong persaingan tarif  akses kian murahnya tarif akses yang dikenakan dan ini berdampak dengan kian membludaknya para pengguna internet.

Internet, Pendongkrak Pertumbuhan Ekonomi
Dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan pengguna internet Indonesia mencapai 1.400 persen.
MINGGU, 9 JANUARI 2011, 00:37 WIB
Ilustrasi grafik ekspansi pasar teknologi (Ilustrasi)
VIVAnews – Industri teknologi dunia telah berkembang signifikan. Di Asia, akselerasi pertumbuhan layanan jasa dan pelanggan menunjukkan tren yang berkesinambungan.

Internet sebagai salah satu jenis layanan tekonologi informasi juga membukukan kinerja perkembangan yang tinggi. Di beberapa negara, selama kurun waktu satu dekade terakhir, pertumbuhan bahkan tercatat melebihi 1.000 persen.

Perkembangan layanan koneksi dunia maya itu tentu akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan pendapatan dan perkembangan bisnis para pelaku usahanya di masa yang akan datang.

Jumlah Pengguna Internet Terus Meningkat
Secara total, jumlah pengguna layanan Internet di wilayah Asia mencapai 825,094 juta pengguna atau sekitar 41,95 persen dari total pengguna internet di seluruh dunia yang mencapai 1.966 juta pengguna.

Dari total pengguna di wilayah Asia, China membukukan pengguna internet terbesar yakni 420 juta pengguna. Hingga pertengahan tahun lalu, Jepang menempati urutan kedua dengan 99,14 juta pengguna. India memiliki 81 juta pengguna internet, sedangkan Korea punya 39,44 juta pengguna.

Indonesia yang memiliki sekitar 242 juta penduduk menempati urutan kelima terbesar di seluruh Asia, dengan pengguna internet sekitar 30 juta orang. Negara lain seperti Filipina, Malaysia dan Taiwan masing masing memiliki sekitar 29,70 juta, 16,90 juta dan 16,13 juta pengguna internet.

Bila melihat dari sisi pertumbuhan, Indonesia juga masuk dalam kategori lima terbesar dengan membukukan pertumbuhan sekitar 1.400 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Internet Akan Terus Tumbuh
Hingga beberapa tahun ke depan, kami melihat potensi perkembangan layanan jasa internet sebagai bagian dari industri telekomunikasi masih akan mencatat pertumbuhan yang signifikan.

Rendahnya angka penetrasi internet Indonesia yang hanya sebesar 12,30 persen, dibandingkan dengan negara sekitar seperti Singapura (77,80 persen), Malaysia (64,60 persen), Filipina (29,70 persen), dan negara maju lainnya seperti Jepang (78,20 persen), China (31,60 persen), dan Korea (81,12 persen), tentu berpotensi memberikan ruang gerak pertumbuhan bagi para pelaku usahanya.

Beberapa operator telekomunikasi yang ikut menawarkan jasa koneksi internet juga berpotensi mendapatkan benefit dari kondisi tersebut.

Ekspansi usaha yang dilakukan untuk mengembangkan jasa layanan koneksi internet tentu bisa memberikan peningkatan kontribusi total pendapatan konsolidasian perusahaan serta berpotensi menjadi stabilator terhadap penurunan pendapatan maupun stagnannya pertumbuhan pendapatan yang dapat terjadi pada lini bisnis telekomunikasi lainnya.

Kami menilai, perkembangan industri telekomunikasi di Indonesia akan terus positif.

Akhmad Nurcahyadi adalah analis dari BNI Securities

=================
Tren Perilaku Pengguna Internet
Transaksi online membuat informasi pribadi bisa disalahgunakan oleh para penjahat cyber.
RABU, 5 JANUARI 2011, 03:13 WIB
Effendy Ibrahim, Norton Internet Safety Advocate, Symantec (Dok. Symantec)
VIVAnews

Seperti semua aspek dalam kehidupan kita, internet juga telah mengubah cara kita berbelanja. Toko online selalu buka dan pengguna tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar bensin, parkir dan waktu. Anda bisa memperoleh nyaris semua yang Anda inginkan dari hampir segala tempat di dunia.

Dalam penelitian yang dilakukan lembaga riset Nielsen bertajuk Global Online Survey pada Maret 2010, terungkap bahwa hampir 70 persen dari pengguna online Indonesia yang berpartisipasi mengatakan bahwa mereka bermaksud membeli secara online pada semester berikutnya. 

Akan tetapi, transaksi online membuat sebagian dari informasi pribadi dan keuangan kita yang paling sensitif bisa disalahgunakan oleh para penjahat cyber. 

Sebagai bukti, dari laporan kejahatan cyber terbaru Norton bertajuk “The Human Impact” yang mengungkap maraknya kejahatan cyber di Indonesia, ternyata 86 persen dari pengguna internet tanah air pernah menjadi korban kejahatan cyber. Kejahatan tersebut di antaranya adalah virus komputer, penipuan online (scam) dan phishing.

Phishing dan pharming adalah contoh bagaimana para penjahat cyber menggunakan email atau halaman-halaman web palsu untuk menipu orang agar mengungkap nomor rekening dan password mereka. Begitu mendapatkan informasi tersebut, mereka hanya butuh beberapa klik untuk merampok akun atau menyalahgunakan identitas korban. 

Resiko online terbesar adalah penggunaan keylogger yang bisa dipasang di sistem tanpa sepengetahuan korban untuk merekam apa pun yang ia ketikkan – mulai dari user name, password, atau nomor rekening – dan  mengirimkan infomasi tersebut ke para penjahat cyber. 

Jadi pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita ajukan sebelum berbelanja secara online adalah: Apakah password dan nomor kartu kredit saya aman ketika saya mengirimkannya ke dunia cyber? Bisakah software sekuriti saya mendeteksi dan membuang crimeware? Bagaimana saya bisa membedakan antara email dan situs web yang palsu dengan yang resmi? 

Berikut adalah beberapa panduan yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dan menyamankan serta mengamankan pengguna saat belanja secara online. 

Hati-hati dengan tempat Anda belanja
Banyak konsumen mengambil langkah pencegahan dengan belanja di tempat-tempat online yang populer, dengan keyakinan bahwa mereka aman. Namun para penjahat cyber justru mengeksploitasikan kepercayaan tersebut dan membidik situs-situs belanja yang trafiknya tinggi.

Menggunakan perangkat yang mampu men-scan malware dan memberitahu bahwa sebuah situs web itu beresiko, menjadi semakin penting. Di Internet tersedia perangkat online gratis yang dapat memberitahukan situs-situs web yang tidak aman dan “scam” yang ada di hasil pencarian serta otomatis melakukan pemblokiran.

Periksa dan review si penjual
Toko online harus punya alamat fisik, nomor telepon layanan pelanggan, dan kebijakan pengembalian barang yang dapat diverifikasi jika Anda menerima barang yang cacat. 

Jangan menjadi korban phishing atau pharming
Para scammer memanfaatkan phishing untuk membuat korban menyerahkan informasi pribadi mereka melalui kiriman email yang meminta korban memverifikasikan informasi kartu kredit atau meng-update password. Bisnis yang resmi tidak akan meminta Anda melakukan hal-hal ini via e-mail.

Pharming lebih sukar lagi dideteksi. Pasalnya, metode ini menggunakan halaman web palsu yang bertujuan untuk mengelabui konsumen agar menyerahkan informasi. 

Belanjalah di situs-situs web yang menggunakan secure SSL
Beberapa situs web sudah memiliki status “certified secure” dan memamerkan sebuah sertifikat pada homepage atau meja kasirnya. Situs-situs web ini menawarkan pengamanan SSL (Secure Sockets Layer). 

Jika e-merchant Anda tidak menawarkan sekuriti SSL, sebaiknya belanja saja di tempat lain.

Pakai kartu kredit, bukan kartu debit
Salah satu kekhawatiran yang paling banyak disuarakan tentang belanja online adalah pemalsuan kartu kredit. Ironisnya, membayar dengan kartu kredit adalah cara teraman untuk belanja di Web. Pasalnya, enkripsi dan teknologi validasi telah membuat nyaris semua transaksi aman.

Selain itu, kartu kredit biasanya menawarkan perlindungan terhadap pemalsuan, kehilangan barang saat dikirim, pecahnya barang yang dibeli, dan masalah-masalah lain. Sebaliknya, kartu debit adalah jalur langsung ke rekening bank.

Terakhir, seperti halnya Anda mengamankan file-file fisik dan uang di rumah, Anda juga harus mengamankan cara digital Anda melakukan perdagangan. Solusi-solusi sekuriti yang lengkap, resmi dan up-to-date tidak hanya meniadakan hal-hal yang tidak pasti dari transaksi online, tetapi juga membuat kegiatan belanja online menjadi lebih aman.

*Effendy Ibrahim adalah Norton Internet Safety Advocate & Consumer Business Head, Asia, Symantec