Usia terbilang muda, masih 43 tahun, sehingga tidak terduga Ajie Massaid berpulang ke rahmatullah

Posted on February 5, 2011

2


Yach..kalau menyangkut urusan takdir, apa yang tidak disangka-sangka bisa terjadi. Kalau melihat penampilannya yang senantiasa prima dan tubuh terlihat segar bugar, namun jika kehendak Allah  SWT terjadi, ya..terjadilah. Mungkin sebagai pengingat kita, agar senantiasa tetap sadar diri, karena tidak pandang bulu, tidak perduli usia berapapun, kalau Allah SWT berkehendak, terjadi..terjadilah..memang benar..jodoh, mati, semua urusan Allah SWT.
==============
Firasat Penjual Bunga Sebelum Adjie Wafat
Yanto tidak menyangka pertemuannya dengan Adjie adalah yang terakhir.
SABTU, 5 FEBRUARI 2011, 12:12 WIB

Irina Damayanti, Sandy Adam Mahaputra

Adjie Massaid

VIVAnews – Jenazah Adjie Massaid direncanakan untuk dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta, siang ini, di Blok AAI. Lokasi liang kubur mendiang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) itu juga tidak jauh dari almarhum sang ayah, Raden Panji Suyono Tjondroadiningrat yang hanya berjarak kurang lebih 300 meter.

Menurut keterangan pria penjual bunga bernama Yanto M, terakhir kali Adjie berziarah ke makam ayahnya, Kamis pagi lalu sekitar pukul 10.00 WIB dengan mengendarai motor Harley Davidson. Namun, hari itu, menurut Yanto ada yang berbeda dari sebelumnya.

Karena secara mengejutkan, tiba-tiba Adjie mengajak dirinya untuk menaiki motor Harley guna membawa kembang yang sudah dibelinya di kios milik Yanto.

“Tidak biasanya dia ngajak naik motor Harley. Hari itu tumben sekali dia mengajak sayaboncengan. Padahal, biasanya saya hanya disuruh mengantar bunga ke makam,” ujar Yanto saat ditemui VIVAnews.com di TPU Jeruk Purut, Jakarta, Sabtu 5 Februari 2011.

Yanto melanjutkan, saat itu Adjie juga menceritakan, dia baru saja mendapat jabatan baru. Tapi, bukan sebagai pemain sinetron atau politisi.

“Saya baru naik jabatan lagi Pak. Pokoknya di atas PSSI lah,” kenang Yanto menirukan ucapan Adjie saat itu.

Selama berjualan kembang di sekitar lokasi pemakaman, Yanto mengetahui benar jadwal Adjie dan keluarganya untuk berziarah. “Biasanya Adjie selalu rajin berziarah bersama ibu dan istrinya, setiap seminggu sekali,” kata Yanto.

Pria penjual kembang ini mengaku sedih sekaligus tidak menyangka, sosok Adjie Massaid yang dikenalnya meninggal dunia secara mendadak. “Saya nggak menyangka. Padahal, hari Kamis lalu dia baru ziarah,” ujar pemilik toko kembang Natalia itu.

Saat ini, liang lahat pemakaman Adjie Massaid sudah dipersiapkan untuk dilakukan prosesi setelah sholat Dzuhur. (art)

=====================

Jenazah Adjie Massaid Dimakamkan
Tampak mantan istri Adjie Massaid hadir di pemakaman.
SABTU, 5 FEBRUARI 2011, 13:07 WIB

Irina Damayanti, Gestina Rachmawati

Adjie Massaid

VIVAnews – Jenazah Adjie Massaid telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, sekitar pukul 12.40 WIB, Sabtu 5 Februari 2011. Para pelayat yang terdiri atas rekan-rekan dekat Adjie dari kalangan selebritas hingga politisi tampak memadati lokasi pemakaman.

Jenazah Adjie Massaid dimasukkan ke liang lahat sambil dibacakan doa-doa. Angelina Sondakh tak kuasa menahan kesedihannya dan berurai air mata sambil memeluk dan menggendong si kecil Keanu, hasil buah cintanya bersama Adjie Massaid.

Angelina Sondakh atau Angie, menatap pilu ke dalam liang kubur melepas kepergian suami tercintanya. Tampak pula mantan istri Adjie, Reza Artamevia di lokasi pemakaman dengan memapah kedua anak kandungnya Zahwa dan Aliyah.

Para rekan-rekan dekat Adjie yang hadir di pemakaman siang ini antara lain, Dede Yusuf, Tio Pakusadewo, Sarah Azhari, Sys NS, dan Rico Ceper. Eddy Baskoro Yudhoyono, putra bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun ikut melepas jasad Adjie ke liang kubur.

Setelah prosesi pemakaman dilakukan, mantan Menteri Kehakiman, Oetoyo Usman memberikan sambutan mewakili pihak keluarga. (art)

• VIVAnews

===============

Angelina Sondakh Pingsan di Depan Tifatul
Istri almarhum Adjie Massaid tak kuasa menahan kesedihan mendalam.
SABTU, 5 FEBRUARI 2011, 10:48 WIB

Irina Damayanti, Gestina Rachmawati, Sandy Adam Mahaputra

Angelina Sondakh, Adjie Massaid (alm.), dan anak-anak mereka

VIVAnews – Para pejabat negara, kalangan artis hingga politisi hari ini memadati rumah duka mendiang Adjie Massaid di Kompleks Taman Cilandak II, Cilandak, Jakarta Selatan. Di antara mereka tampak Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) asal Partai PDIP, Pramono Anung.

Dalam akun Twitter pribadinya, Tifatul sempat mengatakan istri Adjie Massaid, Angelina Sondakh atau Angie, jatuh pingsan tepat di depannya.

Berikut isi Twitter Tifatul Sembiring: “Kami turut berduka…”, tiba2 mbak Anggie sdh gak kuat…jatuh. Sabar mbak, Selamat jalan Mas Adjie, orang baik dan kawan baik…

Dalam twitternya, Tifatul juga memberi info, jenazah akan disholatkan di Gedung DPR.“Jenazah akan dibawa dan disemayamkan di DPR, bagi yg ingin melayat dan sholat jenazah masih ada waktu, sebelum dikuburkan,” ucap Tifatul dalam akun Twitter-nya.

Sementara itu, kerabat Angie sibuk mencari tabung oksigen. Seorang pembantu rumah tangganya juga sempat bertanya kepada petugas Partai Demokrat untuk meminta tabung oksigen.

Namun, tidak lama kemudian Angie pun siuman dan sadar kembali. Ia masih tak kuasa menahan tangis sambil meratapi jenazah suami tercintanya. Saat berita ini diturunkan, menurut pengamatan VIVAnews.com, dua mobil telah diberangkatkan menuju kawasan Gedung DPR RI.

Angie tampak menaiki mobil ambulans dan menemani jenazah suaminya yang berada dalam peti yang dilapisi bendera merah putih dan rangkaian bunga melati. Sementara itu, di mobil lain, berisi kerabat dan keluarga almarhum.

Sebelum jenazah diberangkatkan, Angie dan tiga anaknya, Zahwa, Aliyah dan Keanu harus melakukan ritual menerobos kolong peti, saat peti dalam keadaan dipanggul. Terlihat pula seorang pria yang melakukan ritual memecahkan piring dan genteng.

Sementara itu, Pramono Anung yang juga melayat di kediaman Adjie Massaid dalam akunTwitter-nya mengatakan,“Selesai melayat Adjie Massaid, rasa haru sangat terasa. Almarhum semalam masih main Futsal & nonton sepakbola Alumni ITB vs Trisakti. Kehilangan dan berduka cita atas meninggalnya Sahabat Adjie Massaid, semoga almarhum diterima disisiNYA.”(art)

==============

Adjie Massaid di Mata Angelina Sondakh
Penulis:  | Editor: Egidius Patnistik
Blog Agelina Sondakh
Salah satu foto dari blog Angelina Sondakh.

 

JAKARTA, KOMPAS.com — Angelina Sondakh, Puteri Indonesia 2001 yang menjadi istri almarhum Adjie Massaid, menyimpan kenangan indah tentang politisi Partai Demokrat yang meninggal, Sabtu (5/2/2011). Semula, Adjie yang naksir pada Angelina, begitulah tertulis pada diarinya. Beberapa kali Adjie mengirim salam. Namun, Angelina Sondakh selalu berusaha tidak meresponsnya.

Angelina Sondakh merasa Adjie Massaid tipe lelaki yang berbaik hati kepada semua orang. Berikut ini adalah catatan Angelina Sondakh di blog-nya tentang suaminya itu, tertanggal 25 Januari 2006, sekitar setahun setelah mereka menikah, sebagaimana dikutip Tribunnews.com, Sabtu.

ADJI MASSAID (The man I once ignored). Aku mengenal nama Adji Massaid sudah cukup lama. Namanya memang sudah tidak asing lagi dalam dunia perfilman dan persinetronan. Namun itu hanya sebatas mengenal dan sekedar tahu saja. Pada saat itu kami sama-sama masih menjadi calon legeslatif dari Partai Demokrat. Pertemuan partai, rapat – rapat partai dan kegiatan – kegiatan di partai membuat kami pun sering bertemu. Apalagi pada kesempatan mensukseskan calon Presiden Partai Demokrat : Susilo Bambang Yudhoyono.

Jujur, saat itu aku tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadi Adji dan lebih daripada itu rasanya kami berdua pun tidak tertarik untuk ingin mengenal satu sama lain lebih jauh. Pembicaraan kami hanya sebatas pekerjaan, tidak pernah melewati batas privasi masing – masing. Rasanya kami berdua cukup memahami posisi masing – masing, sehingga kalaupun harus berbicara pasti topiknya tidak lari dari partai dan pemenangan pemilu.

Sebenarnya latar belakang public figure-lah yang membawa kami bergabung di Partai Demokrat (kami diajak oleh Sys NS untuk bergabung di PD, thank you mas Sys). Kami juga tergolong generasi muda. Dan sebenarnya, inilah yang bisa menjadi alasan rasional untuk membangun komunikasi diantara kami. Tapi entahlah …. saat itu saya sibuk dengan aktifitas sehari-hari dan dia juga sepertinya begitu. Yang pasti, pertama kali mengenal Adji kami berdua sedang tidak sendiri. Saya pada waktu itu sedang merajut asmara dengan seseorang begitupun Adji yang masih terikat perkawinan. Kami pun menghargai pasangan kami masing2.

Hari – hari di DPR saya lalui dengan penuh semangat ingin belajar dan belajar. Saya mulai menikmati ritme kerja yang benar-benar baru bagi saya. Dalam jadwal saya yang padat di gedung parlemen, sering saya bertemu dengan Adji namun itu sebatas, “say hello” saja. Pernah kami tidak sengaja bertemu di ruangan kerja salah satu teman fraksi, saat itu Adji sempat mengajak saya berdiskusi soal apa pendapat masyarakat tentang permasalahannya. Tapi saya enggan berkomentar terlalu banyak. Setelah saya beranjak dari ruangan tersebut ternyata Adji menitipkan pesan untuk disampaikan kepada saya bahwa dia tertarik dengan saya. Itupun saya tidak menanggapi secara serius tapi saya tanggapi secara ringan dengan memberikan support kepada Adji untuk tetap bertahan walau seberat apapun permasalahannya.

Walaupun demikian saat itu tidak ada perasaan yang ‘lain’ yang saya rasakan dan memang kamipun akhirnya berada dalam komisi yang berbeda. Ini jugalah yang membuat kami jarang sekali bertemu dan jarang berkomunikasi. Kami hanya bertemu pada rapat fraksi setiap jumat dan itu pun minim sekali interaksinya. Dia selalu duduk di sayap barat dan saya di sayap timur. Nothing special. Dia kuanggap sebagai teman biasa saja. Nothing more. Bukan Adji namanya kalau tidak terus mencoba dan mencoba. Sering aku dikirimi salam melalui orang-orang yang tinggal bersama saya.

“Ibu, ada salam dari Pak Adji’ tutur pembantu saya.

Namun aku selalu mengabaikannya. Bahkan terkadang walaupun ada ‘godaan-godaan’ kecil, itu selalu kuanggap ‘dasar laki-laki’. Pernah juga Adji memanggil nama saya lewat speaker sidang …. Angie! Dengan tatapannya yang ‘romantis semu’ namun saya pada waktu itu masih bisa menyakinkan diri saya bahwa itulah Adji. He is treating every woman like that because he is nice to everybody. Saya hanya tidak ingin menanggapi mas Adji serius, walaupun terkadang ketika bertemu dia selalu memberikan pujian….sekali lagi itu kuanggap sebagai basa – basi saja and Yes he is doing it to everybody. Pernah juga Adji menyampaikan kekagumannya pada saya lewat teman se-partai, pada waktu itu saya hanya menanggapi dengan kata-kata: ‘kayak nggak tahu Adji aja’. Tapi saya tetap menganggap Adji sebagai sahabat dan itu tidak mengurangi rasa persahabatan saya dengan dia dalam konteks kepentingan partai tentunnya.

Setelah beberapa waktu lamanya, sayapun akhirnya sendiri dan Adjipun sepertinya mulai menikmati kesendiriannya. Walaupun saya selalu mendengar bahwa Adji tidak pernah benar – benar sendiri, karena Adji adalah tipe orang yang easy going dan ingin bersahabat dengan siapa saja. Pernah suatu waktu dalam pertemuan partai seorang teman mengatakan: ‘Angie, Adji kirim salam ….. kayaknya dia naksir sama kamu’. Terus saya jawab dengan bergurau: “Keep trying hard, I need to see more effort”. Karena berbagai kesibukan, kami pun semakin jarang berkomunkasi. Namun tetap saja Adji selalu kirim salam melalui staff saya. Dan itupun saya tidak membalas salamnya, karena saya menganggap itu adalah gombalnya laki-laki. Yaah…itulah yang ada dibenak saya pada waktu itu : Adji termasuk laki-laki yang baik ke semua orang. Jadi biarlah aku menganggap semua itu sebagai angin lalu saja. Dan dalam hatiku …… Gombal.

Saya selalu menghindar dari Adji dalam setiap kesempatan. Bahkan pada setiap kunjungan partai ke daerah, saya selalu menanyakan asisten saya, apakah Adji ikut dalam rombongan. Dan saya pesankan, kalau ada, tolong diusahakan agar seat saya terpisah dengan Adji. Sebagaimana foto yang saya tampilkan dalam webblogs ini. Mungkin dapat bercerita banyak tentang penolakan saya terhadap Adji. Tapi semua itu akhirnya luluh lantah………

===============

Adjie Massaid Meninggal Usai Main Futsal
Penulis:  | Editor: Egidius Patnistik
Sabtu, 5 Februari 2011 | 04:32 WIB
Kompas/Agus SusantoAdjie Massaid

JAKARTA, KOMPAS.com Politisi muda Partai Demokrat yang juga anggota Komisi V DPR RI, Raden Pandji Chandra Pratomo Samiadji Massaid atau populer dengan panggilan Adjie Massaid, meninggal di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu (5/2/2011) dini hari.

“Kami semua staf Ibu Angie (Angelina Sondakh, istri Adjie Massaid) sangat terkejut dan terpukul mendengar kabar ini,” kata Ayob, Staf Sekretariat Angelina Sondakh di Komisi IX DPR RI, sebagaimana dikutip Antara, beberapa saat setelah peristiwa itu terjadi. Hal senada juga diutarakan Franky Sondakh, kakak kandung Angelina Sondakh (saudara ipar Adjie Massaid) yang tak bisa berkata banyak. “Peristiwanya begitu cepat dan kami semua masih belum percaya ini terjadi,” kata Ridhwan, Staf Bidang Media Angelina Sondakh.

Dari beberapa informasi yang diperoleh, Adjie Massaid meninggal setelah bermain futsal, salah satu olahraga kegemarannya. “Beliau itu gemar berolahraga. Makanya tidak menyangka jadi begini,” kata Ayob.

Adjie meninggal dalam usia 43 tahun. Suami model dan mantan Putri Indonesia, Angelina Sondakh, ini lahir pada 7 Agustus 1967 di Jakarta. Adjie telah dua kali terpilih sebagai anggota DPR RI, yakni pada 2004-2009 dan kini 2009-2014.

Dari istri pertamanya, penyanyi Reza Artamevia, dia dikaruniai dua anak. Mereka bercerai tahun 2005. Setelahnya Adjie meminang Angelina Sondakh yang juga anggota DPR RI dari Partai Demokrat. Mereka menikah pada 29 April 2009 dan kini punya seorang putra.

Belum jelas bagi pihak keluarga, apa penyebab meninggalnya Adjie Massaid. Namun, Ketua Fraksi Partai Demokrat Jafar Hafsah kepada pers menyatakan, anak buahnya itu mengeluh sakit tadi malam. “Yang jelas, partai kami kehilangan seorang kader dan politisi muda yang tangguh,” ujarnya.

Menurut rencana pihak keluarga, jenazah Adjie Massaid akan disemayamkan di rumah duka di Taman Cilandak, Jakarta Selatan.

 

Posted in: artis 3