Bicara seks, diskusi tentang orgasme sangat dinginkan dan sangat dominan dibicarakan, namun bagaimana dengan efek samping obat pemicu orgasme

Posted on February 23, 2011

0


Kita akui bahwa pasangan suami isteri senantiasa bicara tentang orgasme. Itulah yang menjadi tujuan suatu hubungan intim dan andaikata tidak tercapai berbagai permasalahanpun bisa muncul. Bagi pria dan wanita yang bermasalah dengan orgasme, berbagai obat dicoba untuk digunakan. Namun, bagaimana dengan efek sampingnya.

Obat Orgasme Pembawa Malapetaka
Seorang wanita sampai harus menjalani penanaman alat pemicu orgasme.
Rabu, 23 Februari 2011, 01:48 WIB

Siswanto, Febry Abbdinnah

viagra

VIVAnews – Apakah Anda termasuk seorang wanita yang mengonsumsi obat penambah kenikmatan bercinta? Jika iya, pikir beribu-ribu kali untuk menggunakannya kembali. Pasalnya, film dokumentasi dari Orgasm, Inc. mengungkapkan fakta mencengangkan mengenai efek samping obat ini.

Film ini merekam pengalaman buruk Charletta, seorang wanita yang harus menjalani operasi penanaman orgasmatron usai mengonsumsi obat penambah gairah. Ini adalah alat pemicu orgasme bagi wanita yang bekerja melalui rangsangan pada lutut kiri, seperti dikutip dari TIME.

Charletta telah didiagnosis dokter mengidap Female Sexual Dysfunction (FSD). FSD adalah kelainan seksual pada wanita yang tidak dapat merasakan kenikmatan bercinta atau bahkan tidak memiliki keinginan untuk melakukan hubungan seksual.

Menurut Liz Canner, pembuat film dokumeter pada Orgasm, Inc., produsen obat penambah gairah sewajarnya ikut bertanggung jawab terhadap kasus semacam Charletta. Ia khawatir, maraknya produsen obat peningkat gairah akan menambah daftar panjang kasus kelainan seksual.

Dalam pembuatan film dokumentasi itu, Liz Canner mengajak produsen obat, dokter, pembuat film-film erotis, hingga wanita biasa untuk membuktikannya. Film ini kemudian mendapat tanggapan dari produsen obat Vivus, yang dengan tenang menyatakan produk mereka telah melalui pengujian serius.

Menanggapi hal itu, pada tahun 2003 Canner membuat artikel berjudul “The Making of a Disease: Female Sexual Dysfunction,” yang dimuat di British Medical Journal.

Canner menjelaskan cara produsen obat multinasional mulai membuat sebuah pertemuan pada akhir tahun 1990 dan menjelaskan definisi FSD sebagai kecemasan dan ketidakinginan wanita berhubungan seksual. Sebuah artikel pada Journal of the American Medical Association di tahun 1999 melaporkan bahwa 43% wanita menderita FSD.

Namun menurut pakar seks, Drs. Laura Berman, PhD, dan Jennifer Bremen, MD, produsen obat penambah gairah seksual adalah sekutu yang dapat membantu wanita dengan FSD.

Untuk mengampanyekannya, mereka membuat film yang menyebut mereka sebagai ‘The Face of FSD’ dan ditayangkan pada saluran TV kabel, termasuk saluran TV kabel milik Oprah Winfrey yang berjudul ‘In The Bedroom’. Untuk mengampanyekannya, mereka mendapatkan kompensasi sebesar US$75.000 per hari.

Memang belum ada obat yang dapat menangani FSD, tetapi justru efek samping promosi yang dilakukan produsen obat sudah terjadi.

Pada film yang dibuat Canner, terdapat salah seorang mahasiswa yang melakukan operasi peremajaan vagina untuk dapat merasakan orgasme, namun yang terjadi justru mengalami pendarahan pascaoperasi dan dilarikan ke ruang gawat darurat.

Orgasm, Inc. pada akhirnya menantang produsen obat dengan menyatakan bahwa upaya terbesar untuk menyembuhkan FSD adalah dengan pendidikan dan penyuluhan bahwa banyak wanita tidak bisa merasakan orgasme.

Dengan kata lain, mengobati FSD bukanlah dengan cara membuat wanita kecanduan pada obat atau bentuk medis lainnya yang hanya memberikan kebahagiaan semu, tetapi dengan cara merubah pola pikir lebih positif.

 

Posted in: seksualitas 2