Gong Xi Fa Chai sama dengan imlek dan berarti sama dengan lampion

Posted on February 2, 2011

0


Warna merah memang menjadi ciri khas  saat perayaan Imlek. Tentu ingat sudah ratusan tahun perayaan itu sebelum Indonesia merdeka. Sama-sama pernah hidup baik di jaman Indonesia merdeka sekarang atau jaman penjajahan dulu. Coba perhatikan baik-baik warna merah. Warna merah adalah salah satu dari warna bendera negara Indonesia. Yang berarti warna itu sudah menyatu.  Yang berarti warga keturunan telah setengah bagian menyatu dengan negara RI, yang melebur bahkan boleh dibilang sudah menjadi tanah airnya. Bertahun-tahun lahir dan besar hngga meninggal, baik hidup suka atau duka, merasakan tanah Indonesia yang dipijaknya dan air Indonesia  yang diminumnya, sehingga kalau toh, telah suatu saat belajar atau bekerja di luar negeri, kerinduan akan kampung halamannya bukan negeri dimana nenek moyangnya tinggal, tapi tetap rindu akan Indonesia, karena di dalam unsur tubuhnya telah mengalir tanah dan air Indonesia. Sehingga boleh dibilang di dalam tubuhnya justeru penuh warna. Penuh dengan budaya Indonesia dan budaya nenek moyangnya. Lebih lengkap dan lebih berwarna. Gong Xi Fa Chai telah tiba dirayakan , seperti juga saat Tahun Baru dan juga Tahun Muharram dan akan terus ada sepanjang ibu  pertiwi Indonesia kita menyayangi semuanya.

Ribuan Lampion Meriahkan Imlek
Pemasangan ribuan lampion ini merupakan even tahunan setiap menjelang Imlek.
RABU, 2 FEBRUARI 2011, 20:09 WIB

Arry Anggadha

VIVAnews – Menyambut perayaan tahun baru Imlek, seribu lampion dipasang di sepanjang jalan Pasar Gede, Solo sebagai salah satu ikon kampung pecinan. Bahkan, kampung Sudiroprajan yang terletak di samping pasar tersebut dicanangkan sebagai kampung seribu lampion.

Ketua Panitia Imlek Bersama 2562/2011, Henry Susanto, mengatakan pemasangan seribu lampion atau teng lung untuk memeriahkan perayaan Imlek. Pemasangan ini merupakan even tahunan setiap menjelang Imlek.

“Momen ini untuk memperindah Kota Surakarta, sehingga sekitar Pasar Gede akan menjadi tempat wisata baru dengan adanya lampu lampion,” kata Henry di Solo, Rabu 2 Februari 2011.

Selain itu, pemasangan seribu lampion tersebut erat kaitannya dengan pencanangan Kampung Sudiroprajan sebagai kampung seribu lampion. Keberadaan lampu lampion yang terpasang di depan Pasar Gede tersebut cukup mengubah pemandangan kawasan pasar tersebut.

Tak heran, jika setiap malam banyak sekali warga masyarakat yang menyempatkan diri datang melihat cahaya lampion.

Bagi masyarakat Tionghoa, lampion mempunyai makna filosofi tersendiri. Seperti dijelaskan Henry, lampion berarti penerangan yang menerangi. Jadi, orang yang hidup secara materi, mental dan fisik, itu sudah siap.

Namun, masyarakat tetap membutuhkan simbol atau aspek psikologis yang bisa menerangi jalan hidup manusia yang digambarkan dengan lampion itu. “Lampion ini bisa dipersepsikan seperti itu. Makanya, setiap perayaan Imlek pasti ada lampion,” tuturnya. (art)

Laporan: Fajar Sodiq | Solo

=============

Kehidupan Modern Ubah Cara Rayakan Imlek
Editor: R Adhi KSP
Rabu, 2 Februari 2011 | 22:35 WIB


KOMPAS.com – Fase kehidupan modern yang terlalu komersial mengubah cara masyarakat China merayakan kedatangan Tahun Baru. WartawanShanghai Daily, Ni Yuanjin dan Bai Xu mengidentifikasi perubahan itu dan menganalisis bagaimana tradisi malam tahun baru semakin lenyap.

Li Qian mereservasi meja di sebuah restoran mewah untuk lima anggota keluarganya untuk merayakan malam tahun baru dengan harga lebih dari 1.500 yuan atau sekitar 228 dollar AS. Ini merupakan tahun ke-10 bagi keluarga Li merayakan peringatan setahun sekali ini di luar rumah.

Namun mantan akuntan yang berusia 61 tahun ini mengaku kehilangan tradisi perayaan tahun baru yang biasa dilakukan pada dekade lalu ketika keluarganya masih sederhana, belum kaya, dan daging hanya bisa dimakan pada kesempatan khusus.

“Memang nyaman dapat menikmati makan malam menjelang tahun baru di luar rumah. Tapi saya selalu ingat masa-masa sulit ketika saya berusia 20-an tahun di mana makanan susah didapat,” ungkap Li, yang tinggal di kota pelabuhan Tianjin di China utara.

Li lahir pada tahun 1949, tahun ketika Republik Rakyat China berdiri. Dia menghabiskan 15 tahun (1965-1979) di Jiuquan, Provinsi Gansu. “Saya membutuhkan waktu tiga hari tiga malam untuk sampai di rumah setelah naik kereta dari Jiuquan. Dan saya hanya dapat melakukan reuni dengan keluarga saya pada festival musim semi satu tahun sekali. Setiap malam tahun baru, kami menikmati makan bersama keluarga,” kata Li.

Ayah Li meninggal tahun 1965 dan ibunya sendirian menangani ketujuh anaknya, termasuk Li. Seperti diungkapkan Li, daging dijatah, setengah kilogram untuk satu orang per bulan. Sebelum tahun baru tiba, setiap keluarga menyiapkan seekor ayam kecil, ikan, beberapa telur dan beras.

“Kenangan paling berkesan saat malam tahun baru adalah sepanjang malam saya makan snack. Saya tak sabaran menunggu mengenakan pakaian baru dan sepatu baru,” ungkap Li. Pada malam tahun baru ini, Li menikmati makan malam di sebuah restoran dengan keluarganya termasuk suami dan anak perempuannya.

Li sudah sepuluh tahun merayakan Imlek dengan cara ini. Pada tahun 1990-an, suaminya mulai mengoperasikan perusahaan. Kini pendapatan keluarganya dalam sebulan lebih dari 30.000 yuan.

Di Beijing, banyak keluarga China mengalami seperti yang dialami Li: menikmati makan malam pada malam tahun baru di luar rumah. Menurut Komisi Perdagangan Pemerintah Kota Beijing, lebih dari 10.000 acara makan malam sudah dipesan jauh hari untuk malam tahun baru. Jumlah pengunjung diprediksi lebih dari 130.000.

“Koki restoran memang luar biasa, lebih pintar dari saya,” kata Li. “Tapi saya harus membuat reservasi lebih dari tiga bulan lebih awal sebelum tahun baru,” katanya. (Shanghai Daily/KSP)

============

Ada Barongsai di Kuta
Penulis: Jodhi Yudono | Editor: Jodhi Yudono
Rabu, 2 Februari 2011 | 20:49 WIB
Dibaca: 127

 

DENPASAR, KOMPAS.com–Prosesi barongsai dan naga yang dikemas dalam atraksi unik dan menarik akan mengawali perayaan Tahun Baru Imlek 2562 di kawasan wisata Kuta dan sekitarnya, Rabu petang.

Prosesi menempuh jalur mengelilingi Vihara Dharmayana dan jalan-jalan protokol di kawasan Kuta dan sekitarnya melibatkan lima barongsai dan satu naga, kata penanggung jawab Vihara Dharmayana Kuta Indra Suarlin di Denpasar, Rabu.

Ia mengatakan, pergelaran barongsai dan naga “ngelawang” berlangsung sekitar dua jam, 17.00-19.00 Wita dan diupayakan sedapat mungkin tidak mengganggu lalu lintas yang kondisinya selama ini sangat padat.

“Ngelawang” yang akan dimulai sore hari ini sudah dikoordinasikan dengan pihak kepolisian setempat dan “pecalang” (petugas keamanan desa adat Kuta) untuk membantu kelancarannya, mengingat arus lalu lintas di kawasan Kuta sangat padat.

“Banyak permintaan agar prosesi itu melewati pantai Kuta, tempat wisatawan mancanegara berjemur sambil menikmati deburan ombak, namun hal itu tidak dapat dipenuhi, khawatir kemacetan lalu lintas tidak dapat dihindari,” ujar Indra Suarlin.

Prosesi “Ngelawang” bermakna menyeimbangkan dan mengusir kekuatan jahat yang mengganggu kehidupan manusia, dan hal itu dilakukan secara berkesinambungan mengawali perayaan tahun baru Imlek.

Kegiatan tersebut sengaja dilaksanakan sehari lebih awal dari tahun baru Imlek, guna memberikan kesempatan kepada umat Budha untuk melaksanakan Perayaan Tahun Baru Imlek 2562 secara khidmat yang jatuh pada hari Kamis (3/2).

Umat Budha, khususnya keturunan Tionghoa di Bali pada Hari Raya Suci Imlek melakukan persembahyangan di rumah mereka masing-masing, kemudian dilanjutkan ke Vihara dan Kelenteng.

“Persembahyangan dilakukan sesuai tradisi yang diwarisi secara turun temurun,” ujar Indra Suarlin yang juga Ketua Ketua Yayasan yang mengayomi Vihara Dharmayana Kuta.

Pemasangan hiasan bambu (penjor), penyalaan lilin, hiasan lampu (lampion), serta persembahan hidangan buah-buahan dan berbagai macam kue menjadi ciri khas perayaan Imlek pada setiap Vihara dan Kelenteng di Bali.

Persembahyangan berlangsung seperti hari-hari biasa, namun kali ini agak istimewa, karena disertai dengan pemberian makanan khas kepada mereka yang dinilai berjasa dalam mengembangkan usaha maupun kehidupan pribadi.

Perayaan Imlek tahun ini lebih menekankan pada perdamaian dunia, rasa gotong royong dan kebersamaan, termasuk dengan umat lain.

Hari Raya Imlek kental dengan nuansa kehangatan, yang berawal dari tradisi pergantian musim gugur ke musim semi di dataran Tionghoa.

Namun tradisi itu tetap diwarisi secara turun temurun yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Perayaan di sejumlah Vihara di Bali juga dimeriahkan dengan pegelaran barongsai, kesenian khas China, ujar Indra Suarlin.

================

Momen Imlek Menjadi Penggerak Ekonomi
Penulis: Laras Pratiwi | Editor: Tri Wahono
KOMPAS.COM/TRI WAHONO
Rhenald Kasali

JAKARTA, KOMPAS.com – Sehari menjelang Tahun Baru Imlek 2562, yang berlangsung pada Kamis (3/2/2011), aktivitas perekonomian terlihat masih ramai di daerah Perak Sembilan, Glodok, Jakarta Pusat, Rabu. Hampir rata-rata pebisnis ekonomi daerah tersebut adalah warga keturunan etnis Tionghoa.

Berbicara tentang roda perekonomian dengan tahun baru Imlek memang dapat dikorelasikan. Diperkirakan pendapatan warga yang berjualan kebutuhan dan perlengkapan Imlek pun naik drastis. Hal tersebut dikemukakan oleh pengamat bisnis Rhenald Kasali yang ditemui seusai peluncuran dan diskusi buku terbarunya, “Cracking Zone” di Jakarta.

Ia mengungkapkan, ada pergerakan roda perekonomian yang meningkat seiring menjelang perayaan tahun baru Imlek. “Sekarang itu kan boleh dibilang perayaan tahun baru Imlek sudah diterima di Indonesia. Saya lihat itu sebagai penggerak roda perekonomian baru bagi Indonesia,” kata Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu.

Rhenald Kasali menambahkan, adanya momen-momen perayaan di Indonesia selain membuat kita kaya akan kebudayaan dan sejarah hal tersebut juga dapat menggerakan roda perekonomian rakyat.

“Setiap tahunnya pasti ada perayaan, misalnya tahun baru akhir tahun. Dari situ bergerak perekonomian, daya beli masyarakat menjadi tinggi. Begitupun dengan tahun baru Imlek, yang dirayakan tiap awal tahun,” ujarnya.

Hal tersebut sangat dirasakan oleh para pedagang musiman yang berjualan perlengkapan tahun baru Imlek di Pasar Pancoran, Petak Sembilan, Glodok. Lukman (61) salah satu pedagang di Petak Sembilan mengaku senang dengan adanya tradisi perayaan imlek. Selain pembeli jadi ramai, pendapatannya pun diakuinya meningkat tajam.

“Biasanya kalau hari biasa, palingan sehari saya cuma dapat Rp 1-2 juta. Tetapi kalau lagi ada perayaan bisa dua kali lipatnya, bisa dapat Rp 4-5 juta. Dan di hari libur bisa lebih,” ujarnya.

==============

Ikan Bandeng Imlek Diburu Pembeli
Editor: Benny N Joewono

 

MAKASSAR, KOMPAS.com – Ikan bandeng di sejumlah pasar tradisional di Kota Makassar laris menjelang hari raya Imlek atau tahun baru Cina. “Ikan bandeng merupakan salah satu tradisi yang harus ada dan digunakan sebagai sajian pada saat sembahyang di rumah,” kata Yance, di Pasar Terong, Makassar, Rabu (2/2/2011).

Ikan bandeng diyakini dapat membawa berkah dan rezeki, sehingga ikan bandeng banyak dicari warga keturunan menjelang Imlek, begitu pula dengan buah-buahan yang rasanya manis seperti jeruk manis, apel dan nenas.

Ikan bandeng yang laris dibanding beberapa hari sebelumnya, diakui salah seorang pedagang ikan di Pasar Terong, Makassar Hamdan. Permintaan ikan bandeng cukup tinggi sehari menjelang Imlek. Sebagai gambaran, saat ini dapat melariskan empat dus gabus ikan bandeng.

Padahal biasanya hanya laris dua dus bandeng per hari. Harga bandeng perdus rata-rata sekitar Rp 180 ribu-Rp 200 ribu. Namun menjelang Imlek naik menjadi Rp 250 ribu per dus.

“Dari penjualan ikan bandeng menjelang Imlek ini, bisa mendapatkan keuntungan sekitar 20-50 persen dibanding hari-hari sebelumnya,” katanya.

==============

Menikmati Imlek di Sepenggal Jalan…
Editor: I Made Asdhiana
KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTAMenjelang Imlek 2562, umat mengikuti ritual Sang Sin di Klenteng Tay Kak Sie, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (27/1/2011). Ritual yang diselenggarakan setiap tanggal 24 bulan 12 menurut penanggalan Imlek tersebut guna mengantarkan dewa menghadap Tuhan Yang Maha Esa untuk melaporkan peristiwa di dunia selama setahun. Rangkaian selanjutnya adalah bersih-bersih patung dewa.

WAJAH Jalan Wotgandul di kawasan pecinan Kota Semarang di Jawa Tengah menjadi lebih cantik, Sabtu (29/1/2011) malam. Lampion-lampion merah tergantung di tengah jalan, di antara barisan stan-stan yang menawarkan makanan hingga pernak-pernik Imlek atau Sincia. Membuat denyut kehidupan di kawasan ini sungguh bergeliat malam itu.

Udara panas dan lengket tidak menghalangi lelaki-perempuan, tua-muda, dari berbagai latar belakang etnis berdesak-desakan di penggalan jalan itu. Sekadar memenuhi hasrat masuk ke tengah pusat keramaian Pasar Imlek Semawis (PIS) yang digelar hingga 1 Februari 2011, atau dua hari menjelang Sincia, Tahun Kelinci 2562 Imlek yang jatuh pada 3 Februari 2011 dalam penanggalan Masehi.

Wangi hioswa (dupa) tercium dari sejumlah klenteng di Jalan Wotgandul, musik berbahasa Mandarin, membuat suasana menjelang Imlek menjadi lebih kental terasa. Ditambah lagi, malam itu ada beberapa lelaki dan perempuan berkostum tokoh-tokoh mitologi China, seperti Sun Go Kong, tiga dewa, Kwan Im, serta Thian Shang Sheng Bo (dewi laut) yang bergaya dan bisa diajak berpose oleh pengunjung.

Sumiyati (45) dan Sarkun Ariyanto (48), warga Lempong Sari, Semarang Tengah, malam itu mengaku khusus datang untuk menikmati kemeriahan menjelang perayaan Imlek itu. ”Saya tidak merayakan Imlek, tetapi rasanya ada yang kurang kalau tidak ke sini. Saya ingin mencoba makanan khas China dan melihat tariannya. Ternyata menarik,” tutur Sumiyati.

PIS yang sudah delapan kali digelar Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), bagi Jongkie Tio, pemerhati budaya Tionghoa di Semarang, perlahan-lahan menjadi bagian dari masyarakat Semarang. Kini, PIS bukan hanya disajikan dan dinikmati oleh orang-orang Tionghoa saja, tetapi juga dinikmati warga Kota Semarang lainnya.

”Bisa dilihat yang datang itu multietnis. Dan akulturasi itu merupakan salah satu perbedaan pecinan Semarang dengan daerah lain sejak dulu,” paparnya.

Tengok, misalnya, Pasar Gang Baru alias Gang Senggol di pecinan Semarang yang biasa menyediakan pernik dan kebutuhan menjelang Sincia. Di gang itu bisa ditemukan makanan peranakan hingga penganan khas Jawa. Atau ada pula Perkumpulan Rasa Dharma (Boen Han Tong) di Gang Pinggir yang menyimpan gamelan Jawa klangenan orang-orang Tionghoa dahulu.

Begitu pula dengan TK dan SD yang dikelola Yayasan Khong Kauw Hwee di Gang Lombok, yang menyediakan pendidikan gratis bagi anak tak mampu dari berbagai etnis.

Untuk mengangkat itu pula, kemeriahan PIS oleh panitia dipecah di Gang Pinggir serta di Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok. Selain itu, acara yang ditampilkan tidak melulu kesenian Tionghoa peranakan saja, seperti wayang potehi atau pameran karya arsitek Liem Bwan Tjie, dan foto pecinan. Namun, ada pula ketoprak Ngesti Pandowo atau pameran batik semarangan.

Selain membuat kemeriahan dan melestarikan tradisi pasar malam Jie Kauw Meh (malam tanggal 29) serta mengenalkan tema besar ”pembauran” kepada khalayak, PIS juga merupakan salah satu upaya merevitalisasi pecinan Semarang. PIS mencoba membangunkan kawasan seluas 25 hektar dari tidurnya. Pada hari biasa setiap malam tiba, kawasan itu biasanya sunyi tanpa aktivitas.

Upaya lain dilakukan dengan menggelar Pasar Semawis setiap akhir pekan di Gang Warung untuk wisata kuliner.

Ketua Panitia Pasar Imlek Semawis Darmadi mengakui, tujuan revitalisasi itu sendiri masih belum tercapai sepenuhnya. Masih banyak hal yang harus dibenahi di kawasan pecinan agar lebih menarik untuk dikunjungi wisatawan selain dengan PIS, termasuk pembenahan infrastruktur.

Angin segar kini mulai terasa. Mulai tahun 2011, Pemerintah Kota Semarang memasukkan PIS sebagai agenda tahunan Kota Semarang. Wali Kota Semarang Soemarmo HS juga menyatakan mendukung pengembangan kawasan pecinan untuk menarik wisatawan ke Kota Semarang.

Dukungan pemerintah yang lebih luas kini ditunggu agar kemeriahan itu tidak hanya terasa sekali setahun…. (Antony Lee/Amanda Putri)

===============

Hujan Deras, Jodoh dan Imlek
Editor: Jodhi Yudono
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESPernak-pernik untuk menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2562 dijual di pusat perbelanjaan, Jalan Pancoran, Glodok, Jakarta Barat, Sabtu (8/1/2011).

Oleh Henny Ratnasari

Tahu tidak hubungan hujan deras dengan tahun baru Cina atau Imlek? Jika tak tahu tanyalah Olivia Kristie atau Christian Haryono atau siapa saja yang merayakan Imlek.

Sedikit jawaban dari mereka akan membuat Anda memahami mengapa hujan selalu menyertai perayaan Imlek. Tentu saja korelasi ini bukan jawaban yang bisa masuk logika Anda, apalagi ilmiah.

Namun setidaknya Anda dan siapapun yang belum mendapatkan jawaban mengapa selalu ada hujan besar di tahun baru Imlek, memperoleh sedikit “pencerahan” dari mereka yang meyakini hikmah-hikmah di balik Imlek.

“Hujan itu pertanda rejeki. Jadi kalau pas Imlek hujan deras, itu melambangkan tahun depan banyak rejeki. Dan, memang biasanya setiap Imlek hampir selalu hujan sih, karena pasti musim hujan,” kata Olivia Kristie (27).

Christiani Haryono, warga Semarang yang seumur dengan Olivia menimpali, “Semakin deras hujannya, semakin banyak rejeki.”

Banyak yang memiliki pendapat seperti Olivia dan Cristiani, sehingga bolehlah kita tarik kesimpulan bahwa hujan besar dan malam tahun baru itu memang selalu berkaitan, bagai Anda dengan pasangan Anda.

Dan tentu saja ada maknanya, yaitu simbol rejeki. Semakin deras hujan turun, semakin besar rejeki yang bakal Anda peroleh.

Tetapi, prinsip ini mungkin tak berlaku untuk orang-orang di daerah langganan banjir seperti Kampung Melayu dan Cipulir di Jakarta.

Sudah pasti hujan deras malah membuat warga di daerah-daerah seperti ini was-was, jangan-jangan setelah itu banjir. Oleh karena itu, tak semua yang merayakan Imlek setuju dengan pendapat Olivia dan Christiani.

Salah satu yang tidak sependapat dengan kaitan hujan, rejeki dan Imlek itu adalah Mayasari Oey.

Perempuan jurnalis yang tinggal di daerah Kota, Jakarta Barat ini mengatakan tak ada makna apa-apa di balik derasnya hujan di malam tahun baru Imlek.

“Hujan hanya sebagai proses alam saja. Imlek itu tahun baru sistem kalender cina, tidak berbeda dengan tahun baru 1 Januari,” kata Mayasari.

Jodoh

Sementara Olivia, Christiani dan banyak orang keturunan Tiongkok merelasikan nasib dan peruntungan dengan shio dan jenis tahun, Mayasari juga tak mempercayai shio dan makna Tahun Kelinci pada Imlek kali ini.

“Setiap hari adalah hari baru. Harus lebih baik lagi setiap saat,” katanya.

Tahun Baru China yang jatuh pada Kamis esok (15/2) adalah tahun kelinci emas. Banyak yang bilang, tahun kelinci itu akan lebih tenang dari Tahun Macan alias tahun lalu.

Tak seperti Mayasari, Christiani Haryono, mempercayai makna setiap tahun.  Dia bahkan memperingatkan mereka yang sudah berkeluarga untuk berhati-hati akan adanya orang ketiga.

Selain itu, Christiani mengabarkan hal bagi mereka yang lagi jomlo dan menunggu dipersunting atau mempersunting seseorang. Mengapa? Karena tahu ini, sebut Christiani, adalah tahun yang baik untuk mencari jodoh.

“Bagi yang cari jodoh inilah saatnya. Bagi yang berkeluarga hati-hati pria idaman lain atau wanita idaman lain,” kata karyawati perusahaan leasing mobil di Semarang itu.

Dia juga membedah apa arti kelinci dalam bingkai tahun baru cina. “Kelinci juga hewan cerdik sehingga selalu ada solusi terbaik dari segala masalah. Tahun kelinci lebih tenang dari tahun macan,” katanya.   Dia sendiri berharap tahun ini dia mendapat banyak rejeki, pekerjaan baru yang mapan dan hubungan asmara.

Mudik

Sepeti juga lebaran dan natalan, imlek adalah juga menjadi momen untuk berkumpul dengan keluarga.

“Yang selau dilakukan saat Imlek adalah berkumpul dengan keluarga. Saya sendiri selalu mengusahakan mudik ke Pemalang,” kata Alfi Holiang.

Dara berusia 25 tahun itu bekerja di Yogyakarta. Tapi setiap Imlek tiba, dia pasti menyempatkan diri mudik ke kampung halamannya di Pemalang, Jawa Tengah.

Tak hanya Alfi, Mayasari dan hampir semua orang yang merayakan Imlek juga mudik untuk pulang kampung.

Mayasari mengatakan, imlek ini dia akan mengunjungi keluarga dari pihak ayah demi memberikan ucapan salam tahun baru Imlek atau “kiong hie” (dialek hokian yang kurang lebih berarti “gong xi” dalam dialek Mandarin).

Mayasari rupanya juga seorang yang saleh.  Buktinya, dia mengkritik tradisi sembahyang kepada leluhur yang dilakukan saat Imlek saja.

“Banyak yang berpikir Imlek itu dari persepsi yang kurang pas, seperti sembahyang leluhur hanya menjelang Imlek saja. Harusnya setiap hari sembahyang,” katanya.

Dia mengungkapkan Imlek adalah budaya dari Tiongkok yang biasanya dipertahankan oleh generasi awal keturunan Tiongkok. “Seperti kakek saya yang masih sangat menjiwai kampung halamannya di sana,” tambah Maya.

Olivia malah hampir tidak mengenal acara khusus selama Imlek, hanya tradisi makan malam bersama yang ada.

Olivia mengatakan neneknya sudah menganut Kristen sejak Olivia belum lahir, sehingga dia hanya mendengar kisah perayaan imlek keluarganya di masa lalu dari orang tuanya.

“Ketika dulu emak (nenek) belum masuk Kristen, setiap Imlek pasti diadakan sembahyang untuk para leluhur, lengkap dengan sesajian berbagai masakan kegemaran para leluhur,” kata perempuan bernama cina, Djwa Lie Fang itu.

Angpau

Imlek juga identik dengan angpau, yaitu uang yang dimasukan ke amplop merah dan dibagi-bagikan sebagai hadiah Imlek.

Mereka yang menerima angpau adalah anak-anak dan orang yang belum menikah, karena dalam tradisi cina mereka yang sudah menikah saja yang boleh memberi angpau, sementara yang lajang dilarang memberi angpau.

Sementara, meski sudah bekerja, orang yang belum menikah tetap berhak memperoleh angpau.

“Yang muda dapat angpau dari yang lebih tua dan sudah menikah,” kata Maya.  Ah dia juga masih lajang lho.

Christiani dan Alfi juga mengaku masih mendapat angpau karena mereka berdua memang belum menikah. Tapi Olivia sudah tidak lagi berhak mendapatkan angpau. Gara-garanya dia sudah bekerja.

“Dulu waktu masih kecil selalu dapat angpau, tapi begitu sudah besar dan kerja, sudah tidak dikasih lagi,” kata perempuan pemilik toko mebel di Temanggung itu.

Omong-omong soal berkumpul dengan keluarga, seperti pada tradisi besar lainnya, tidak lengkap rasanya bila tidak ada hidangan untuk disantap bersama.

Nah waktu Imlek, kue keranjang, manisan, jeruk, kue kura, moho, dan sambel goreng, hampir selalu ada di setiap meja makan keluarga-keluarga yang merayakan Imlek.

“Rebung cah, hoisem (teripang), berbagai jenis daging babi kecap, ada belasan sayur biasanya di keluarga saya,” kata Mayasari.

Biasanya semua makanan yang disajikan berbahan dasar ikan.

Nah mengenai mengapa unsur ikan pada hampir setiap makanan yang disajikan saat merayakan Imlek, Olivia punya penjelasan menarik.

“Dalam bahasa Mandarin ikan itu disebut ‘yu’ yang bunyinya hampir sama dengan kata Mandarin untuk ‘giok’ dan ‘berlebih. Jadi disajikannya ikan dalam hidangan imlek merupakan bentuk pengharapan agar di tahun depan rejeki tidak akan kekurangan, bahkan berlebih,” demikian Olivia.

Gong Xi Fa Chai (*)

 

 

 

Posted in: berita 4