Polisi kini mulai lebih intensif memantau facebook mengingat maraknya prostitusi online

Posted on January 20, 2011

0


Situs jejaringan  facebook semestinya mulai lebih diawasi Polisi. Hal demikian masuk akal karena prostitusi sudah mulai melibatkan anak-anak di bawah umur dan apalagi kini anak-anak itu sendiri bahkan sudah dengan mudah menampilkan diri langsung tanpa perlu keterlibatan pihak ketiga. Bisa dibayangkan dengan satu akun bisa memuat 5000 profil, bukankah sangat potensial dan luas pasarnya.

Kenapa Facebook Jadi Media Prostitusi Pelajar
Polisi bongkar prostitusi tujuh pelajar SMP yang berumur antara 13-16 tahun via Facebook.
KAMIS, 20 JANUARI 2011, 11:34 WIB

Maryadie

Internet (AP Photo)

VIVAnews – Prostitusi yang mengorbankan gadis belia maupun siswi SMP di Facebook dan Friendster dinilai mengeruk keuntungan banyak. Bisnis di sosial media ini lebih aman karena jauh dari pantauan polisi.

Makanya banyak para mucikari saat ini memanfaatkan Facebook sebagai cara untuk menjajakan perempuan belia. Polda Metro Jaya menyebutkan, bisnis ini marak karena cara kerja yang praktis dengan omzet besar.

Selain itu tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk menjajakannya kepada pria hidung belang.

“Itu yang membuat bisnis ini menjanjikan. Tidak perlu lagi cara-cara konvensional,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar.

Menurutnya, untuk mengantisipasi dan membongkar praktik itu, polisi terus melakukan patroli cyber. “Tim khusus ini melacak kejahatan online termasuk prostitusi online,” imbuhnya.

Selain melakukan patroli, polisi juga menggandeng pihak terkait untuk membantu pengungkapan kasus prostitusi online melalui jejaring sosial.

Saat ini, sambungnya, yang paling penting adalah bagaimana mencegah timbulnya bisnis prostitusi online. Banyak korban terpaksa menjajakan diri dengan alasan ekonomi.

“Jadi ini memang masalah sosial, kemiskinan,” tuturnya.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Aries Merdeka Sirait mengatakan, polisi harus peka dalam melakukan penyidikan kasus prostitusi online. Banyak siswi SMP menjadi target utama para pelaku untuk dijajakan dalam bisnis haram itu.

“Pelaku memilih siswa SMP karena mudah dibujuk. Janji manis dengan uang yang banyak cukup ampuh,” cetusnya.

Menurut Aries, ada sindikat besar penjualan anak di bawah umur dalam praktik prostitusi online. Dari beberapa kasus, hampir ada jaringan dan dengan pola bisnis yang hampir serupa.

Kemarin, Polres Jakarta Pusat membekuk tersangka DD yang melakukan perdagangan anak untuk komoditas seksual melalui situs jejaring sosial Facebook. Kebanyakan yang dijual tersangka adalah siswi SMP.

==========

Pelajar, Target Bisnis Prostitusi di Facebook
Bisnis ini dianggap praktis dan dinilai aman karena jauh dari pantauan polisi.
KAMIS, 20 JANUARI 2011, 07:07 WIB
Eko Priliawito, Sandy Adam Mahaputra

VIVAnews – Bisnis prostitusi melalui online atau situs jejaring sosial seperti Facebook dan Friendster, masih menjadi bisnis mengiurkan bagi para pelaku kejahatan cyber.  Cara ini diakui banyak pelakunya dapat mengeruk keuntungan banyak. Alasan lain karena praktis dan dinilai aman karena jauh dari pantauan polisi.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar menegaskan, maraknya bisnis prostitusi online melalui situs jejaring sosial, tidak terlepas cara kerja yang praktis dengan omzet besar dan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menjajakan wanita kepada pria hidung belang.

“Tentunya pertimbangan itu, membuat bisnis ini menjanjikan bagi para pelaku. Sehingga tidak lagi menawarkan layanan prostitusi dengan cara-cara konvensional,” kata dia.

Menurutnya untuk mengantisipasi dan membongkar praktik tersebut, polisi terus melakukan patroli cyber. “Kami saat ini mempunyai tim khusus yang melakukan patroli cyber untuk melacak kejahatan online termasuk prostitusi online,” imbuhnya.

Selain melakukan patroli, polisi juga menggandeng pihak terkait untuk membantu pengungkapan kasus prostitusi online melalui jejaring sosial.

“Kami punya bimbingan masyarakat (Binmas) yang langsung turun ke lapangan dan memantau situasi di masyarakat,” jelasnya.

Saat ini, sambungnya, yang paling penting adalah bagaimana melakukan pencegahan terhadap timbulnya bisnis prostitusi online di masyarakat. Banyak korban yang ditawarkan pelaku, karena terpaksa menjajakan diri dengan alasan ekonomi.

“Jadi ini memang masalah sosial dari masyarakat yakni kemiskinan,” tuturnya.

Siswa SMP Jadi Target

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Aries Merdeka Sirait mengatakan, polisi harus peka dalam melakukan penyidikan kasus prostitusi online. Banyak siswi SMP menjadi target utama para pelaku untuk dijajakan dalam bisnis haram itu.

“Pelaku memilih siswa SMP karena mudah dibujuk. Janji manis dengan uang yang banyak cukup ampuh,” cetusnya.

Menurut Aries, ada sindikat besar penjualan anak di bawah umur dalam praktik prostitusi online. Dari beberapa kasus, hampir ada jaringan dan dengan pola bisnis yang hampir serupa.

Sebelumnya, Polres Jakarta Pusat membekuk seorang residivis berinisial DD yang melakukan perdagangan anak untuk komoditas seksual melalui situs jejaring sosial Facebook.

Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur, AKBP Yoyon Toni Putra menjelaskan, hasil pemeriksaan pelaku DD mengaku telah menjalani bisnis perdagangan seks anak di bawah umur ini selama dua tahun. Sudah puluhan yang menjadi korban.

“Tersangka melakukan bisnisnya melalui jejaring sosial seperti facebook. Pemesan kemudian menghubungi dan melakukan penawaran harga. Setelah sesuai, tersangka mengirim ABG kepada pemesan di alamat yang disepakati,” katanya.

Penangkapan tersangka berawal setelah pihaknya menerima laporan dari tujuh anak dibawah umur yang menjadi korban. Atas dasar laporan itu, petugas kemudian menangkap tersangka di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan.

“Tersangka setelah dua tahun melakukan bisnisnya,” ujar dia.

Selain menangkap DD, polisi juga mengamankan seorang pria hidung belang berinisial Al yang tertangkap basah tengah melakukan hubungan seksual dengan salah satu ABG yang dijual tersangka di salah satu kamar Apartemen di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Saat diperiksa, Al mengaku membayar Rp2 juta untuk berhubungan intim dengan salah satu ABG yang dijual tersangka.

Kasus ini menambahkan catatan panjang praktik prostitusi online melalui situs jejaring sosial, beberapa bulan lalu, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya juga pernah membongkar sindikat prostitusi online yang menggunakan situs jejaring sosial seperti http://www.bluefame.com, http://www.friendster.com serta http://www.facebook.com.

Polisi menangkap dua pelaku, Velerius Wens Wayan alias Robby Valerian sebagai pengelola website dan seorang wanita bernama Wida Martini alias Ami sebagai mucikari.

Situs tersebut sudah ada sejak tahun 2008. Bahkan, omzetnya sendiri mencapai ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Selain itu, Polda Metro Jaya juga pernah menangkap seorang pelaku penipuan yang menyajikan pelayanan prostitusi online. Pelaku yang berinisial  IR alias S, 25 tahun. Pelaku ditangkap karena melakukan penawaran  jasa prostotusi online melalui situs http://www.anakayam.us.

Pelaku ditangkap di daerah Meruya, Kembangan, Jakarta Barat. Pelaku sebenarnya hanya berpura-pura menawarkan wanita penghibur, pasalnya pelaku sendiri hanya melakukan penipuan.

==============

Tersangka Jual Siswi SMP Lewat Facebook
Perdagangan anak di bawah umur ini sudah berlangsung selama dua tahun.
RABU, 19 JANUARI 2011, 12:14 WIB

Eko Priliawito, Sandy Adam Mahaputra

Korban perdagangan (VIVAnews/Tri Saputro)
VIVAnews – Kepolisian Resor Jakarta Pusat terus mengembangkan jaringan lain dari sidikatpenjualan siswi SMP yang ditangkap saat akan menjual tujuh gadis yang menjadi korbannya.

Menurut Kepala Satuan Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Toni Surya Saputra, berdasarkan pengakuan DD, tersangka, seluruh korban dipasarkan melalui situs jejaring sosial Facebook.

Bisnis perdagangan anak yang dilakukan DD terhadap anak di bawah umur sudah berlangsung selama dua tahun. Pemesan akan melakukan kontak melalui telepon. “Pemesan kemudian menghubungi dan melakukan penawaran harga. Setelah ada kata sepakat, tersangka mengirim ABG ke alamat pemesan yang diinginkan,” katanya, Rabu 19 Januari 2011.

Dijelaskan, penangkapan tersangka berawal setelah ada laporan dari tujuh anak di bawah umur yang menjadi korban. Atas dasar laporan itu, petugas kemudian menangkap tersangka DD di kediamannya di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan.

Selain menangkap DD, polisi juga menangkap seorang pria hidung belang berinisial Al yang tertangkap basah tengah melakukan hubungan badan dengan salah satu siswi SMP yang dijual tersangka di kamar apartemen di Kemayoran, Jakarta Pusat.

Saat diperiksa, Al mengaku membayar Rp2 juta untuk bisa berhubungan intim dengan salah satu ABG yang dijual tersangka.

Saat ini petugas Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Pusat masih pengembangkan kasus ini. Kedua tersangka yang dinilai telah melakukan eksploitasi seks anak di bawah umur dijerat Undang-undang perlindungan anak.

Sementara itu, DD mengatakan dirinya tak serta merta mencari pemesan gadis belia itu. Menurutnya, korban terlebih dahulu meminta dicarikan pria hidung belang karena kebutuhan ekonomi.

Seluruh anak yang diperdagangkan DD, kebanyakan merupakan pelajar Sekolah Tingkat Pertama (SMP). Mereka adalah KKS (15), AC (15), WI (13), ZV (15), CK (16), NA (16), serta ASP (15). Mereka adalah teman sepermainan yang tinggal di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, dan tidak jauh dari rumah tersangka DD. (adi)
===========

Polisi Bekuk Sindikat Penjual Gadis SMP
Pelaku diamankan saat melakukan transaksi di apartemen di kawasan Kemayoran.
SELASA, 18 JANUARI 2011, 21:45 WIB

Eko Priliawito, Zaky Al-Yamani

Korban perdagangan wanita (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews – Kepolisian Resor Jakarta Pusat , hari ini, Selasa 18 Januari 2010, membekuk sindikat penjual gadis di bawah umur.  Mereka yang ditangkap itu antara lain dua tersangka yang merupakan mucikari berinisial DD dan seorang wanita berusia 28 tahun, dan  seorang pria berinisial AL yang berusia 50 tahun,.

Dari penangkapan ini, polisi menyelamatkan tujuh siswi yang masih berstatus pelajar sekolah menengah pertama (SMP). Mereka sudah siap dijual jaringan ini.

Menurut Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, Komisaris Tony Surya Putra, pelaku diamankan siang tadi saat melakukan transaksi. Sebelumnya polisi sudah memburu jaringan ini selama sepekan.

Kepada polisi yang menginterogasi mereka,  DD dan AL,  mengaku  bahwa mereka sudah menjalankan praktik penjualan gadis di bawah umur ini sejak satu tahun lalu.

Para pelajar yang akan diperdagangkan adalah KKS (15), AC (15), WI (13), ZV (15), CK (16), NA (16), serta ASP (15). Mereka adalah teman sepermainan yang tinggal di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Setiap transaksi, korban akan dibayar Rp2 juta.

Terbongkarya praktik perdagangan gadis di bawah umur ini bermula dari informasi warga yang berada di lingkungan tmpat tinggal korban. Beredar kabar bahwa ada seorang wanita bernama DD sering melakukan transaksi penjualan anak.

Polisi kemudian menelusuri dan melakukan penangkapan terhadap DD.. Bersama dengan DD, ada pula tujuh korban yang mengaku akan dijual.

Dari keterangan DD, polisi kemudian memancing seorang lelaki berinisial AL, yang merupakan pelanggan DD. Si pelanggan itu kemudian ditangkap di kawasan apartemen di Kemayoran.

Menurut DN, salah satu orangtua korban saat ditemui di Polres Jakarta Pusat, pelaku DD memang warga Manggarai, yang rumahnya hanya berjarak dua rumah dari rumah DN.

“Cuma dua rumah jaraknya, tapi tidak kenal dengan DD,” ujarnya, Selasa 18 Januari 2011.

DN mengakui bahwa dalam dua bulan terakhir, anaknya selalu keluar pada malam hari. Biasanya, setelah pulang sekolah anaknya langsung tidur, dan baru sore hari pergi dan pulang pada jam 11 malam.

Semula DN tidak curiga dengan sikap anaknya, tapi saat dipanggil polisi terkait kasus ini, DN baru tahu. Tapi dia membantah kalau perdagangan ini atas permintaan anaknya sendiri.

“Tidak percaya. Bisa saja anak saya dibikin mabuk. Anak saya kebutuhannya selalu terpenuhi. sehari uang jajan Rp20 ribu,” ujar DN.
Selain itu, tidak ada perubahan gaya hidup dari anaknya. DN berharap pelaku dihukum seberat-beratmya.

********

Jujur nich, proses penangkapan terhadap pelaku prostitusi pelajar SMP atau di bawah umur ini, tertangkap justeru lewat offline atau tidak melalui internet langsung  namun berdasarkan informasi warga lain yang punya kesadaran tinggi  akan nasib masa depan anak-anak. Dengan demikian, semestinya proses penangkapan itu lebih efektif melalui online. Dibongkar dan ditingkat langsung melalui proses transaksi langsung lewat facebook. Bukan dari laporan informasi warga sekitar pelaku. Artinya, satu kasus ini seperti fenomena gunung es, yang bisa ditafsirkan  bahwa  yang di dalam-dalamnya justeru jauh lebih besar dan jelas-jelas belum terungkap.

 

 

Posted in: anak dan remaja