Kenapa Ibu-ibu semestinya bisa matematika?

Posted on January 15, 2011

0


Sederhana saja jawabannya, di era yang kian pragmatis dan praktis, tentu ilmu-ilmu praktis dipakai. Kemampuan menghitung sangat diperlukan dan di masa datang, dianggap sangat menonjol. Apalagi kita ingat bahwa di negara-negara maju porsi untuk sains lebih diprioritas menghadapi persaingan global yang kian ketat dan karena itu, perlu generasi yang lebih banyak menguasai sains dan teknologi.

PERAN ORANGTUA
Ibu-ibu Juga Mesti Pandai Matematika
Kamis, 13 Januari 2011 | 10:41 WIB
shutterstock
Ilustrasi: Para ibu perlu dilatih untuk menguasai Matematika dengan metode gampang, asyik, dan menyenangkan (Gasing) agar bisa mengajarkan Matematika kepada anak.

JAKARTA, KOMPAS.com — Untuk menumbuhkan minat dan menghilangkan ketakutan anak pada bidang studi Matematika, orangtua, terutama ibu, harus bisa memahami dasar-dasar Matematika agar bisa mengajarkan materi itu kepada anak dengan cara yang menyenangkan.

Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanya anak-anak yang tidak memperoleh kesempatan belajar dari guru yang berkualitas dan mendapat metode pengajaran yang benar.
— Yohanes Surya

 

Selama ini, ibu kerap dianggap tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk bisa mengajarkan Matematika. Padahal, peran ibu dalam pendidikan anak sangat besar.

Hal tersebut disampaikan Ny Herawati, istri Boediono, Wakil Presiden, dalam peluncuran program Gerakan Ibu Pandai Matematika (Gipika), Selasa (11/1/2011) malam di Jakarta. Hadir dalam acara itu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari.

”Saya harap para ibu bisa memahami dasar-dasar Matematika sehingga bisa berkomunikasi dengan anak lebih baik,” kata Ny Herawati.

Ketua Umum Gipika sekaligus Direktur Eksekutif Surya Institute Srisetiowati Seiful menekankan, ibu memiliki peran yang besar dalam mengarahkan masa depan anak-anak. Jika ibu bisa mengajarkan Matematika dengan mudah dan cepat, stigma anak-anak bahwa Matematika pelajaran yang sulit bisa pupus.

Untuk menghilangkan ketakutan belajar Matematika, Surya Institute menggulirkan Gipika. Melalui gerakan ini, para ibu dilatih menguasai Matematika dengan metode gampang, asyik, dan menyenangkan (Gasing) agar bisa mengajarkan Matematika kepada anak.

Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Surya Institute Yohanes Surya mengingatkan, tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanya anak-anak yang tidak memperoleh kesempatan belajar dari guru yang berkualitas dan mendapat metode pengajaran yang benar. (LUK)

=============

PELAJARAN
Membantu Anak Belajar Matematika…
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik
Sabtu, 23 Oktober 2010 | 17:10 WIB
shutterstock
Ilustrasi: Matmatika

JAKARTA, KOMPAS.com – Banyak orang tua merasa sulit mengajari anak-anak mereka belajar matematika. Entah karena merasa tidak bisa atau sudah keburu alergi dengan mata pelajaran yang satu ini, orang tua, terutama ibu, lebih memilih anak-anaknya belajar matematika seutuhnya melalui kursus atau les dan juga menekankan mengerjakan pekerjaan rumah lebih banyak lagi. Padahal, ibu bisa mencoba melatih kemampuan matematika anak melalui pengalaman kehidupan sehari-hari.

Head of Student and Alumni Affairs Sampoerna School of Education (SSE) Sulandjari Rajardjo mengatakan kehidupan ibu sehari-hari tak lepas dari matematika, contohnya ketika belanja atau bahkan ketika membuat suatu masakan dan kue. Ibu bisa mencoba melatih daya matematika anaknya melalui kegiatan sehari-hari ini. “Ya harus mulai dilatih terus-menerus,” ungkapnya kepada Kompas.com, Sabtu (23/10/2010).

Salah satu guru matematika dari SDK Penabur 6 kelapa Gading Tinneke juga mengatakan matematika sudah cukup rumit, namun jangan ditambah rumit dengan metode belajar yang membosankan. Oleh karena itu, di sekolah, Tinneke juga memasukkan cerita kehidupan sehari-hari dalam mengajar matematika. “Kita juga pake cerita yang lucu-lucu supaya anak-anak itu tertarik. Misalnya saya cerita ‘anak-anak, tadi ada tetangga ibu yang minta ini, minta segini, tapi ibu punyanya segini’. Jadi mereka ikut antusias pada apa yang terjadi.”

“Trus kita minta, tolong bantu ibu hitung ini ya, jadi mereka tertarik. Sesuai konteks. Ajak dulu mereka memberikan gelombang supaya mereka tertarik dan ngikut guru untuk masuk ke materi,” ungkap guru yang membawa dua timnya ini dalam Competition of Mathematics (Comath) 2010 yang digelar STKIP Kebangkitan Nasional SSE.

Baik Sulandjari maupun Tinneke menekankan pola asuh dan pola didik sebagai salah satu faktor penting untuk melatih kemampuan matematika seorang anak. Pasalnya, anak yang terbiasa dilatih, akan memiliki kemampuan yang makin baik pula. Di sekolah belajar, di rumah dilatih pula dengan cara yang sangat menarik, tentu anak-anak tak akan pernah merasakan lagi betapa menakutkannya matematika…

 


Posted in: anak dan remaja